Bring Me The Horizon: Tribut Untuk Dua Belas Tahun Yang Luar Biasa
Kendari, 22 Juli 2022
[Dua belas tahun yang lalu saat Facebook menjadi media sosial yang eksklusif dan Twitter masih menjadi satu-satunya kompetitor Facebook yang signifikan mungkin menjadi masa-masa yang paling ku rindukan. Segala bentuk percobaan kehidupan ku terjadi pada masa itu; rokok, alkohol, bolos sekolah, melawan guru, kena skors, clubbing, dikejar polisi, ditangkap polisi, streaming tube-tube an, pacaran, ciuman pertama, dan beberapa hal yang tidak akan ku sebutkan disini. Dan masa itu adalah masa dimana transisi pengembangan musik ku dari musik Punk ala Superman Is Dead, Green Day, Rocket Rockers, dan Marjinal berubah haluan ke musik-musik emo, post-hardcore, dan metalcore macam Asking Alexandria, I See Stars, Attack Attack!, Bullet For My Valentine, Trivium, dan tentu saja Bring Me The Horizon (BMTH).]
Kenal BMTH pertama kali saat teman ku, Wandi, yang saat itu kebetulan menjadi bassist di Band ku memintaku untuk mengulik Chelsea Smile sebagai bahan latihan karena dia mau memasukkan BMTH sebagai unsur yang mempengaruhi Band kami pada saat itu. Singkat cerita setelah latihan berkali-kali, diskusi yang panjang, dan gonta ganti gitaris kita memutuskan menghentikan project ini karena akhirnya kita menyadari menjadi musisi bukan cita-cita kita, dan idealisme Wandi untuk menjadi ‘edgy’ terlalu dalam hingga mempengaruhinya untuk tidak bergaul dengan teman-teman musisi lain.
Kembali pada Chelsea Smile, untuk ku lagu itu adalah gebrakan. Mungkin bisa ku katakan Chelsea Smile adalah lagu metal dengan baju yang berbeda. Lagu metal yang tidak memiliki banyak gitar solo namun tetap bernaung dengan payung metal. Meski personilnya berdandan layaknya anak emo, namun karya-karya mereka tidak merepresentasikan emo sama sekali. Menjadikannya band yang menurutku cukup berani mengekspresikan dirinya pada hal yang bukan tempatnya mengingat pengikut-pengikut aliran metal saat itu sangat anti dengan dandanan semacam itu.
Sejak saat itu lagu-lagu BMTH selalu menjadi top list diplaylistku. Saking addicted nya diriku dengan lagu-lagu BMTH, pernah suatu waktu dalam rangka memahami dan mengenal lebih dalam satu sama lain dengan pacarku saat itu, kita saling bertukar lagu. Ku kirimkan ia Pray for Plague dan Black and Blue dari album Count Your Blessings dan ia memberiku beberapa lagunya Hyuna dan Larc en Ciel, hahaha..
Semua juga tidak lepas dari kekagumanku pada Oliver Sykes. Sebagai anak kecil yang baru beranjak besar, melihat seorang Oliver Sykes waktu itu merupakan sesuatu yang luar biasa. Gaya dan penampilannya di atas panggung benar-benar mempengaruhi pemahamanku terhadap citra Metalcore. Hal yang pernah dicoba oleh Avenged Sevenfold namun tidak berhasil meredam hujatan dan stigma band anak labil. Postur kurus, penuh tato, selalu tampil pake tank top basket putih yang pada jaman itu masih hitungan jari orang berani berpakaian seperti itu untuk tampil sebagai band metal, atau lebih tepatnya dua orang; Oli dan almarhum Mitch Lucker, ex vokalis Suicide Silence. Bahkan karena stelan yang sama itu mereka selalu disebut sebagai kembar.
Dan sekarang, dua belas tahun berlalu.. diriku juga sudah bukan lagi anak kemarin sore yang baru mengenal musik. Meski mimpi jadi musisi belum terwujud (atau mungkin tidak akan terjadi), mengetahui Bring Me The Horizon yang sekarang melakukan ekspansi kemana-mana, berani featuring dengan Baby Metal, Tom Morello, sampai musisi sekonvensional Ed Sheeran membuatku terharu pada apa yang sudah mereka capai. Berganti genre tiap mengeluarkan singel/album dan tetap berhasil membius pendengarnya itu merupakan hal yang sangat tidak bisa dipandang remeh. Mungkin baru mereka saja yang berhasil melakukan itu. Band-band raksasa sejamannya saja seperti Asking Alexandria, Pierce the Veil, Eyes Set to Kill, sejauh pengetahuanku pun tidak berani melakukan hal yang sama.
