Hidup itu Seharusnya Seperti Lagu Lithium-nya Nirvana: Pantulan Peradaban tentang Cita-Cita Indonesia


Brisbane, 10 November 2019
 
[Jika kau penggemar Kurt Cobain kau pasti tidak asing dengan karyanya yang berjudul Lithium. Sebagai seorang yang ‘bercita-cita’ untuk mati sebelum umur 30 tahun, Cobain mendobrak selera orang-orang tentang kehidupan yang berumur panjang, sukses dan bahagia. Ketika mendengar lagu tersebut, diriku merasakan secara sadar bahwa hidup itu memang harus di nikmati. Tidak ada waktu untuk tangisan dan duka. Kalau kau sedang suntuk dan kebetulan sedang membaca tulisan ini, coba-coba saja dengarkan lagunya, siapa tau kita satu selera :)]

Hari ini peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Kebetulan induk semang ku disini seorang Muslim, mereka akhirnya mengajakku untuk ikut merayakannya juga. Acaranya berlangsung di sebuah Masjid. Awalnya, diriku ingin menolak tawaran ini karena ku tebak acaranya akan selesai pada malam hari dan sebenarnya hari ini juga diriku ada janji dengan Flo untuk pergi ke Prohibition. Namun akhirnya ku urungkan karena ku pikir mungkin diriku akan mendapat persepsi baru dari acara ini, mengingat ini adalah acara Muslim pertama ku di Negeri yang bukan tempat asalku. Tapi tulisan ini tidak akan membicarakan teknis acara tersebut. Yang akan ku ceritakan disini adalah tentang percakapan dengan induk semangku saat perjalanan pulang.

Diriku selalu bertanya-tanya, mengapa ketika diriku bepergian kemana-mana, diriku sering menemui orang-orang dari etnis yang berbeda-beda? Saya tau, Australia membuka wadah untuk orang-orang dari negara lain tinggal di negeri ini. Tetapi, menurutku para imigran ini terlalu banyak. Di jalan, diriku lebih sering berpapasan dengan orang Asia dan orang India daripada penduduk asli disini. Dan anehnya lagi, tidak ada demonstrasi yang terjadi atau protes yang menanggapi fenomena ini karena ku pikir jika ini di Indonesia, pastinya demonstrasi sudah terjadi dimana-mana. Awalnya, ku pikir karena memang paradigma orang asli sini yaa seperti yang kita pahami tentang paradigma orang barat, tidak mengurusi urusan orang lain, sampai diriku menemukan fakta bahwa hampir seluruh (mungkin seluruhnya) keunggulan Australia tercipta dari tangan para imigran. Waw! Is that a fuckin joke...!?? and the correct answer is ........ off course... nope.

Induk semangku cerita, penduduk asli Australia itu hanya suku Aborigin yang notabane-nya adalah ras kulit hitam. Jadi jika kau liat iklan apapun dari Australia dan modelnya adalah orang kulit putih, bisa dipastikan dia adalah imigran. Induk semangku melanjutkan, sensus kependudukan di Australia menyatakan sekitar 75% penduduk Australia berasal dari luar Australia seperti India, Filipina, China, Taiwan, Inggris dan beberapa negara Eropa. Mungkin itulah kenapa di bendera nasional Australia ada lambang Union Jack-nya dan mereka juga merayakan hari ulang tahun Ratu Elizabeth II. Bahkan saat peringatan ulang tahun Ratu Elizabeth II, semua kegiatan perkantoran wajib berhenti. Hari itu disebut sebagai public holiday. Dan orang Australia sangat senang dengan apapun yang berkaitan dengan libur. Bisa di katakan mereka bekerja hanya untuk dapat uang untuk berlibur. Lebih baik tambah jam lembur daripada sabtu minggu tidak libur. Begitu prinsipnya.

Sub-judul tulisan ini adalah ‘Pantulan Peradaban tentang Cita-Cita Indonesia’. Sebenarnya ku tulis sebagai reaksi atas beberapa tulisan tentang kekhawatiran teman-teman di Indonesia dalam mempersiapkan Bonus Demografi yang akan di hadapi Republik itu. Hampir 3 bulan hidup disini mengingatkanku dengan cita-cita lama Indonesia yang ingin menjadi peradaban yang maju. Tapi sampai detik ini, beranjak pun kurasa tidak. Bonus demografi seakan-akan menjelma sebagai bom waktu yang untungnya sudah kita ketahui kapan akan meledaknya. Dan kita sadari bersama bahwa Indonesia belum siap untuk ledakannya. Australia adalah bentuk nyata dari pantulan cita-cita Indonesia. Seperti yang saya jelaskan di postingan sebelumnya, mungkin Bhinneka Tunggal Ika lebih cocok menjadi semboyan Negara ini dibanding Indonesia itu sendiri. Alasannya cuma dua, yaitu karena kita lebih banyak mengurusi urusan orang lain ketimbang dengan urusan kita sendiri dan terlalu malas untuk menolong diri sendiri. Untukku ketika dua masalah itu bisa teratasi, Indonesia siap untuk menghadapi tantangan jaman.

Kita bisa mengambil contoh dari peradaban yang diciptakan oleh Australia. Disini, politisi itu benar-benar diberikan semacam gelar legitimasi sebagai Higher Profile. Pembagian distribusi apapun dari pajak negara benar-benar dibagi secara merata. Penduduk disini tidak ada yang tidak bahagia tinggal disini (sejauh pengamatanku). Pemerintah benar-benar berfungsi sebagai pelayan masyarakat dan masyarakat pun tidak selamanya menggantungkan diri kepada pemerintah. Mungkin itulah alasan mereka bisa ‘mandiri’ sejak lahir.

I’m so happy, coz today i’ve found ma friend, in ma head. Lithium hadir mewakili semua gagasan untuk terus maju pada apa yang kita sebut sebagai idealisme. Di dalamnya bersemayam jiwa yang terdiskriminasi oleh keramaian, yang tidak mampu melawan kerasnya pukulan tendesi moral masyarakat tentang yang ‘normal’ dan yang ‘tidak normal’. Dan sekali lagi, selalu ada kebaikan yang perlu kita hargai sekalipun ia lahir dari hal yang kontroversi sekalipun.

Selamat Hari Pahlawan, Kurt Cobain!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pedagogi Dosa #9: Ceteris Paribus (Ludens Yang Mempecundangi Kejujuran)

Pedagogi Dosa #11 Moral Hazard Dalam Baju Nasionalisme

Pedagogi Dosa #12: Collateral Damage dan Ketidakbergunaan Perang