Tragedi: Juliette, Dampaknya, dan Sisi Baik Dalam Sebuah Perpisahan


Brisbane, 16 Februari 2020
[Untuk pertama kalinya sejak di terbitkan tahun 2015 #Coraks berbicara tentang relasi, emosi dan cinta sebagai topik utama dalam essay-nya. Essay pertama yang mencoba berdiri melawan kemurnian manusia, dan menjadi Essay terpanjang yang pernah ku buat setelah seri Pedagogi Dosa. Sebenarnya diriku merasa seperti orang bodoh ketika memutuskan untuk menulis ini, tetapi sekali lagi.. selalu ada pengecualian untuk hal-hal yang istimewa. Sebuah harga yang cukup adil untuk digaransikan karena ciptaan Tuhan yang bernama perempuan]
Juliette
Tanggal 14 Februari kemarin bertepatan dengan hari valentine sekaligus menjadi akhir bagi pelajar yang mengambil studi 6 bulan (sejak september). Ada seorang perempuan berasal dari Perancis yang cukup membuatku mengamatinya setiap hari. Namanya Juliette, umurnya terpaut 6 tahun denganku, dia 19 tahun dan diriku desember tahun ini akan menginjak 25 tahun. Tidak ada yang spesial dengannya. Tinggi sekitar 150an cm, berkacamata, rambut cokelat khas orang Perancis, dan ada beberapa yang tak mampu ku jabarkan dalam tulisan ini. Ia juga memiliki tahi lalat tepat di atas bibirnya. Studinya berakhir di tanggal 14 Februari ini.
Kalo dibandingkan dengan cewek Perancis lainnya, sebenarnya dia tidak termasuk cewek yang populer seperti Lisa, Alice, Touscane, Estelle atau beberapa cewek latin macam Alicia, Laia, Cony atau Kianna. Dan dari pengamatanku temannya disni hanya sekitar 3 sampai 4 orang, 2 di antaranya berasal dari Perancis juga dan teman jalannya yang benar-benar selalu sama-sama dia hanya 1. Ku pikir dia seorang introvert, tapi setelah setelah beberapa kali dapat spin class yang sama dengannya, dia bisa menjalin komunikasi ke pelajar lainnya. Hanya mungkin saja dia selektif dalam memilih teman.
Pertama kali bertemu dengannya saat kita dapat Business spin class yang sama. Di hari pertama itu kita dapat draft topik untuk membuat semacam percakapan dalam bahasa Inggris dengan pembagian tiap kelompok terdiri dari 2 orang. Diriku dapat jatah kelompok yang sama dengannya. Dan coba tebak topik apa yang pertama muncul di draft itu, Explain to your partner about what kind of boyfriend/girlfriend do you like? (Jelaskan ke temanmu seperti apa kriteria pacar yang kau suka?). Pertanyaan macam apa ini? Untuk ukuran Spin Class, they put these silly question for begin the class J.
Dampaknya  
Beberapa teman dekatku seperti Adhewans, Aldi atau Aswan tau kalo diriku selalu menaruh ukuran terhadap apapun yang ada di dunia ini baik soal politik, kehidupan, imajinasi atau pikiran-pikiran yang tersampaikan di ruang publik, termasuk soal perempuan. Namun ternyata, hanya butuh sepersekian detik untukku jatuh cinta padanya. Ketika mulai membicarakan topik tersebut, ku coba jelaskan padanya kalo diriku tertarik dengan cewek yang tinggi, tentunya tidak lebih tinggi dariku. Dan kau tau? Saat ku jelaskan hal itu rasanya seperti ingin ku tampar diriku sendiri. Tidak bisa ku percaya dengan apa yang sedang berdiri tepat di depan ku saat itu. Seakan-akan pikiranku melanggar secara sukarela segala kriteria dan standar yang telah ku bangun selama ini..
Terdengar arogan, tapi nyatanya setiap orang punya ukurannya masing-masing untuk mendapatkan sesuatu. Dan kerennya, Juliette menghancurkan semua kriteria tersebut dengan TIDAK melakukan apa-apa. Dia hanya berdiri di depanku, berbicara tentang topik yang diberikan, memberikan pendapatnya, dan bangsatnya dia mampu membuatku membuang semua idealisme ku terhadap sesuatu yang ingin ku dapatkan. Bahkan diriku tidak tau apakah dia sejalan denganku atau tidak, atau dia care sama orang atau tidak, dan itu lebih dari cukup untuk membuatku ingin memilikinya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, seorang Raka Zulfikar, yang bukan siapa-siapa, menginginkan seseorang yang dimana diriku benar-benar tidak peduli lagi dengan latar belakangnya. Tidak peduli dia tinggi atau tidak, pintar atau tidak, dia agama Islam atau tidak, merokok atau tidak, apakah masih perawan atau tidak. Juliette adalah perempuan pertama yang dimana diriku tidak butuh alasan apapun untuk mencintainya. Diriku jatuh dan tenggelam di tahap dimana diriku merasa benar-benar menginginkan dan memilikinya tanpa beban dengan semua kekurangannya.
