Desember di Bulan Agustus
Kendari,
11 Agustus 2019
[Setelah
beberapa minggu absen nge-post, akhirnya hari ini ku putuskan untuk menerbitkan
tulisan lagi. Sebenarnya ada beberapa keluhan yang ingin ku tuangkan pada
tulisan ini. Mulai dari isu Kemenristek Dikti ingin mendatangkan rektor dari
luar negeri untuk memimpin sebagian universitas di negeri fantasi ini, lalu
tentang mahasiswa KKN yang tidak mampu membuat program kerja lapangan saat masa
pengabdiannya hingga perdebatan dosen di jurusan terkait wacana Presiden untuk ‘ngimpor’
dosen dari luar negeri. Namun seperti perkataan ku yang sudah-sudah, selalu ada
pengecualian untuk hal yang istimewa. Dan tulisan ini akan membahas tentang
mereka yang istimewa bagiku. Btw, tengkyu Aldhyon. Tak sia-sia dirimu ikut
pendidikan di kepolisian. Berkatmu kita akhirnya bisa berpose seperti di atas,
wkwkwk]
‘Selalu ada..
Yang bernyanyi dan ber-elegi..
Di
balik awan hitam..’
Ini
adalah salah satu penggalan lirik ciptaan Efek Rumah Kaca yang untuk ku isinya
tidak sesederhana tulisannya. Mungkin bagi mereka yang tidak punya minat
terhadap sastra, mendengar lirik ini dinyanyikan hanya terdengar seperti syair
asing yang terlihat keren untuk di jadikan caption instagram. Karena kata ‘elegi’
dan ‘awan hitam’ adalah kata yang jarang atau hampir tidak pernah digunakan
oleh seniman lain yang tema karyanya untuk ku terkesan monoton, pasaran dan sebenarnya
semua orang bisa membuat karya seperti itu. Tapi ini tidak berlaku untuk Efek
Rumah Kaca, atau setidaknya bagiku kesan seperti itu tidak pas jika di berikan
pada Efek Rumah Kaca.
Diriku
menangkap satire dari lirik tersebut yang ingin mereka katakan, bahwa akan
selalu ada perlawanan dan duka yang di hasilkan oleh tirani (baca: penindasan).
Hal ini cukup jelas dimana kata ‘yang bernyanyi’ mewakili tindakan kritik dan perlawanan,
‘ber-elegi’ yang merupakan bentuk baku Bahasa Indonesia untuk ungkapan duka
cita dan ‘di balik awan hitam’ sebagai analogi dari badai (penindasan). Tesis ini
singkron dengan fenomena yang sering terjadi di Republik ini, seperti Gerakan
Tolak Reklamasi di Bali, Aksi cor kaki Petani Kendeng hingga kasus Fidelis yang
berusaha menyelamatkan istrinya yang sakit dengan pengobatan dari ekstrak daun
ganja.
Lebih
lanjut, lagu ini menaruh harapan pada kebaikan yang menunggu di akhir
perjuangan. Tesis ini juga sesuai dengan syairnya yang mengatakan ‘Semoga ada
yang menerangi sisi gelap ini, menanti seperti pelangi, setia menunggu hujan
reda’, dimana kata ‘sisi gelap ini’ di ungkapkan sebagai gambaran sisi lain mereka
yang memperjuangkan nasib namun cenderung di matikan langkahnya oleh penguasa. Dan
syair ‘Seperti Pelangi, Setia menunggu Hujan Reda’ mewakili harapan bahwa diakhir
lakon ini menunggu kemenangan yang manis.
Ahh...
betapa megahnya sajak-sajak seperti itu. Ia mampu membuat pendengarnya berfantasi
dengan segala interpretasi yang bisa dicakup ke dalam sebuah pemikiran tentang
kebaikan bersama. Amat sangat di sayangkan bagi penikmat musik jika tidak mampu
menangkap kemewahan berimaji dalam sajak-sajak seperti ini. Namun kembali lagi
pada para pendengarnya, yang pasti diriku tidak akan memaksakan persepsi orang
lain untuk sama dengan persepsiku. Hanya saja untukku fungsi karya yang sesungguhnya
adalah ketika karya-karya itu mampu memperbaiki pandangan-pandangan keliru
tentang dunia objektif sehingga suatu karya bisa dikatakan sebagai karya seni. Jika kita berbicara tentang metodologi penelitian, ia
seperti penelitian yang menguatkan hipotesa awal tentang objek yang akan kau
teliti. Dan dari situ segala perkembangan pikiran akan termutakhir.
Sebenarnya
masih banyak lagi karya Efek Rumah Kaca yang ingin ku bahas, tapi dengan alasan
terlalu banyak untuk di tuliskan jadi jika ingin, kita luangkan lewat tukar
pikiran di warkop-warkop terdekat. Dan masih banyak lagi seniman-seniman hebat
yang sebenarnya ingin ku bagikan dalam tulisan tulisanku. Bagiku, mereka
seperti Machiavelli, Marx, Lenin, Kant dengan jalur perjuangan yang berbeda. Mungkin
ini hanya sekedar hipotesa, tapi kalo diliat secara semiotik, penampilan Efek
Rumah Kaca kemarin sempat membawakan lagu mereka yang berjudul Seperti Rahim Ibu.
Sangat kebetulan sekali dengan judul tulisan ini :)
Maya
Progresif, Antara Simpati dan tidak pada Ibu Pertiwi, Ku renungkan di depan
nisan Demokrasi..
Komentar
Posting Komentar