Coretan Pertama Untuk Australia: Setara Dengan Yang Setara Sebagai Yang Setara.
Brisbane, 8 Oktober 2019
[Dan
akhirnya, untuk pertama kalinya segala do’a, niatan dan dukungan terasa lebih
nyata dari biasanya. Terimakasih ku ucapkan kepada semua yang membantu baik
secara moril, materi dan do’a, adik-adik, teman-teman, para kanda dan terutama
orang tua ku. Tanpanya diriku tidak akan berada disini saat ini. Dan seperti
biasa, sebagai pembelajar yang taat pada segala konsekuensi ilmiah, ku rasa ini
saatnya untuk berbagi paradigma]
Selalu
ada hal yang menarik ketika kau berpindah pada lingkungan baru. Australia,
negara yang disebut-sebut sebagai negara orang buangan dari Inggris membuktikan
dirinya mampu mematahkan persepsi tersebut. Kita bisa mengambil contoh Kota
Brisbane ini, setiap kali kau keluar rumah untuk bepergian, kau akan menjumpai
orang-orang dari berbagai macam etnis, ras, budaya dan agama. Orang kulit
hitam, orang kulit putih, yang bermata sipit, yang disabilitas, yang bertato,
yang bajunya kurang bahan, yang menutup aurat bahkan orang kerdil (Dwarfisme)
hidup berdampingan dengan damai tanpa sekat apapun. Seakan-akan Bhinneka
Tunggal Ika itu lebih cocok menjadi moto Negara ini dibanding dengan Indonesia.
Dengan setiap orang mempunyai latar belakang yang berbeda-beda seperti ini,
Australia membuktikan bahwa dirinya
mampu menjadi Negara yang ideal bagi semua perbedaan.
Setiap
orang di Negara ini saling memanggil dengan menyebut namanya langsung. Baik tua
ataupun muda, ketika kau membutuhkan pertolongan kau hanya perlu menyebut
namanya secara langsung. Tak perlu pakai embel-embel ‘Pak’, ‘bu’, ‘kak’ atau
lain sejenisnya. Untuk memanggil Guru pun hanya perlu menyebut namanya (kecuali
Professor). Diriku melihat fenomena ini sebagai bentuk penghinaan terhadap
seseorang yang seharusnya kita hormati. Karena di Indonesia, embel-embel pak,
bu dan sejenisnya digunakan untuk menandakan bahwa kita menaruh hormat pada
mereka. Tapi sekali lagi hipotesaku terbantahkan dan diakhir ku simpulkan bahwa
ini adalah konsekuensi kesetaraan. Sebagai akibat dari kesetaraan yang bukan
hanya ‘omong doang’, sebagai realisasi nyata dari setiap manusia semua sama
dimata Tuhan.
Disini
diriku tinggal bersama Gonzalo dari Republik Chile dan Demian dari Ekuador.
Dengan latar belakang yang berbeda-beda kita tinggal se-atap, pergi ke sekolah
bersama, naik bus yang sama dll. Dan karena diriku yang jadi minoritas disini,
kita mengikut budaya mereka yang selalu sarapan dengan telur dan roti setiap
pagi. Yang mana kegiatan seperti ini tidak pernah ku lakukan di Kendari.
Untukku sarapan terlezat itu ketika kau sampai dikampus dan memesan kopi susu
di kantin dengan pisang gorengnya, dengan bakwannya plus marlboro ice burst.
Itu bisa membuatku kenyang sampai malam hahaha. Mana nasi sangat jarang
disediakan disini, mungkin diriku harus lebih tahan untuk beradaptasi dengan
segala ke-asing-an yang ada.
Di
Indonesia, mencium pipi orang lain tergolong pelecehan seksual yang mana jika
orang tersebut tidak suka, kita bisa dilaporkan ke polisi dan kita akan
ditahan. Disini, diriku dipertemukan dengan berbagai warga dari negara lain.
Sebut saja dari Perancis, Swiss, spanyol dan beberapa negara Amerika Selatan.
Dan sekali lagi atas nama minoritas, dengan ringan hati kita menerima budaya
mereka.
Yang asik disini adalah perempuan. Setiap kali pamit mereka selalu
bercipika-cipiki ria kepada siapapun sambil melambaikan tangan tanda mereka akan
pergi. Jadi jika mereka pamit padaku, bisa dibayangkan sudah berapa perempuan
yang ku ‘lecehkan’ disini kan, hahaha..
Selanjutnya
yang mencuri perhatianku adalah banyaknya tanah kosong yang tidak terpakai.
Tidak seperti di Indonesia yang dimana tiap rumah saling berdempetan satu sama
lain, disini tiap rumah mempunyai space
yang lumayan luas. Saking luasnya, mungkin kau bisa buka kedai Capcin didepan
rumah tanpa harus berkelahi dengan tetangga sebelah. Trotoar benar-benar
berfungsi untuk pejalan kaki, tidak ada pedagang-pedagang yang mengambil ruang
ditrotoar. Jika kau tinggal disini, sangat nyaman untuk bepergian dengan jalan
kaki.
Yang
lucu adalah ketika kita berbicara tentang local
issue. Yaa mungkin karena habbit
yang digunakan orang barat adalah tidak mengurusi urusan orang lain maka jika
kita berbicara wacana atau local issue
yang berkembang tidak ada satupun yang tau untuk menjawab apa. Kita bisa
mengambil contoh dari teman-teman dari Perancis. Beberapa teman yang ku ajak sharing tentang Revolusi Industri di
Perancis menjawab itu bukan urusanku. Waw, ini juga pertama kalinya kau
menyadari ada orang yang benar-benar apatis terhadap apa yang seharusnya
menjadi ‘wilayah’ kajiannya. Atau mungkin tanggapan tentang British Exit, baik yang mahasiswanya
tidak memperdulikan tentang issue
tersebut, padahal notabane-nya mereka
adalah penduduk asli Eropa. Tapi sekali lagi itu hanya beberapa orang, belum bisa dijadikan tolak ukur seperti cerita-cerita lainnya.
Tapi
sekali lagi, kota ini benar-benar ideal untuk mereka yang ‘sakit kepala’ dengan
Indonesia. Tidak seperti kota-kota komoditas di Indonesia yang riweuh dengan
problematika khas kota besarnya, Brisbane membuka ruang bagi siapapun untuk
berekspresi yang tentunya berekspresi dalam kebaikan. Walaupun disatu sisi kita
mendapat konsekuensi dimana kita tidak akan menjadi holistik jika hidup
dinegara ini, semua hanya fokus dengan kepentingan masing-masing dengan
mempertimbangkan hak dan kewajiban yang berlaku.
Akhir kata, Salam dari Tanah para Ratu...:)
Komentar
Posting Komentar