Akhirnya setalah 6 bulan, tiba saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal; Hari itu aneh sekali, kita dapat Spin Class yang sama lagi. Dan saat itu ada pembagian kelompok lagi, tapi tugas kali ini adalah  mengartikan idioms yang sering dipake oleh para pelaku bisnis. Lucunya, di spin class terakhirnya itu diriku dapat angka yang sama dengannya, alhasil diriku 1 kelompok dengannya (lagi). Wow, kita di pertemukan sebagai kelompok yang sama di suatu Spin Class yang pemilihannya secara random dan di ‘pisahkan’ sebagai kelompok yang sama di Spin Class yang sama juga. What a lovely story..!
Saat di kelas, diriku bertanya padanya untuk memastikan kapan tepatnya ia akan berangkat pulang ke Perancis. Ia berkata ia akan berangkat hari sabtu dengan pesawat pagi jam 7. Setelah itu, ku katakan padanya bahwa ada yang ingin ku sampaikan padamu. Tapi tidak disini, mungkin tunggu sampai kelas berakhir.. dan ia pun mengiyakan. Saat kelas berakhir, diriku buru-buru keluar sekolah untuk ritual sebatang sebelum kelas selanjutnya. Setelah nyebat, ku coba mencarinya tapi tidak ku temukan ia. Karena kelas reguler kita berbeda jadi ku putuskan setelah sekolah diriku akan bertemu dengannya. Tapi setelah sekolah pun kita tidak bertemu juga (yang ini gegara hujan jadi cepet-cepet pulang).
Jum’at kemarin yang bertepatan hari valentine itu adalah hari kelulusan. Setelah sepatah kata dan pemberian award-award yang konyol, diriku berpapasan dengannya di depan resepsionis. Karena saat itu dia sedang dengan teman-temannya, saya hanya mengingatkan ke dia tentang ada yang ingin ku sampaikan padanya lagi. Habis spin class ku harap kita bisa ketemu sebelum kau berangkat, kataku. Dan dia mengiyakan lagi..
Nah, setelah spin class dia dan beberapa temannya berdiri di depan pintu masuk. Dan diriku datang lagi. Tapi karena situasinya dia masih cipika-cipiki perpisahan dengan teman-temannya diriku harus menunggu lagi. Di saat yang sama banyak juga teman yang mendatangiku untuk berbagi tanda tangan, pesan, kesan, catatan dan lain sebagainya. Seketika ku lihat ia selesai dengan teman-temannya dan menunggu di luar gedung. Mungkin karena diriku terlalu lama akhirnya dia bete’ sendiri jadinya. Salah ku juga menghiraukan teman-teman yang lain untuk berswafoto bersama. Dan akhirnya, dia pun pergi..
Setelah ku sadari dia tidak di sana lagi, dan terjadi lagi.. kesalahan yang sama terulang. Motherfucker! I told to Ernesto that can he do me a favours? To hit me in my fuckin’ face.. Ku ambil gitar dari gudang sekolah, ku main beberapa lagu seperti Good Goodbye nya One Ok Rock, With Me nya Sum 41 dan Dear God nya A7x.
Setelah itu, Sara, salah satu guru yang akrab sekali dengan ku datang menghampiri. Ternyata dia menyadari situasi ku. She said to me that am I okay? or there are problem which I got today. Kebetulan Ernesto tau masalah ini. Di ceritakannyalah kejadian berusan. Lucunya, even Sara agree that I am quiet stupid karena tak kusampaikan perasaanku padanya sebelum ia pergi, HAHAHA.. Dengan rasa yang sangat tidak menyenangkan karena kesalahan ini ku coba berbaur dengan pelajar lainnya yang masih bercipika-cipiki ria.
Saat perjalanan pulang ke rumah, Flo kirim WA padaku kalo dia sama teman-teman yang lain mau Bbq-an perpisahan. Tiba-tiba terpikir mungkin dia akan datang. Karena pastinya dia tidak akan datang ke The Met untuk party perpisahan dengan student lainnya. Juliette bukan cewek yang suka party gila-gilaan seperti kebanyakan cewek Perancis lainnya. Mungkin itu sebabnya sehingga dia jarang jadi pembahasan cowok-cowok disini.
Malamnya, Georges dan diriku pergi ke Student One, sebuah apartemen untuk pelajar yang terletak di salah satu pusat kota Brisbane untuk bersiap ke The Met. Diriku kirim message di Instagram ke Juliette untuk menanyakan apakah dia akan datang atau tidak. Dia membalas bahwa dia tidak akan pergi malam itu karena dia harus bersiap dari jam 4 subuh untuk ke bandara, mengingat pesawatnya berangkat jam 7 pagi. Disitu kurasa tidak ada pilihan lain lagi selain mengucapkan selamat tinggal melalui direct message instagram.
