Pedagogi Antagonis dan Dekonstruksi yang Tidak Bisa Di Pilih
[Sudah seminggu sejak diriku menyelesaikan episode ke-10 House of The Dragon season pertama, dan masih belum bisa move on dari kekagumanku pada tulisan ‘tidak sempurna’ ciptaan seorang manusia bernama George Raymond Richard Martin. Dan sempat menemukan konspirasi terakhir keluarga Targaryen yang telah ku jabarkan melalui akun twitterku beberapa jam yang lalu. Konspirasi yang menyeret nama Tyrion Lannister ke dalam rahasia terdalam dari keluarga yang paling lama berkuasa di dalam sejarah semesta Game of Thrones. Tetapi, tulisan ini tidak akan membahas konspirasi itu. Tulisan ini hadir sebagai konsekuensi yang timbul dari momen ketika hadirnya kesimpulan ku yang baru terhadap karakter bertubuh cebol tersebut.]
Manusia adalah makhluk yang baik, kata orang-orang yang selalu berbinar matanya ketika berbicara tentang prestise dan hal-hal yang heroik. Kemarin liat postingan foto temanku, Ayub di Facebook sambil mengepalkan tangan setara dada dengan caption yang penuh harapan. Redaksi kalimat yang sangat disukai oleh orang-orang yang membacanya. Dibuktikan dengan dukungan-dukungan positif yang terlihat dikolom komentarnya. Dan sepertinya, itulah kesimpulan penonton ketika melihat karakter seorang Tyrion Lannister. Dengan segala kekurangan yang dimilikinya dia tetap berusaha untuk menjadi baik meski dunia mencaci, menghujat, dan menolaknya.
Di 4 season pertama Game of Thrones Tyrion diceritakan sebagai teladan yang baik. Ia berteman dengan Jon Snow yang dianggap anak haram oleh banyak orang, ia juga memberikan desain pelana untuk Bran Stark setelah kecelakaan agar dia bisa berkuda, dan ia juga bersimpati dengan banyak orang mengalami penderitaan yang sama dengannya. Menjadi anak yang tidak diinginkan, dihina, dipermalukan, dan dibenci. Tapi memang seperti itu gambaran karakter yang “ingin” dilihat banyak orang. Karakter yang disukai oleh penonton Game of Thrones.. ya?
Di novel, penggambaran watak Tyrion Lannister sangat berbeda dengan di series. George Martin berkata bahwa Tyrion adalah antagonis, villain. Di novel dia digambarkan lahir dengan wajah yang buruk rupa. Mata kanannya berwarna hijau dan mata kirinya berwarna hitam. Alih-alih mendapatkan luka gores yang keren saat perang melawan Stannis Baratheon, luka yang sebenarnya lebih besar daripada itu. Hidungnya terpotong, jadi tampangnya kurang lebih seperti Red Skull di Captain America: The First Avenger (2011).
Ada suatu plot di series yang menceritakan kalo Tyrion menang perang. Tywin, ayahnya, untuk pertama kalinya memberinya penghargaan untuk menggantikannya sementara sebagai ‘Tangan Kanan Raja’ di Istana. Seketika dia ingin membawa keadilan pada kerajaan. Sesampainya di Istana, dia langsung menyingkirkan pejabat korup, menyingkirkan penjilat, dan mempermalukan petinggi kerajaan yang munafik. Dia mengatur perdamaian antara keluarga Lannister dan keluarga Martel dengan mengirimkan salah satu anak Cersei untuk dinikahkan dengan anak mereka, memperbaiki kesalahan yang dilakukan Raja Joffrey, dan mengatur kesepakatan agar kakaknya, Jaime di bebaskan oleh keluarga Stark. Dia benar-benar menjadi penengah semua permasalahan kerajaan saat itu. Tindakan yang dia lakukan benar-benar mewujudkan hal-hal yang diagungkan oleh penonton tentang kebenaran yang sejati. Kebenaran yang harusnya dilakukan oleh semua karakter di Game of Thrones, kan?
