Satu Dari Sekian Tenggang Rasa di atas Pertiwi


 Kendari, 25 Juni 2022

[Tahun 1994.. Jika diriku bisa memilih tahun lahir, akan ku pilih tahun 1994. Ada tiga film hebat yang lahir di tahun itu: The Shawshank Redemption, Forest Gump, dan Pulp Fiction.]

Jika kau penggemar film garapan Quentin Tarantino, kau akan menyadari pola-pola yang diterapkan doi dalam setiap filmnya yang menggunakan beberapa cerita berbeda dalam satu film dan menggabungkan semuanya di akhir cerita keseluruhannya. Seperti Pulp Fiction (1994), yang mana scene pertama di film ini ‘ternyata’ adalah penutup ceritanya. Atau seperti Once Upon a Time in Hollywood (2019), dimana tiga pemain utama film ini: Rick Dalton (Leonardo Di Caprio) dan Cliff Booth (Brad Pitt) baru mengadakan kontak pertama kali di beberapa detik sebelum film berakhir dengan Sharon Tate (Margot Robbie). Sebenarnya masih ada satu contoh film lagi yang punya pola sejenis, juga disutradarai oleh Quentin Tarantino, Inglourious Basterds (2009), dimainkan oleh satu-satunya aktor Austria yang paling ku favoritkan, Christoph Waltz sebagai Kol. Hans Landa. Tapi karena keterbatasan paragaraf, ku rasa dua contoh sudah cukup.

Di twitter sedang ramai (lagi) keluhan tetangga yang melakukan hajatan dan dianggap sebagai gangguan bagi tetangga lainnya karena suara sound system yang berisik dan menutup akses jalanan umum. Mayoritas komentar yang keluar bersifat antipati terhadap keluhan ini. Keluhan ini dianggap tidak memahami tenggang rasa yang sudah menjadi budaya di atas pertiwi. Dan yang mengeluhkan hal ini juga di serang karena bagi sebagian orang hal ini menyinggung soal pendapatan ekonomi keluarga yang tidak mampu menyewa fasilitas tempat untuk melakukan hajatan yang proper. Memang pada nyatanya hidup tidak selalu berjalan sesuai ekspektasi. Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat yang beragam. Mitos-mitos yang sudah sangat melekat pada masyarakat beranjak menjadi sejenis norma baru yang tidak tertulis namun harus dipatuhi oleh semua anggotanya. Pun norma mempersekusi orang lain meningkat kastanya menjadi sejenis konsekuensi tenggang rasa pada yang mayor dan menutup mata pada yang minor sekalipun ia merasa terampas ketenangannya oleh kita. Yaa, kita.. yang paling yakin dan percaya Tuhan pasti memberkati setiap persekusi yang terjadi baik buruk maupun benar.

Kehidupan menjaga toko sepertinya mulai tidak cocok untukku. Seharian berjaga sebagai kasir, tujuh hari seminggu, dan empat belas jam kerja. Seperti cerita bapaknya Putri Tanjung yaa hahahaha. Yaa.. meski ini adalah toko sendiri tapi cukup membuatku mempertanyakan kembali mimpi-mimpi yang sedang ku kejar. Apakah ia bisa membuatku bertahan hidup? Ataukah ia sekadar mencoba untuk menjebakku dengan prestise? Well, masih ada lima bulan tenggat waktu untuk banting ‘kiri’ namun persiapannya membutuhkan waktu paling tidak empat bulan ditambah mengejar ketertinggalanku selama sebulan. Sepertinya ini benar-benar akan menjadi lima tahun paling berdarah-darah di hidupku hehehehe

Nasi Padang adalah makanan khas padang. Tentu.. makanya namanya Nasi Padang. Tiba-tiba ada seorang penjual Nasi Padang yang sepertinya non-muslim membuat terobosan usahanya dengan membuat Nasi Padang non-halal yang menggunakan daging babi sebagai pengganti daging sapi untuk rendangnya. Dari buzzer sampe manusia sekaliber Fadli Zon mengecam penjualan Nasi Padang non-halal ini. Hahahaha... tidak bermaksud ikut campur, hanya lucu saja melihat makanan pun menjadi suatu hal yang bisa memancing keributan. Gara-gara makanan orang jadi bisa mengintimidasi orang lain. Padahal muslim non-muslim juga disatukan oleh Nasi Padang. Maksudku sekalipun ada varian Nasi Padang non-halal, Restoran Sederhana tidak akan dicabut sertifikasi halalnya.

Kita sepakat pelaku pelecehan seksual harus dihukum seberat-beratnya. Cerita tentang apa yang di alami oleh Widy Vierra memang sangat mengerikan. Melihat gestur perilakunya di podcastnya Deddy Corbuzier benar-benar menyiratkan bahwa ia telah melalui sesuatu yang teramat buruk. Sangat disayangkan hal itu terjadi. Dan yang lebih disayangkan lagi adalah kita yang tidak pernah atau belum pernah mengalami pengalaman buruk seperti itu harus berbesar hati dan menerima bahwa kejadian seperti itu pasti akan terulang kembali, entah siapapun korbannya dikemudian hari. Memang mengesalkan jika kita membayangkan hal itu akan terjadi lagi pada orang lain, tapi siapa yang tau? Bisa saja pelaku-pelaku pelecehan ini ada disekitar kita, mungkin juga ia sedang duduk disamping kiri mu, kita tidak tahu. Satu hal yang bisa ku pastikan adalah, itulah dunia nyata. Kita hanya bisa berusaha untuk menghindari agar supaya kejadian semcam itu tidak terjadi pada kita atau orang-orang terdekat kita. Rowan Atkinson pernah berkata ‘Every joke has a victim. Someone or something or an idea is made to look ridiculous’, dan tidak tahu mengapa yang terlintas di kepalaku adalah ‘Every life has a victim, someone or something or an idea is made to be fucked up’.

Tenggang rasa adalah ide yang ditujukan untuk menjaga hubungan baik antar sesama. Dan akar dari hubungan yang baik tercipta dari perilaku yang baik pula. Terlepas dengan semua yang telah terjadi tenggang rasa hadir untuk menjaga konstalasi baik-buruk kehidupan menjadi seimbang. Namun semua ini tidak akan berguna selama orang-orang masih yakin akan masuk surga setelah mempersekusi atau mengeksploitasi korban pelecehan seksual melalui konten dengan dalih edukontol.

Dan seperti tema tulisan ini, memahami Tenggang Rasa itu seperti nonton film-filmnya Quentin Tarantino yang memberikan tenggang rasa secara signifikan serta mempengaruhi kesimpulan penontonnya, yang tidak bisa dipengaruhi pendapat-pendapat objektif tentang baik-buruk dan benar-salah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pedagogi Dosa #9: Ceteris Paribus (Ludens Yang Mempecundangi Kejujuran)

Pedagogi Dosa #11 Moral Hazard Dalam Baju Nasionalisme

Pedagogi Dosa #12: Collateral Damage dan Ketidakbergunaan Perang