Pedagogi Dosa #9: Ceteris Paribus (Ludens Yang Mempecundangi Kejujuran)

 

Kendari, 29 Juli 2024

[Joki skripsi sedang menjadi pembicaraan hangat di media sosial. Beberapa postingan Abigail Limuria terkait keresahannya pada pelaku joki karya tulis ilmiah viral dan dibahas ditiap portal berita saat ini. Sebuah tren yang langka dari banyaknya penyimpangan-penyimpangan sosial yang terjadi dan menyebabkan munculnya pertanyaan-pertanyaan basi seperti: Mengapa viralnya baru sekarang? Mengapa baru dipermasalahkan? Mengapa tidak aturan yang spesifik terkait permasalahan ini? dsb. Mengingat pelaku-pelaku joki ini telah ada dari masa ke masa, membuatku kembali mengenang saat-saat yang paling menyebalkan saat tulisanku, yang ku tulis sendiri, yang ku riset sendiri, yang ku pikirkan sendiri, kalah dengan tulisan palsu dari hasil riset yang palsu dan ditulis oleh orang yang tidak terlibat dari proses belajar-mengajar di tempatku belajar. Menjengkelkan? Pastinya.. namun diriku bisa apa? Protes? Hahaha.. akan ku berikan rasa hormat setinggi-tingginya bagi mereka yang mampu memperbaiki sistem yang sudah prematur dari lahir ini.

So far, saya tidak akan meluapkan sentimen pribadiku pada esai ini, namun menurutku terdapat kesamaan konsekuensi yang pasti antara sentimenku dan fenomena joki skripsi ini, yakni: “Kejujuran akan kalah dari peradaban”]

Bagian I

Homo Ludens

Ludens.. Istilah ini pertama kali ku dengar dalam sebuah tulisan saat masih S1. Sayangnya saat itu belum muncul ketertarikanku untuk menguliknya. Dengar istilah ini lagi di tahun 2019 saat Bring Me The Horizon meluncurkan singel berjudul “Ludens” dan bertanya-tanya mengapa Oliver Sykes menyamakan kedudukan diksi “Ludens” dengan diksi “Leader” dalam lagu tersebut. Dan risetku menemukan bahwa istilah “Ludens” merujuk pada sebuah buku dengan judul Homo Ludens (Manusia yang Bermain) karya Johan Huizinga yang terbit ditahun 1938. Huizinga mendeskripsikan bermain sebagai ‘Gejala alam yang mendahului kebudayaan’. Alasannya, karena gejala ini juga ditemukan dalam perilaku binatang. Contoh: burung yang bernyayi dan menari, kucing yang kejar-kejaran dengan kucing lainnya, lumba-lumba yang meloncat ke udara, dsb.

Belum ku temukan definisi pasti dari “Ludens” namun risetku menemukan diksi ini selalu dikaitkan dengan sesuatu yang bermain, misalnya Deus Ludens (Tuhan yang bermain), atau Homo Ludens (Manusia yang bermain).

Lebih daripada itu, beberapa seniorku semasa kuliah dulu selalu mendeskripsikan politik praktis sebagai “kumpulan permainan” yang dilakukan agar suatu tujuan dapat tercapai. Sayangnya, proses dalam mencapai tujuan ini memiliki proses dinamis. Intirik dan rayu dipergunakan sebagai instrumen yang memuluskan jalan mencapai tujuan tersebut. Dan “hasil” selalu buta tentang salah-benar dalam suatu permainan.

Ku rasa itulah alasan mengapa kekecewaan selalu muncul pada pihak yang kalah. Karena mereka yang kalah sebenarnya kalah dari permainan-permainan yang dimainkan oleh lawan main mereka sendiri. Dan biasanya yang kalah akan mencari pembenaran dengan mengatakan lawan mainnya curang, tidak memenuhi syarat, pake cheat code, dll. Beberapa riset ku tentang Ludens juga menemukan bahwa Homo Ludens di deskripsikan sebagai sebuah konsep yang memahami bahwa manusia merupakan seorang pemain yang memainkan permainan.

Hal ini dibuktikan dengan setiap kebudayaan memperlihatkan manusia sebagai pemain secara eksplisit. Huizinga menolak anggapan jika bermain hanyalah suatu jenjang dalam proses pertumbuhan manusia. Ia menambahkan jika bermain adalah unsur permanen di segala jenjang hidup manusia bahkan meresapi dan meramaikan bidang-bidang kebudayaan lainnya termasuk andil agama, politik, hukum, bisnis, seni, sastra, dll di dalamnya. Konsep Homo Ludens sendiri merupakan sebuah fenomena budaya, namun konsep tentang permainan telah ada sebelum kebudayaan itu lahir.

