Pergantian Ide, Pergantian Rencana.. Perpanjangan Waktu di Mulai!
Queensland, 14 Mei 2020
[Sisa 12 hari lagi masa tinggal ku di Australia. Dan sejujurnya amat menyesalkan dan mengesalkan keadaan ditengah wabah Covid-19 ini yang mematikan langkahku dan tinggal diam di rumah. Sebenarnya masih ada 2 tulisan lagi yang ingin ku unggah, tetapi sekali lagi atas nama keadaan, kita tidak diciptakan oleh Tuhan untuk melawan virus seperti ini.]
Ditengah pandemi ini, ku putuskan untuk meninggalkan segala cita-cita untuk memperbaiki keadaan negara ini. Tentu saja saya akan tetap menulis, tapi maaf, Republik.. kau tidak lagi menjadi prioritas untukku. Kupikir masih banyak orang-orang yang lebih mampu, melebihi diriku untuk memusingkan masalah-masalah bangsa saat ini. Sumpah mahasiswa? Bagi ku itu sudah bukan hal yang sakral lagi untuk dilakukan. Maksudku, coba prediksikan sudah berapa banyak mahasiswa yang melanggar sumpah ini dibanding yang mengimplementasikannya ke dalam kehidupan? Tidak usah pake survey statistik, prediksi aja dikepalamu.
Dulu waktu masih S1 sempat punya keinginan kalo suatu hari nanti ingin terjun di dunia politik dengan niat memperbaiki keadaan bangsa ini menjadi lebih baik. Segala macam proses kemahasiswaan mulai dari organisasi internal kampus hingga organisasi eksternal kampus ku ikuti. Dari Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas ke Badan Eksekutif Mahasiswa hingga Himpunan mahasiswa Islam ku ikuti demi menjadi pribadi yang siap untuk menghadapi segala permasalahan yang akan ku hadapi kelak ketika ku jadi ‘politisyen’. Sampai akhirnya ku sadari bahwa banyak hal yang seharusnya bisa kita lakukan selain mengurusi ambisi yang rakus dan kekuasaan yang prematur serta tidak ada habisnya. Lagi pula diriku masih mempunyai ‘Hutang’ yang harus ku bayar pada orang tua ku, jadi ku rasa sudah saatnya menghargai pikiran sendiri sebelum menghargai pikiran orang lain.
Diluar daripada itu semua, akhir-akhir ini diriku tertarik dengan diskusi-diskusi bersama teman-teman dari negara lain. Berbicara tentang jalan-jalan ke luar negeri, beberapa dari mereka itu bukan dari kalangan aristokrat, bangsawan atau priyayi. Sebagai contoh saya punya teman bernama Yuto, dia dari Jepang dan setidaknya dia sudah menjelajahi lebih dari 10 negara. Dia travelling dan hidup di negara-negara tersebut bukan karena dia kaya dan bisa melakukan apa saja dengan uangnya, melainkan ambisi yang kuat dan kemauan tinggi untuk memenuhi keinginannya untuk berkelana dan bertualang. Anda bayangkan tiap kali dia masuk negara baru, dia langsung cari kerja. Mau ditolak atau tidak yang penting dapat kerja dulu. Kerjanya juga bukan kerja-kerja pejabat atau pengusaha, dia kerja sebagai kasir supermarket, kadang jadi cleaning service, kadang jadi pramusaji restoran, kadang kerja di peternakan swasta tapi dari pekerjaan-pekerjaan kecil tersebut, dia akhirnya keliling dunia, travelling, hedon, ngewe’ dan lain sebagainya.
Ku rasa menjadi manusia bebas seperti itu asik juga. Kau tidak perlu berkutat dengan masalah-masalah di Indonesia sampai lupa bahwa kau juga punya kehidupan. Tak perlu kau lacurkan dirimu untuk sesuatu yang tidak ada habisnya. Karena pada akhirnya negara akan membuangmu jika kau tidak se’warna’. Pastinya saya tidak akan melalui jalan yang sama seperti Yuto. Saya terlalu culun untuk gambling setiap hari seperti dia. Namun menjadi manusia bebas yang tidak terikat dengan dikte moral masyarakat, ku rasa akan menjadi tantangan tersendiri dalam hidup.
Di masa perpanjangan waktu ini, ku putuskan untuk melanjutkan cita-cita ayahku untuk menjadi generasi penerusnya di Universitas. Dan tentunya dengan ‘cara’ ku, bukan ‘cara’nya. Lain daripada itu, saya juga masih ingin main billiard, ke warkop dengan Fadhil atau Faisal atau adik-adik mahasiswa lainnya. Nge-jam bareng Adhewans (artis ibu kota kita semua), Aldhy, Aswan. Kopdar dengan Ilham, Iman, Arief, Om ImotJ

Komentar
Posting Komentar