Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Pedagogi Antagonis dan Dekonstruksi yang Tidak Bisa Di Pilih

Gambar
[Sudah seminggu sejak diriku menyelesaikan episode ke-10 House of The Dragon season pertama, dan masih belum bisa move on dari kekagumanku pada tulisan ‘tidak sempurna’ ciptaan seorang manusia bernama George Raymond Richard Martin. Dan sempat menemukan konspirasi terakhir keluarga Targaryen yang telah ku jabarkan melalui akun twitterku beberapa jam yang lalu. Konspirasi yang menyeret nama Tyrion Lannister ke dalam rahasia terdalam dari keluarga yang paling lama berkuasa di dalam sejarah semesta Game of Thrones . Tetapi, tulisan ini tidak akan membahas konspirasi itu. Tulisan ini hadir sebagai konsekuensi yang timbul dari momen ketika hadirnya kesimpulan ku yang baru terhadap karakter bertubuh cebol tersebut.] Manusia adalah makhluk yang baik, kata orang-orang yang selalu berbinar matanya ketika berbicara tentang prestise dan hal-hal yang heroik. Kemarin liat postingan foto temanku, Ayub di Facebook sambil mengepalkan tangan setara dada dengan caption yang penuh harapan. Redaksi ...

Bring Me The Horizon: Tribut Untuk Dua Belas Tahun Yang Luar Biasa

Gambar
  Kendari, 22 Juli 2022 [Dua belas tahun yang lalu saat Facebook menjadi media sosial yang eksklusif dan Twitter masih menjadi satu-satunya kompetitor Facebook yang signifikan mungkin menjadi masa-masa yang paling ku rindukan. Segala bentuk percobaan kehidupan ku terjadi pada masa itu; rokok, alkohol, bolos sekolah, melawan guru, kena skors, clubbing, dikejar polisi, ditangkap polisi, streaming tube-tube an, pacaran, ciuman pertama, dan beberapa hal yang tidak akan ku sebutkan disini. Dan masa itu adalah masa dimana transisi pengembangan musik ku dari musik Punk ala Superman Is Dead, Green Day, Rocket Rockers, dan Marjinal berubah haluan ke musik-musik emo, post-hardcore, dan metalcore macam Asking Alexandria, I See Stars, Attack Attack!, Bullet For My Valentine, Trivium, dan tentu saja Bring Me The Horizon (BMTH).] Kenal BMTH pertama kali saat teman ku, Wandi, yang saat itu kebetulan menjadi bassist di Band ku memintaku untuk mengulik Chelsea Smile sebagai bahan latihan k...

Satu Dari Sekian Tenggang Rasa di atas Pertiwi

Gambar
 Kendari, 25 Juni 2022 [Tahun 1994.. Jika diriku bisa memilih tahun lahir, akan ku pilih tahun 1994. Ada tiga film hebat yang lahir di tahun itu: The Shawshank Redemption , Forest Gump , dan Pulp Fiction .] Jika kau penggemar film garapan Quentin Tarantino, kau akan menyadari pola-pola yang diterapkan doi dalam setiap filmnya yang menggunakan beberapa cerita berbeda dalam satu film dan menggabungkan semuanya di akhir cerita keseluruhannya. Seperti Pulp Fiction (1994), yang mana scene pertama di film ini ‘ternyata’ adalah penutup ceritanya. Atau seperti Once Upon a Time in Hollywood (2019), dimana tiga pemain utama film ini: Rick Dalton (Leonardo Di Caprio) dan Cliff Booth (Brad Pitt) baru mengadakan kontak pertama kali di beberapa detik sebelum film berakhir dengan Sharon Tate (Margot Robbie). Sebenarnya masih ada satu contoh film lagi yang punya pola sejenis, juga disutradarai oleh Quentin Tarantino, Inglourious Basterds (2009), dimainkan oleh satu-satunya aktor Austria yang...