Pedagogi Dosa #1 "Skeptisisme terhadap Dogma dalam Perspektif Kiri."
Kendari,
15 Juni 2019
[Sebenarnya
diawal tulisan ini, saya ingin memberi tanda atau sinyal kepada pembaca bahwa
tulisan ini sangat tidak dianjurkan untuk dibaca oleh anda yang punya pemikiran
konservatif demi kesehatan pikiran dan prinsip yang anda pegang. Tapi disatu
sisi saya percaya, pembaca yang baik adalah pembaca yang tidak menutup mata
pada kebaikan-kebaikan yang timbul dari hal yang kontroversi sekalipun, demi
perkembangan pengetahuan yang lebih ideal di masa mendatang.]
September
1843, segera sebelum meninggalkan Jerman untuk pergi ke Paris, Marx menulis
surat kepada Arnold Ruge, seorang Hegelian Muda yang aktif menjadi akademisi
pada saat itu. Dalam suratnya, Marx mengutarakan keyakinannya bahwa dogma dalam
bentuk apapun harus dipertanyakan baik dogma agama maupun dogma politik. Isi suratnya
kurang lebih sebagai berikut:
“Pembaharuan
kesadaran bukan dengan dogma, akan tetapi dengan analisis dari kesadaran mistik
yang sendirinya tidak dapat dipahami dengan menyeluruh, baik di dalam agama
ataupun di dalam politik. Maka kemudian akan menjadi jelas bahwa dunia telah
lama bermimpi tentang sesuatu, tentang dimana dunia harus menjadi sadar agar
sesuatu itu bisa terwujud dengan nyata. Bila mengkhendaki dosa-dosa itu
diampuni, maka syaratnya hanyalah bahwa manusia harus menyatakan apa itu dosa”
Jika di lihat dengan mata telanjang, isi surat ini menggambarkan bahwa Marx
merupakan sesorang yang sangat antipati terhadap dogma terutama dalam dogma agama.
Hal ini jelas terlihat pada keyakinannya untuk terus mempertanyakan dogma demi
menggiring pembacanya untuk selalu bersikap skeptis pada sesuatu yang terlihat
sempurna, mengingat ia pernah menyatakan bahwa agama merupakan candu rakyat,
dimana intonasi penyebutan kalimat ini lebih cenderung terdengar resisten pada
hal-hal yang berbau agama. Walaupun dilain sisi, asumsi tesis ini cukup kuat
dimana masyarakat proletar pada jaman itu sering mengalami penindasan oleh
borjuasi dan masyarakat lebih memilih berdo’a ke Gereja agar Tuhan berkenan
untuk membalas perbuatan mereka daripada melawan tuan tanah yang
mempekerjakannya.
Filsafat
Feuerbach juga menyatakan bahwa Tuhan itu hanya bisa ada selama manusia
bertentangan dengan dirinya sendiri dan sepanjang manusia mengasingkan diri
dari pribadinya. Tuhan adalah ciptaan impian dan kepada-Nya manusia telah
memproyeksikan kekuatan dan kemampuan-Nya yang setinggi-tingginya. Sebagai sempurna dan Maha Kuat dan yang sebaliknya menjadikan manusia
tampak sebagai terbatas dan tidak sempurna. Lebih lanjut, Feuerbach mengatakan
bahwa agama seharusnya diganti menjadi ‘humanisme’, dimana cinta kasih sayang
yang semulanya ditujukan kepada Tuhan, menjadi diarahkan pada manusia sehingga
menuntun manusia ke suatu ‘penemuan kembali persatuan manusia’. Dalam hal ini,
penulis menangkap bahwa ada semacam dikhotomi yang memisahkan antara kecintaan
terhadap Tuhan yang dialihkan menjadi kecintaan terhadap manusia. Dualitas ini
menghasilkan konklusi yang ternyata memiliki hasil yang sama fatalnya dengan realita
yang terjadi dikehidupan, yaitu kecintaan kepada Tuhan yang berlebihan
mengakibatkan hilangnya rasa kemanusiaan yang seharusnya menjadi menjadi sifat
dasar manusia, begitu juga dengan kecintaan terhadap manusia yang berlebihan
menghilangkan rasa empati manusia pada ‘Dzat’ yang menciptakannya.
Jika dikaji
lebih lanjut, sebenarnya permasalahan ini telah memiliki solusi yang ideal
berdasarkan pemikiran yang telah dikemukakan di atas. Kecintaan terhadap Tuhan
harus diimbangi dengan kecintaan terhadap manusia dan dengan alasan apapun
segala sesuatu yang berhubungan dalam konteks ini harus terikat dalam suatu
moralitas yang harus ditanamkan ke dalam pikiran manusia. Karena pada dasarnya
manusia adalah ciptaan Tuhan dan Tuhan adalah pencipta bagi segala yang
terkandung di dalam semesta ini. Agar-supaya tidak terjebak di dalam agama,
dimana orang-orang berpatisipasi seolah-olah berada dalam dunia khayal yang
tidak nyata tentang keharmonisan, keindahan dan kepuasan diri padahal dia hidup
sehari-hari di dalam dunia yang praktis, yang mana masih ada kesengsaraan dan
penderitaan yang terjadi.
Kembali
daripada itu, keyakinan Marx untuk bersikap skeptis pada dogma sejalan dengan
tesis yang dikemukakan oleh Immanuel Kant dalam bukunya “Kritik Atas Akal Budi
Praktis” yang menyatakan kritik secara negatif berfungsi untuk menyerang
kepura-puraan yang terlihat sebagai dogmatis-metafisis dan fanatisme moral. Demi
mempertahankan pengetahuan/kebenaran yang sahih dari serangan ilusi dialeketis
yang menjelma menjadi kebijaksanaan yang adiluhung. Artinya, kritik yang
disalurkan melalui anti-tesis akan mencoba untuk menyeimbangkan kebenaran agar
lebih ideal untuk di konsumsi. Karena penulis berpandangan bahwa akan selalu ada
manifestasi yang diharapkan tercipta melalui tulisan dan argumen yang
dinyatakan dengan tegas.
Secara
epistemologi, dapat disimpulkan bahwa sikap skeptisisme tidak selamanya salah
untuk dilakukan. Mahasiswa mendapat pembelajaran dikampus dengan terus
mempertanyakan narasi yang dibangun dari pembelajaran tersebut. Dengan mempertanyakan
suatu hal yang tidak di pahami membuat kita lebih paham pada problema yang
sedang dihadapi.
Komentar
Posting Komentar