Tapi bukan ‘Permainan Kekuasaan’ namanya jika berakhir bahagia. Tyrion tidak menyadari semua tindakan ‘baik’ dan kepahlawanannya hanya membuatnya menjadi musuh untuk semua orang. Semua manuver politiknya gagal membawa keseimbangan di Kerajaan. Mengirim anak Cersei ke Keluarga Martel hanya membuat mereka mengunakannya untuk melawan Keluarga Lannister, orang kepercayaannya untuk memperbaiki keadaan selama ini sebenarnya hanya bekerja untuk lawan politik Tyrion, kesepakatan dengan keluarga Stark gagal dan berakibat tangan kanan Jaime dipotong oleh anggota Night’s Watch yang membelot, dan dia sudah terlanjur menaruh amarah dengan semua orang di lingkungan kerajaan. Di sinilah dia menjadi antagonis/villain untuk Kerajaan. Tyrion kena tuduhan membunuh Raja Joffrey dan dijatuhi hukuman mati atas kejahatan yang tidak pernah dilakukannya.
Setelah menemukan konspirasi soal Tyrion dan Keluarga Targaryen kemarin, mencocok-cocokkan, menyambungkan semua pengetahuanku tentang Game of Thrones, diriku menyadari satu hal; bahwa kita terlahir ke dunia dan bebas untuk menjadi apa saja itu benar-benar omong kosong. Karena pada akhirnya hanya satu predikat yang bisa kita pakai sebagai jubah untuk menutupi seluruh badan-kemaluan, predikat Antagonis/Villain. Tidak peduli sebesar apapun usaha mu untuk berbuat kebaikan pada akhirnya akan ada yang harus kau korbankan. Dan jangan pernah berharap kau menjadi Protagonis/Hero dalam perspektif mereka yang kau korbankan. Eddard Stark mempertahankan kehormatannya dengan menjunjung tinggi kebenaran dan membuatnya berakhir dihukum pancung. Kepalanya di pamerkan dengan digantung diujung tombak di salah satu sudut Istana dalam waktu yang lama.
Machiavelli dalam bukunya Il Principe (Sang Penguasa) (1532) mengatakan: “Tindakan-tindakan dalam rangka melindungi negara, betapapun kejamnya, dapat dibenarkan”. Ia juga menambahkan bahwa: “Untuk seorang pemimpin, yang terpenting adalah yang ditakuti dan dicintai. Namun jika pemimpin tersebut tidak mendapatkan keduanya maka lebih baik ditakuti daripada dicintai”. Hebatnya, George Martin memasukkan unsur-unsur ini pada semua novelnya dengan penggambaran yang jelas dan gamblang. Lalu kemudian di adaptasi kedalam layar kaca. Menjadikannya sebagai penulis novel terbaik di dunia versiku melebihi kesuksesan J. K. Rowling dengan Harry Potter-nya.
Seperti kisah Tyrion Lannister dengan niat baiknya, yang dapat disimpulkan pada tulisan kali ini adalah tidak ada tokoh Protagonis/Hero di dunia nyata. Akan naif sekali untuk kita mendeskripsikan sesuatu yang benar dan sesuatu yang salah dengan moralitas fana yang telah dicita-citakan oleh peradaban ini sejak lama sekali. Karena faktanya akan selalu ada yang dikorbankan untuk mencapai sesuatu secara terus-menerus. Menurutku fenomena ini akan menjadi keadaan yang bersifat dekonstruktif (terjadi dan berubah secara alamiah) sehingga seperti apapun cara kau kabur dari ini kau tidak akan bisa menghindarinya. Tidak ada jalan tengah untuk mencapai itu dan tidak ada jalan pintas untuk mencapai tujuan dan mimpi-mimpi. Yang ada hanya upaya mengurangi risiko yang akan dikorbankan dalam proses menggapai tujuan tersebut.
Rocky Grunge pernah berkata: “Bagi orang kaya hidup adalah komedi, bagi orang miskin hidup adalah tragedi”. Dan Rowan Atkinson (Mr. Bean) menguatkan tesis ini dengan mengatakan: “Every joke has a victim. Someone or something or an idea is made to look ridiculous”.

Komentar
Posting Komentar