Bulan Merana Jingga, Hingga Habis Darah Kesatria: Semiotik tentang arti Merdeka
[Dulu
waktu awal-awal belajar buat puisi, puisi yang sangat mempengaruhiku ketika
membuat puisi adalah kalimat yang menjadi
judul tulisan ini (tidak termasuk sub-judulnya). Puisi ini karangan Jerinx SID,
dan puisi ini pula yang interpretasinya ku berikan pada salah satu mantan
kekasihku. Ya.. cinta pertamaku. Yang sampai saat ini ku akui ‘dampak’nya terhadap diriku sangat
besar. Dan karenanya, rasa hormatku padanya tetap ada walau saat ini kita tidak
bersama lagi. Tetapi dengan segala drama-drama yang ada, tulisan ini hadir
bukan untuk mengenang nostalgia masa lalu, melainkan sebagai reaksi atas
kelirunya orang-orang dalam mengartikan merdeka sebagai kebebasan yang ‘tidak
bebas’, serta terkesan menutup mata pada mereka yang merasa belum merdeka.]
Ketika
mendengar kata ‘Merdeka’ yang muncul di benak banyak orang adalah bebas. Hal ini
dibuktikan dengan seringnya diksi merdeka ini di sandingkan dengan kebebasan. Jika
tidak percaya, silakan tanya teman disamping anda tentang arti merdeka. Di kampus,
diriku sering mendapati teman-teman yang mengutarakan pendapatnya tentang
konotasi merdeka yang mereka pahami. Dan yang membuatku kesal adalah kesimpulan
bebas itu selalu di batasi oleh kebebasan orang lain. Menurutku, ketika
kebebasan itu sudah dibatasi oleh suatu hal, artinya ia tidak bebas,
terpenjara, terkungkung dan lain sebagainya. Pemaknaan kata merdeka mereka seakan-akan
tidak konsisten dengan dirinya sendiri. Atau lebih tepatnya, bebas versi mereka
adalah bebas yang naif, tidak tau diri, arogan dan belagak mampu berdiri
sendiri. Lucunya lagi, beberapa responden yang ku tanyai, penjelasannya sampai
masuk ke wilayah negara, aturan dan hak asasi manusia. Lho.. justru hak asasi
manusia menyatakan bahwa manusia itu tidak bisa di ikat oleh apapun. Karena tidak
bisa di ikat dengan apapun, maka manusia dikatakan memenuhi hak asasi
manusia-nya.
Sosialisme
itu memperjuangkan hak kaum proletar agar ia menjadi egaliter dengan segala
kelas yang ada. Ia ingin agar setiap proletar memiliki kebebasan untuk
menentukan nasibnya sendiri. Walaupun dengan metode yang tidak sejalan dengan
niatan perjuangannya sendiri, tapi ia mencita-citakan kesetaraan antar setiap
individu tanpa kesenjangan-kesenjangan yang lumrah terjadi. Disisi lain, Libertarian
sebagai anti-tesis dari Sosialisme Orthodoks juga menyatakan hal yang sejalan,
bahwa membatasi manusia adalah penghinaan yang dilakukan oleh negara (dalam
konteks negara). Dengan penjelasan-penjelasan di atas maka bisa disimpulkan
bahwa merdeka itu tidak dalam artian bebas. Jika disetarakan antara merdeka dan
bebas, kita tidak akan mendapatkan titik temu yang ideal.
Seperti
penggunaan kata sabar, bagi orang-orang yang ‘belum sadar’, sabar itu ada
batasnya. Kalo lagi emosi, ngomongnya ‘ingat sabar ada batasnya’. Nah, ini
keliru karena konotasi sabar adalah tahan atau menahan emosi yang berakibat
fatal. Kalo sabar ada batasnya yaa berarti tidak sabar, itu intinya. Jangan diplesetkan
diksi-diksi itu menjadi diksi yang tidak punya harga diri, pamali (suaminya
bumali).
Jadi,
apa arti merdeka yang sesungguhnya? Diriku sampai hari ini sepakat dengan tesis
Hegel yang menyatakan bahwa Merdeka itu bukan kebebasan, melainkan Penerimaan
secara sadar tentang kebaikan-kebaikan yang dihasilkan oleh nilai suatu sistem.
Artinya, merdeka itu adalah berserah diri untuk menerima kebaikan-kebaikan yang
dihasilkan oleh sebuah sistem (negara). Lebih lanjut, merdeka itu memberi ruang
untuk membela diri ketika keadaan sedang terjepit sekalipun. Dengan begitu
merdeka tidak bisa dibatasi oleh aturan, undang-undang bahkan oleh hak asasi
manusia sekalipun. Jika konteksnya melawan penjajah bagaimana? Sama seperrti
definisi diatas, ketika suatu negara menyatakan merdeka, artinya negara ingin menerima
dengan senang hati kebaikan-kebaikan yang terkandung didalam norma-norma dunia
tentang keinginan untuk berdiri sendiri dan menentukan nasibnya sendiri. Ia menolak
untuk menerima sistem yang ditawarkan oleh penjajah. Sehingga semua hal yang
berkaitan dengan kemerdekaan seharusnya dimulai dari bacaan. Bukan dari definisi Bhineka yang keliru mengakibatkan perpecahan yang menyebabkan Bulan Semakin Merana dan membuat Darah Kesatria terkuras habis demi terciptanya kedamaian sosial bagi seluruh rakyat. Karena cita-cita
Republik ini adalah ‘Mencerdaskan Kehidupan Bangsa’.
Komentar
Posting Komentar