Di sisi lain, beberapa sumber mengatakan Homo Ludens adalah pasangan dari Homo Faber, yakni konsep yang memperlihatkan gambaran manusia sebagai pekerja. Berdasarkan riset ini dapat ku katakan perilaku bermain dalam diri manusia memang mutlak adanya. Ia tidak dapat di dikte hingga manusia berhenti memainkan permainannya karena perilaku ini telah diwariskan secara turun-temurun hingga saat ini. Mendapatkan penjelasan seperti ini membuatku mengerti mengapa Oli Sykes cs menyamakan “Ludens” setara dengan “Leader”. Hal ini sejalan dengan tujuan lagu itu diciptakan, yakni sebagai soundtrack official game Death Stranding.

Bagi mereka yang pernah menonton series Sherlock (2010) pasti tahu jika Irene Adler pernah berkata “Everything I said it’s not real, I was just playing a game” saat dia menyadari kalo upayanya untuk berlindung dari ancaman James Morriarty dengan cara memeras Pemerintah Inggris telah gagal. Dan kegagalannya menambah daftar pihak yang menginginkannya mati. Sigkat cerita, scene ditutup dengan Sherlock Holmes  menjawab “I know.. and this is just losing”. Entah mengapa, seketika kalimat pertama yang muncul dikepalaku setelah scene ini berakhir adalah kejujuran akan dipecundangi oleh peradaban. Kejujuran tentang perasaannya pada Sherlock itu sendiri yang mengakibatkannya kalah dalam permainan ini.

Bagian II

Supply and Demand

Selalu ku katakan pada tiap mahasiswa ku jika Ekonomi itu berbicara tentang lingkungan, makanya diksi keren dari lingkungan adalah ‘Ekosistem’. Sementara itu, ekosistem yang baik adalah ekosistem yang bisa menunjang kebutuhan seluruh penghuninya. Kira-kira kebutuhan apa yang harus dipenuhi oleh penghuni ekosistem tersebut? Menurut Maslow, setidaknya ada lima kebutuhan manusia yang harus terpenuhi, yakni Kebutuhan Fisiologis, Kebutuhan akan Rasa Aman, Kebutuhan untuk Bersosialisasi, Kebutuhan akan Penghargaan, dan Kebutuhan untuk Mengaktualisasikan Diri (Penjelasannya cari sendiri di google). Lantas apa hubungannya dengan supply dan demand?

Ketika kita berbicara tentang ekosistem, kita harus menyadari dengan rendah hati jika ekosistem yang kita miliki adalah ekosistem yang tidak sempurna. Ketidaksempurnaan ini terletak pada sumber daya yang terbatas dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Dari sini Ilmu Manajemen memainkan perannya tentang bagaimana manajemen merencanakan, mengorganisasikan, menjalankan, dan mengawasi sumber daya yang terbatas dalam memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas. Tugas manajemen dalam mengatur sumber daya ini bertujuan agar sumber daya tersebut dipergunakan secara baik dan efisien. Maksudku bayangkan saja jika sumber daya yang terbatas ini digunakan secara serampangan, boros, dan asal-asalan, perputaran kebutuhan untuk bertahan hidup akan habis dalam waktu singkat.

Seperti halnya makanan, hari ini mungkin kau ingin makan ikan bakar, hari berikutnya mungkin kau ingin makan coto, dan hari berikutnya mungkin kau ingin makan mie goreng, perubahan kebutuhan yang singkat ini membutuhkan perencanaan pengaturan yang baik agar sumber daya atau bahan baku dalam membuat ketiga jenis makanan ini tidak habis dalam waktu singkat. Karena satu hal yang pasti kau tidak akan makan salah satu dari ikan bakar, coto, atau mie goreng setiap hari seumur hidupmu. Di sisi lain, konsep Homo Ludens yang mengatakan manusia sebagai pemain sejalan dengan konsep paling dasar tentang ekonomi itu sendiri yaitu Supply dan Demand (Permintaan dan Penawaran) dimana manusia akan mampu bekerja (baca: Bermain) dengan baik ketika permintaannya terhadap suatu barang atau jasa terpenuhi oleh penawaran sumber daya yang di sediakan oleh lingkungan tempatnya bernaung.

