Pedagogi Dosa #3 "Ospek, Kekerasan dan Kaitannya dengan Pendidikan"



[Seperti biasa di awal-awal semeter ganjil, media sosial mengekspose video-video yang berbau provokasi tentang ospek dan kegiatan sejenisnya. Seakan-akan kegiatan-kegiatan seperti itu mutlak untuk di justifikasi sebagai aksi yang salah untuk dilakukan. Mereka yang tidak setuju cenderung mengutuk tindakan tersebut dengan hinaan dan cacian yang terang menuju panitia penyelenggara. Tidak salah, memang.. tidak salah.. Sekarang, saya akan mencoba berbagi perspektif dari pengalaman saya sebagai peserta ospek dan penyelenggara ospek, pun akan ku jabarkan beberapa asumsi penting tentang: Mengapa Ospek harus 'tetap' menjadi agenda tahunan untuk Kampus]

Dulu, saat pertama kali masuk kampus, ketika kita seangkatan dikumpul untuk pemberitahuan tentang kegiatan orientasi, banyak yang gentar ketika akan berhadapan dengan senior. Semua proses dari yang baik sampai dengan yang keras harus di lewati. Seketika juga saya tidak suka dengan kegiatan-kegiatan ini, karena untukku saat itu, kekerasan, perpeloncoan, dan penggunaan atribut yang konyol sangat tidak substansial dan tidak ada korelasinya dengan keilmuan yang akan kita dapatkan di perkuliahan. Teriakan dengan nada tinggi yang keluar dari mulut mereka (yang memberi klaim sepihak bahwa diri mereka adalah senior) tanpa sebab yang jelas menambah gelitikan pada pikiranku yang mencoba menerka motif mereka melakukan itu semua; antara 'balas dendam' dan rasa ingin dipandang oleh generasi dibawahnya. Ku lewati semester pertama dan kedua dengan perasaaan dongkol, kesal namun lucu melihat (yang menurutku saat itu) pembodohan-pembodohan itu terjadi sampai akhirnya tiba saatnya diriku menggantikan posisi senior-seniorku di kelembagaan;

Suka-tidak suka, ketika kita berada ditempat yang lebih tinggi (sebagai senior) melihat adik-adik mahasiswa baru itu seperti melihat cerminan diri ketika kita baru masuk dulu. Mereka rebel, cengengesan, geol, bebas merdeka. Untukku secara pribadi, saya tidak peduli mau seperti apapun cara mereka mengekspresikan diri, entah mereka mau sopan di depanku atau tidak, mereka mau datang ke kampus sambil telanjang atau ngewe' di depan kantin pun selama mereka tidak menggangguku ku rasa itu sah-sah saja. Namun nyatanya, tidak semua orang memiliki kadar toleransi yang sama dengan ku. 
 
Beberapa kasus terjadi pada adik-adik tingkat yang 'beruntung' tidak dikenai ospek karena Surat Edaran Rektor yang isinya melarang semua kegiatan pra-kampus, yang tak bisa ku abadikan dengan layar ponsel seperti membanting pintu saat berselisih paham dengan dosen, menunggu chattingan pacar didekat pintu keluar kelas saat dosen masih mengajar, pura-pura bego' ketika melakukan kesalahan, kesalahan etika, dsb itu faktanya tidak bisa di tolerir oleh sebagian orang, terutama oleh sebagian dosen. Dan untuk pertama kalinya dalam 4 tahun perkuliahanku ada dosen yang mengeluh pada anggota salah satu Organisasi Eksekutif Mahasiswa di Fakultas tentang pesan singkat yang ia dapat dari salah satu mahasiswa/i yang isinya menyatakan keberatan dengan nilai yang diberikan.
 

 
Maksudku, sah-sah saja jika kau merasa tuntas pada satu mata kuliah. Mungkin dosen tersebut keliru memberi nilai. Tapi protes itu tidak melalui pesan singkat dengan bahasa dan intonasi yang berkonotasi 'melawan' seperti pesan singkat pada gambar di atas juga. 
 
Untukku kampus cukup merepresentasikan keadaan nyata diluar kampus. Ketika anda berhadapan dengan dosen, bagaimana memperlakukan orang lain, bagaimana memberi kritik pada sesuatu yang salah serta menjalin koneksi dengan banyak orang. Satu hal yang pasti itu semua tidak didapatkan saat kuliah. Melainkan melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti bakti sosial, orientasi pengenalan kampus serta kegiatan kegiatan sejenis yang menciptakan keakraban antar mahasiswa.