Selamat Tinggal
Sebelumnya diriku meminta maaf karena beberapa kali ku ajak ia bertemu dan tidak pernah terjadi. Ku rasa dia tidak nyaman tentang ini. Diriku tahu ia sudah punya pacar di Perancis sana, tapi kurasa apa salahnya jika hanya mengungkapkan apa yang ingin kita katakan pada seseorang yang memberimu dampak yang luar biasa terhadap perspektif yang telah kau bangun selama ini. Ku katakan padanya, ‘Saya jatuh cinta padamu, tapi ku sadari kita punya jalan yang berbeda tentang ini. Kau punya jalanmu sendiri, dan diriku punya jalan ku sendiri juga. Kau tau? Pacarmu mendapatkan perempuan yang luar biasa seperti mu. Dan saya hanya mengekspresikan perasaanku’. ‘Sangat tidak mungkin untuk kita akan bertemu kembali Juliette, tolong jangan salah paham tentang ini’. Dia menjawab, ‘Ya, maaf saya tidak bisa keluar untuk bertemu kamu malam ini. Ku akui itu sedikit membuatku tidak nyaman. Aku tidak mau menyakitimu, tapi yaa! Aku sudah punya orang lain. Kau adalah orang baik yang sangat menyenangkan. Jangan pernah berubah dan tetap seperti ini. Aku tidak mau membuatmu merasa tidak enak tentang hal ini. Aku menghargaimu atas ungkapanmu’. ‘Sayang sekali kita punya jalan yang berbeda tapi aku berharap yang terbaik untuk masa depanmu. Sebuah kehormatan bisa bertemu denganmu. Selamat tinggal..’. Setelah itu, ku balas, ‘Ya, kau juga adalah gadis yang menyenangkan yang selalu menularkan optimisme di kelas. Saya menghormatimu Juliette. Dan terimakasih banyak sudah mau mendengarkan tentang ini. Karena kalo tidak ku sampaikan, rasanya tidak akan ku maafkan diriku’. ‘Sangat senang bisa bertemu denganmu di Kota ini Juliette. Tolong jaga kesehatanmu setelah kau tiba di Perancis. Sampai Jumpa di lain waktu’. Dia membalas lagi, ‘Terimakasih juga atas semuanya Raka, tidak masalah untuk kau mengungkapkannya. Aku janji’.
   
Tragedi
Pernahkah kau mengalami hal seperti ini? Mungkin jika perpisahan itu terjadi dan orang yang berpisah denganmu hanya pindah ke kota yang lain, akan sangat mungkin pertemuan itu akan terjadi lagi. Tapi bagaimana jika dia pindah negara? Jika hanya Indonesia – Malaysia atau Indonesia – Australia mungkin agak meneteskan air mata tapi kembali lagi, pertemuan itu sangat mungkin terjadi lagi. Setidaknya kultur, bahasa dan letak geografis masih bisa kita imbangi. Tapi bagaimana jika dia pindah ke negara yang terletak di salah satu sisi dunia dan kau tinggal di sisi dunia lainnya? Kepergiannya itu terasa seperti kematian tapi tidak mati. Karena pada nyatanya kau tetap bisa menjangkaunya walaupun dengan sangat susah sekali. Dilema dan sentimen bertabrakan dengan kenyataan sehingga ada sesuatu yang hampir mustahil untuk digapai. Sama seperti kau di tinggal menikah. Sebenarnya masih ada jalan untuk menggapainya tapi dengan presentase kesempatan yang mungkin hanya 0,00 sekian persen. Dengan beberapa variabel yang ada, peristiwa ini cukup ‘menghibur’ untuk ukuran kejadian yang sangat tidak ku inginkan. Dan bagaimana pun juga kelanjutannya, kehidupan harus tetap berjalan.
Sisi Baik Dalam Perpisahan
Pada akhirnya, bunga-bunga akan mekar kembali, matahari kan bersinar lagi dan burung-burung akan bernyanyi kembali. Moralitasnya adalah ukuran memang tidak bisa di predikatkan kepada wanita mana saja yang mungkin akan kau temui di masa mendatang. Kau tidak bisa seratus persen memaksakan keinginan fantasimu pada suatu objek manusia bernama perempuan. Tidak bisa pula kau taruh idealisme mu yang mengatakan kalo perempuan yang ideal untukmu itu seperti ini dan itu. Karena hal itu terbukti pada Juliette.
Dengan ini, ku tutup rapat-rapat semua kenangan tentangnya sebagai bentuk evaluasi diri agar hari esok menjadi lebih baik dari hari ini. Kita memang belum ke Pub bareng, diriku juga belum tau soal makanan/minuman kesukaanmu, hobimu, kebiasaanmu, musik favoritmu, film favoritmu, tempat favoritmu, warna favoritmu, tapi ku do'a kan selalu yang terbaik untukmu. Terimakasih banyak atas dampakmu kekasih!
Selamat Tinggal Juliette..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pedagogi Dosa #9: Ceteris Paribus (Ludens Yang Mempecundangi Kejujuran)

Pedagogi Dosa #11 Moral Hazard Dalam Baju Nasionalisme

Pedagogi Dosa #12: Collateral Damage dan Ketidakbergunaan Perang