Gregory Mankiw (2003) mengemukakan istilah Supply dan Demand merujuk pada perilaku orang ketika mereka berinteraksi satu sama lain di sebuah pasar. Pasar itu sendiri adalah sekumpulan pembeli dan penjual dari sebuah barang dan jasa tertentu. Para pembeli sebagai sebuah kelompok, menentukan permintaan terhadap produk dan para penjual sebagai kelompok menentukan penawaran terhadap produk.

Bagian III

Hal-Hal Lain Di Anggap Sama

Fenomena Joki Skripsi ini adalah Ceteris Paribus (Jika semua asumsi di abaikan) dari ekspektasi yang menuntut hasil tinggi dengan kisaran waktu pengerjaan yang cepat dan tepat waktu. Moral hazard? Jelas! Sistem dan proses pembelajaran dikampus menuntut mahasiswa untuk berhasil mendapatkan nilai tinggi tanpa memperhatikan faktor penunjang yang dimiliki di tiap individu mahasiswa terhadap materi yang diberikan seperti daya tangkap mahasiswa terhadap materi yang diberikan, kemampuan mahasiswa dalam memberi kritik terhadap teori, wawasan mahasiswa dalam mengembangkan pelajaran yang mereka dapat, atau tingkat konsentrasi yang dimiliki mahasiswa dalam menelaah pelajaran.

Sebagai contoh, pernah ku jelaskan pada mahasiswaku tentang alur Retained Earning (Laba ditahan) diperoleh oleh suatu perusahaan di awal perkuliahan. Ku jelaskan secara rinci mulai dari EBIT/EBITDA ke EBT lalu ke EAT, setelah pajak dikeluarkan pendapatan akan di hitung nilainya per lembar saham (EPS), kemudian jadi Laba, di RUPS-kan, dan jadilah Retained Earning. Sebelum kuliah selesai, ku tanyakan lagi pada mahasiswaku bagaimana alur Retained Earning ini tercipta dan hasilnya tidak yang bisa menjelaskan alur tersebut. Padahal ada lebih dari 50 orang di dalam kelas itu dan tidak satu pun mahasiswa yang mampu menjelaskan penjelasanku yang ku jelaskan tidak lewat dari dua jam.

Kekecewaan ini berlanjut ketika di kelas lainnya ku beri tugas take home untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan kebijakan dividen. Salah dua mahasiswa mengumpulkan tugasnya dengan menjelaskan kebijakan dividen sebagai aturan perlindungan investor. Ahahaha... jika mereka memperhatikan kuliahku dengan baik, mereka akan tau kebijakan dividen itu tidak berbicara aturan perlindungan investor, melainkan berbicara tentang bagaimana mekanisme pembagian laba terhadap presentase kepemilikan yang dimiliki tiap investor di suatu perusahaan dalam satu periode. Pembahasan ini dikaji di RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) dan sisa laba perusahaan setelah pembagian dividen akan dimasukkan ke akun laba ditahan (Retained Earning).

Kembali pada fenomena Joki Skripsi ini, dapat ku katakan para Joki ini adalah “kelompok penawar” yang melihat peluang permintaan ditengah kekurangan yang di hasilkan oleh sistem pembelajaran yang kita lakukan. Dan kekurangan dalam sistem pembelajaran kita ini adalah kanker yang sudah menyebar ke semua lini dalam tubuh Pendidikan di negara ini. Di satu sisi mahasiswa di tuntut untuk menyelesaikan studi tepat waktu namun di sisi lain mahasiswa tidak memiliki daya tangkap yang baik dalam menerima pembelajaran. Mirisnya, konsekuensi dari gagal dalam perkuliahan setara dengan separah-parahnya kegagalan kehidupan. Mereka terancam drop-out, tidak bisa mengajukan beasiswa yang mana hal ini akan memengaruhi cash flow keluarga mahasiswa tersebut, tidak bisa melanjutkan studi ke universitas yang di inginkan, sulit mendapatkan pekerjaan karena kualifikasi yang menuntut ijazah, dsb. Lebih sialnya lagi konsekuensi ini di tanggung oleh Universitas juga, seperti presentase drop-out yang memengaruhi akreditasi dan keaktifan kelembagaan mahasiswa yang juga memengaruhi akreditasi.