Percaya dengan ku, orang-orang yang mengenal BMTH dari Drown, Mother Tongue, dan Can you feel my heart tidak akan menyangka kalo suara asli Oli yang menjadi jembatannya dikenal pecintanya di awal-awal adalah suara yang sama saat kau mendengarkan Medusa, Diamonds aren’t forever, dan It never ends.. membuatku sekali lagi merasakan apa yang ku rasakan dua belas tahun lalu saat pertama kali melihat penampilan mereka di yahoo! Music.
Berdasarkan data Spotify, dari Pray for Plagues ke Parasite Eve mereka berhasil mengumpulkan hingga 390 jutaan pendengar keseluruhan, atau meningkat sekitar 8 kali lipat dalam 11 tahun jika diukur dari checkpoint BMTH di album There is a hell believe me I’ve seen it, dan mengambil langkah baru di album Sempiternal.
Ludens dan Bohemian Rhapsody
Berbicara tentang mix genre ku rasa semua ingatan akan tertuju pada maha karya Freddie Mercury yang rilis nyaris setengah abad yang lalu. Dan untukku di antara banyaknya karya mix genre nya BMTH, Ludens adalah lagu yang mix genre nya paling bersih. Ludens berhasil menggabungkan semua aliran yang pernah dimainkan oleh BMTH seperti Metalcore, Electronik Pop, Alternatif Pop, dengan unsur Hip Hop dan EDM yang membuatnya layak dimainkan disaat berpesta namun tetap mengangkat tema dan kritik yang serius.
Ku rasa Oli mencoba menggabungkan party vibes yang glamor, fenomena industri hiburan yang banyak di kuasai oleh game console, dan filsafat psikologi. Yess.. filsafat psikologi. Tidak salah? Yess (again) sir! Coba ketik di mesin pencarimu artis mana yang pernah mengangkat Homo Ludens sebagai tema karyanya selain BMTH. WAW!! Untuk ku pribadi hal ini luar biasa sih. Oliver Sykes berhasil membongkar tesis ku yang percaya bahwa jaman sekarang tidak ada lagi seniman yang sejati.
Setiap hari kita dijejalkan oleh jutaan musik baru dari seluruh dunia yang minim substansi, kritik palsu, lirik ampas, dengan nada-nada yang receh dan selalu dipuja oleh penggemar-penggemar mereka yang minim imajinasi pula. Lagu-lagu remeh yang hanya booming sekali seumur hidup. Dan BMTH mengeksekusi Ludens dengan variasi yang pas di tiap detiknya. Setiap unsur yang terkandung di dalamnya sangat pas dan tidak berlebihan. Seperti hal nya Bohemian Rhapsody, Ludens tercipta dari beberapa jenis aliran musik yang berbeda namun di selesaikan dengan kadar dan kombinasi yang tepat sehingga tidak membuat pendengar sebelumnya meninggalkan mereka dan tetap mendapatkan pendengar baru. Maksudku seperti album Sempiternal, bisa dikatakan album itu meledak setidaknya dua kali dalam satu dekade terakhir. Pertama saat debutnya tahun 2013 dan yang kedua saat Can you feel my heart tranding di tiktok tahun 2021 kemarin.
Dan terakhir sebagai penutup, memetik pelajaran yang dapat diambil menurutku adalah adaptasi pada perubahan tidak selalu menjadi hal yang buruk. Seperti halnya konsep Homo Ludens yang menggambarkan manusia adalah pemain yang memainkan permainan, Bring Me The Horizon mencoba melakukan permainan baru yang diluar idealismenya. Bahkan dari situ pun hinaan tidak lepas dari Band yang dibentuk di Sheffield, Inggris delapan belas tahun yang lalu itu. Memang benar akan ada hal yang dikorbankan dalam hidup, tetapi dunia terlalu kejam untuk idealisme yang fanatis.
I am the ocean, I am the sea.. There is the world, inside of me..
Crucify Me, Bring Me The Horizon~

Komentar
Posting Komentar