Tanpa kegiatan-kegiatan pengakraban, kampus hanya akan menjadi tempat untuk menunaikan kepentingan predikatif semata (kuliah). Tidak akan ada diskusi-diskusi kegiatan apa saja yang bisa dilakukan antara senior-junior di kelas-kelas, tidak akan ada perdebatan tentang Das Capital vs Wealth of Nation di pojok-pojok kantin atau tidak akan ada kajian-kajian kritis mengenai isu-isu terkini. Harus diakui kegiatan-kegiatan tersebut mampu mempertemukan mereka yang tidak mungkin bertemu. Sebagai contoh; anda bayangkan Fakultas Ekonomi Unhol yang letaknya dipinggir kawasan Universitas bisa duduk dan berkoalisi bersama dengan teman-teman dari Ilmu Kesehatan yang Fakultasnya juga berada disisi lain kawasan Universitas pada tahun 2017.
 
Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa telah terjadi kesenjangan antara harapan melanggengkan kreatifitas pelajar dan kenyataan perubahan jaman yang sangat berkiblat pada barat. Kampus yang seharusnya menjadi wadah pemikiran-pemikiran tercipta perlahan berubah menjadi pabrik alat produksi kepentingan individu semata. Kampus tidak lagi membuat manusia menjadi lebih manusiawi. Ia hanya sekedar mencetak lulusan-lulusan dengan gelar sebagai prestise nya agar hegemoni-hegemoni narsisme berkembang, yang mana seharusnya mahasiswa yang telah selesai mampu menerapkan tiga Tri Dharma Perguruan Tinggi ketika kembali dimasyarakat. Tanpa semua ini, semua dimulai dari Orientasi Pengenalan Kampus, terbukti membuat beberapa pihak mengeluh tentang mis-persepsi yang kacau ini. Diskusi saya dengan temanku Fadhil, menyimpulkan bahwa kekerasan (atau setidaknya pembinaan yang keras) itu adalah bagian dari pendidikan. Karena memperbaiki cari berpikir seseorang itu tidak segampang menuangkan air ke dalam gelas.

Jadi jika anda-anda masih mempermasalahkan tentang ospek dan mengeluh kan tentang metode yang dipakai, masuk lah ke dalam sistem. Masuklah ke dalam Lembaga-Lembaga Eksekutif itu, agar apa yang anda anggap salah bisa anda benarkan atau perbaiki. Anda berani memberi cacian karena anda tidak pernah berada diposisi malu karena kasus receh yang mereka buat. Jika anda memberi hinaan primitif, mental penjajah, primordial pada mereka dengan mengambil perbandingan pendidikan barat, maka kolot sekali pikiran anda, mencemooh dengan mempercayai bahwa pemikiran barat selalu memberi solusi pada kita yang 'terlambat' berpikir. Seakan-akan anda pernah mengalami kehidupan disana. Obsesi terhadap barat tidak selalu manjur di negara dunia ke-3.

Kenapa tidak rasa kritismu dipindah haluankan untuk mengkaji isu-isu fenomenal seperti pemindahan ibu kota, rasisme di papua atau Menristek mau mendatangkan Rektor asing dari Korea Selatan? Kenapa isu-isu receh seperti ini yang harus di’goreng’? Memang harus diakui, banyak memakan korban terkait perpeloncoan seperti ini. Saya juga tidak pernah sepakat jika itu harus memakan korban. Tapi coba lihat dan bandingkan dengan mereka yang lolos dari ujian-ujian seperti itu. Bukan berarti karena alasan seperti itu kegiatan tahunan ini harus dihentikan. Dosen-dosen anda di kampus, para jajaran Professor itu mencapai fase tertingginya tidak dengan melalui jalan yang lembut-lembut saja. Kekerasan, sakit hati, cacian yang membentuk mereka menjadi seperti sekarang. Jika hanya pendidikan yang keras seperti itu anda sudah mengeluh, apa kabar Skripsi? Tesis? Disertasi?

Walaupun tulisan ini nyatanya tidak mampu menjembatani 2 opini yang berbeda, apapun itu dan tujuannya pada akhirnya saya tidak peduli juga..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pedagogi Dosa #9: Ceteris Paribus (Ludens Yang Mempecundangi Kejujuran)

Pedagogi Dosa #11 Moral Hazard Dalam Baju Nasionalisme

Pedagogi Dosa #12: Collateral Damage dan Ketidakbergunaan Perang