Tuan Krab pernah berkata: Sampah kita adalah rejeki bagi orang lain. Begitu pula dengan para pelaku Joki Skripsi ini yang di anggap “Sampah” (bagi mereka yang percaya kalo memakan bohlam akan membuat kepala mereka terang) karena menyediakan jalur cepat untuk mahasiswa dalam mencapai output perkuliahan dimana di saat yang sama sistem pembelajaran kita ber-ceteris paribus pada produknya sendiri. Anggapan sampah akademik ini ternyata menjadi rejeki tersendiri bagi mereka. Dari rejeki-rejeki itu mereka bisa membeli makanan, membayar tagihan, nongkrong di warkop, beli kopi, perputaran uang semakin efisien, PDB semakin meningkat, dan tingkat ekonomi negara bertumbuh. Konsumen yang membutuhkan jasa mereka dapat menyelesaikan target yang diberikan, dapat pekerjaan yang layak, hedon sedikit, pacaran, dan dapat restu calon mertua. Universitas tempat konsumen tersebut kuliah dapat kenaikan akreditasi, borang-borang akreditasinya lengkap, dan prestasi universitas tercapai. Win-win solution untuk semua.

Bagian IV

Penyimpangan Sosial Dengan Selera Humor Yang Nyelekit

Dalam ilmu Manajemen Keuangan terdapat istilah yang disebut “Too big to fail” dimana istilah ini merujuk pada perusahaan yang sudah terlalu besar sehingga kegagalan mereka akan sangat berbahaya bagi sistem ekonomi suatu negara. Hal ini disebabkan perusahaan yang besar memiliki koneksi yang besar juga. Koneksi yang terbangun melibatkan banyak sekali perusahaan-perusahaan yang berafiliasi dengan mereka sehingga apapun bentuk ancaman terhadap perusahaan tersebut akan mempengaruhi bentuk usaha-usaha lain yang berhubungan dengan mereka juga. Seperti halnya penjelasan di atas, sepertinya sistem pembalajaran kita yang sudah terlalu besar mengakibatkan kegagalan sistemik dan berbahaya, dibuktikan dengan munculnya pelaku-pelaku Joki Skripsi baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan di internet dan media sosial.

Sejujurnya, untukku para pelaku Joki Skripsi ini memiliki selera humor yang tinggi. Mereka tahu tindakan mereka salah, namun mereka tetap lakukan. Seakan-akan mereka ingin mengatakan “Kamilah produk kegagalan sistem yang kalian ciptakan sendiri”. Konsumennya juga tahu kalo keputusan mereka menggunakan jasa Joki ini salah dan mereka tetap lakukan. Sistem pembelajaran kita juga sebenarnya tahu kalo produk mereka memiliki kelemahan yang mengakibatkan munculnya penyedia jasa penulisan karya ilmiah ini sejak lama namun buntu mau memperbaiki dari mana. Dan fucked up nya, mereka yang tidak terlibat dalam proses belajar-mengajar bersuara paling lantang dalam menentang peristiwa ini. Wkwkwk... Sepertinya kebenaran di negara ini benar-benar ambigu dan terputar disitu-situ saja. Di sisi lain, mereka yang resah terhadap kejadian seperti ini tidak berani masuk ke dalam sistem dan mencoba memperbaiki kerusakan ini. Benar kata Koil, Nasionalisme di negara ini adalah pertanyaan..

Bagian V

Kenyataan Dalam Dunia Fantasi

Maya Progresif, antara simpati dan tidak pada ibu pertiwi. Ku renungkan di depan nisan demokrasi~ Menurutku, dunia yang berputar itu seharusnya tidak di dikte. Bukan persoalan mengenyampingkan benar-salah serta pengaruh negatifnya saja, tapi juga kita harus melihat sejauh mana dampak positifnya bergaung. Dan sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi orang lain. Di dunia yang fana ini, kita dihadapkan pada konstruksi yang kita sendiri tidak mampu memahaminya dengan sangat menyeluruh. Di sisi lain kita melihat fenomena Joki Skripsi ini yang bertentangan dengan norma-norma pembelajaran yang seharusnya, namun di sisi lainnya lagi kita di perhadapkan dengan sistem pembelajaran yang mengkhianati dirinya sendiri. Sementara itu, mereka yang berjuang adalah pahlawan untuk keluarganya, istrinya, pacarnya, selingkuhannya, anak-anaknya, anak-anak dari selingkuhannya, dan untuknya sendiri. Memang menyedihkan sekali melihat kenyataan dalam dunia fantasi kita pun di olok-olok oleh kenyataan dalam dunia nyata kita sendiri, namun satu hal yang pasti antagonis selalu menang melawan protagonis di dalam dunia nyata yang sebenarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pedagogi Dosa #11 Moral Hazard Dalam Baju Nasionalisme

Pedagogi Dosa #12: Collateral Damage dan Ketidakbergunaan Perang