Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2019

Pedagogi Dosa #3 "Ospek, Kekerasan dan Kaitannya dengan Pendidikan"

Gambar
[Seperti biasa di awal-awal semeter ganjil, media sosial mengekspose video-video yang berbau provokasi tentang ospek dan kegiatan sejenisnya. Seakan-akan kegiatan-kegiatan seperti itu mutlak untuk di justifikasi sebagai aksi yang salah untuk dilakukan. Mereka yang tidak setuju cenderung mengutuk tindakan tersebut dengan hinaan dan cacian yang terang menuju panitia penyelenggara. Tidak salah, memang.. tidak salah.. Sekarang, saya akan mencoba berbagi perspektif dari pengalaman saya sebagai peserta ospek dan penyelenggara ospek, pun akan ku jabarkan beberapa asumsi penting tentang: Mengapa Ospek harus 'tetap' menjadi agenda tahunan untuk Kampus] Dulu, saat pertama kali masuk kampus, ketika kita seangkatan dikumpul untuk pemberitahuan tentang kegiatan orientasi, banyak yang gentar ketika akan berhadapan dengan senior. Semua proses dari yang baik sampai dengan yang keras harus di lewati. Seketika juga saya tidak suka dengan kegiatan-kegiatan ini, karena untukku saat itu...

Bulan Merana Jingga, Hingga Habis Darah Kesatria: Semiotik tentang arti Merdeka

Gambar
[Dulu waktu awal-awal belajar buat puisi, puisi yang sangat mempengaruhiku ketika membuat puisi adalah   kalimat yang menjadi judul tulisan ini (tidak termasuk sub-judulnya). Puisi ini karangan Jerinx SID, dan puisi ini pula yang interpretasinya ku berikan pada salah satu mantan kekasihku. Ya.. cinta pertamaku. Yang sampai saat ini   ku akui ‘dampak’nya terhadap diriku sangat besar. Dan karenanya, rasa hormatku padanya tetap ada walau saat ini kita tidak bersama lagi. Tetapi dengan segala drama-drama yang ada, tulisan ini hadir bukan untuk mengenang nostalgia masa lalu, melainkan sebagai reaksi atas kelirunya orang-orang dalam mengartikan merdeka sebagai kebebasan yang ‘tidak bebas’, serta terkesan menutup mata pada mereka yang merasa belum merdeka.] Ketika mendengar kata ‘Merdeka’ yang muncul di benak banyak orang adalah bebas. Hal ini dibuktikan dengan seringnya diksi merdeka ini di sandingkan dengan kebebasan. Jika tidak percaya, silakan tanya teman disamping anda...

Desember di Bulan Agustus

Gambar
Kendari, 11 Agustus 2019 [Setelah beberapa minggu absen nge-post, akhirnya hari ini ku putuskan untuk menerbitkan tulisan lagi. Sebenarnya ada beberapa keluhan yang ingin ku tuangkan pada tulisan ini. Mulai dari isu Kemenristek Dikti ingin mendatangkan rektor dari luar negeri untuk memimpin sebagian universitas di negeri fantasi ini, lalu tentang mahasiswa KKN yang tidak mampu membuat program kerja lapangan saat masa pengabdiannya hingga perdebatan dosen di jurusan terkait wacana Presiden untuk ‘ngimpor’ dosen dari luar negeri. Namun seperti perkataan ku yang sudah-sudah, selalu ada pengecualian untuk hal yang istimewa. Dan tulisan ini akan membahas tentang mereka yang istimewa bagiku. Btw, tengkyu Aldhyon. Tak sia-sia dirimu ikut pendidikan di kepolisian. Berkatmu kita akhirnya bisa berpose seperti di atas, wkwkwk] ‘Selalu ada.. Yang bernyanyi dan ber-elegi.. Di balik awan hitam..’ Ini adalah salah satu penggalan lirik ciptaan Efek Rumah Kaca yang untuk ku isinya...