Pedagogi Dosa #12: Collateral Damage dan Ketidakbergunaan Perang

 

Kendari, 29 Agustus 2025

[Pagi ini Instagram menjadi chaos sekali. Di picu oleh POLISI yang menabrak pengemudi ojol. BODOHNYA lagi, bukannya menolong, malah kabur dengan melindas pengemudi tersebut. Patah betul hati ku lihat rekaman itu. Satu keluarga lagi yang kehilangan tulang punggung. Satu keluarga lagi yang piring-nasinya tercecer darah dan berserakan di jalanan. Anjinglah...]

Pagi ini tidak sama dengan pagi-pagi yang lain. Rekaman gambar mobil Barracuda yang menghantam anak manusia dan melindasnya membuatku mempertanyakan kembali apa yang dimaksud dengan pendidikan, kaderisasi, dan omong kosong mengenai keadilan sosial yang kerap kali kita bermimpi tentangnya. Pagi ini, nyawa seseorang yang berjuang untuk keluarganya gugur ditengah perang yang tidak ia lakukan. Perang yang tidak dipahaminya dengan sangat menyeluruh. Perang yang bukan perangnya. Perangnya adalah tentang keberlangsungan hidup keluarganya. Bagaimana keluarganya mendapatkan sesuap nasi, bagaimana keluarganya bisa sekolah dengan layak, dan bagaimana keluarganya bisa bertahan ditengah gempuran harga dan inflasi yang semakin tinggi setiap harinya. Patah hati ku.. terus terang saja. Nestapa dari kehidupan yang tidak berpihak pun terpaksa ikut menanggung konsekuensi yang “harusnya” hanya terjadi pada mereka yang berpihak. Dia tidak cari masalah dengan demonstran, pun tidak mencari masalah dengan pemerintah. Dia hanya mau cari uang untuk hidup. Dan pencariannya akan kehidupan menuntunnya pada kematian.

Semua orang akan mati, tentu saja.. tapi tidak dengan cara seperti itu. Mati sebagai collateral damage (kerusakan/korban sampingan yang tidak disengaja) itu lebih menyakitkan dari kematian itu sendiri. Pertama, kematian itu akan menjadi leverage bagi mereka yang punya berbagai kepentingan. Syukur jika kepentingan-kepentingan itu bersifat baik, bagaimana jika kepentingan itu adalah kepentingan yang buruk? Kedua, orang-orang yang kita pedulikan akan merasa kehilangan. Tidak bisa ku bayangkan betapa hancurnya perasaan ibu dari pengemudi ojol tersebut. Anak yang susah payah ia besarkan selama 21 tahun, mati ditangan orang-orang culas yang tidak akan bisa bertanggung jawab akan hal itu. Ketiga, dengan sendirinya terlupakan oleh waktu. Seperti halnya dengan collateral damage lainnya yang sudah terjadi sejak 1998, tidak akan ada orang yang mengingat nama-nama mereka yang berjuang atas nama penegakkan keadilan. Dan keempat, ini yang paling bangsat, orang-orang tidak akan belajar dari kejadian ini. Menjadikannya sebagai kematian yang (maaf) sia-sia. Menyakitkan untuk dikatakan, namun itulah yang terjadi. Cepat atau lambat, tragedi seperti ini akan terjadi lagi.

Kenapa? Karena penderitaan adalah bagian dari kehidupan ekonomi kita. Di dalam ilmu ekonomi terdapat suatu konsep yang dinamakan Pareto Improvement, yang digagas oleh ekonom Italia bernama Vilfredo Pareto. Pareto Improvement adalah perubahan yang diupayakan untuk membuat setidaknya satu orang lebih baik tanpa membuat orang lain menjadi lebih buruk. Maksudnya, alokasi sumber daya apapun bentuk dan jenisnya dapat dibagikan kepada semua orang tanpa harus merugikan salah satu pihak. Dengan demikian terciptalah keadilan sosial, kesejahteraan simultan, nasionalisme, dan lain lain. Konsep ini akan terus berjalan hingga semuanya sampai pada situasi yang dinamakan sebagai Pareto Optimal. Pareto Optimal adalah kondisi dalam ekonomi dimana kita tidak mungkin lagi untuk meningkatkan kesejahteraan seseorang tanpa mengurangi kesejahteraan orang lain. Maksudnya, saat semua sumber daya yang ada tidak mampu lagi untuk dibagi. Misalnya, si A punya 3 apel. Si B juga menginginkan apel. Ketika si A memutuskan untuk membagikan 1 apel yang dimilikinya maka ia akan mengurangi sumber daya yang dimilikinya, dalam konteks ini adalah apel tersebut. Ketika hal ini terjadi terus-menerus maka akan menciptakan kelangkaan sumber daya, sehingga manusia dituntut untuk mengatur agar sumber-sumber daya ini digunakan secara baik dan efisien.

Antipati ku pada kehidupan membawaku pada simpulan bahwa memang manusia tidak bisa dipercaya. Akumulasi dari konflik kepentingan, kebodohan dan pembodohan, keculasan, sinisme, dan lain sebagainya merupakan alasan utama mengapa kita harus setuju ketika Thanos berupaya menghancurkan semesta hingga ke atom terkecilnya dalam Endgame (2019). Atau ketika Ultron melaksanakan misi perdamaiannya dengan memusnahkan kehidupan dalam What if...? Season 1 (2021). Dibuktikan dengan tragedi Affan Kurniawan semalam. Orang yang tidak terlibat harus menjadi bagian yang perlu untuk terjadi agar menjadi leverage yang memberatkan pihak yang di demo. Dan harus kita pahami dengan rendah hati jika kepentingan apapun tidak akan bertahan lama. Menjadikan kematiannya sebagai sesuatu amat sangat disayangkan untuk terjadi.

Sebenarnya, saat ini diriku sedang mengerjakan esai tentang batas distribusi dan kelangkaan yang akan menjelaskan lebih lanjut mengenai konsep pareto dan mengapa kita tidak seharusnya menuntut hak, keadilan, dan tanggung jawab kekuasaan. Tidak seharusnya? Ya.. Sangat bertolak belakang dengan apa yang ditanamkan pada kita sejak kecil dan apa yang kita yakini. Membuatku cukup merinding pada fakta ekonomi yang akan ku jabarkan pada tulisan selanjutnya. Namun demikian, seorang kawan pernah berkata "Belajarlah sampai kau takut sendiri dengan apa yang kau pelajari". Dan rentetan kejadian ini cukup membenarkan hipotesis yang ku tulis pada seri Pedagogi Dosa ke 13 mendatang.

Maya progresif, antara simpati dan antipati pada ibu pertiwi. Ku renungkan di depan nisan demokrasi. Selamat Jalan Affan Kurniawan..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pedagogi Dosa #9: Ceteris Paribus (Ludens Yang Mempecundangi Kejujuran)

Pedagogi Dosa #11 Moral Hazard Dalam Baju Nasionalisme