Pedagogi Dosa #6 “Filosofi Onani dan Penciptaan Karya: Pembicaraan Tanpa Hukum dengan Litera Sandy”

 

Kendari, 5 September 2020

[Ku kira buku itu hanya bisa membebaskan pikiran-pikiran yang terpenjara, ternyata ia mampu memenjarakan juga. Ku kira naif itu hanya sekedar nama band yang digawangi David Bayu cs, ternyata manusia paling jago malu-malu anjing. Ku kira dungu itu hanya sebatas satire Rocky Gerung, ternyata ia eksis-narkissos di depan mata ku. Sintesa kali ini bisa dikatakan unik karena selain re-uni dengan abangku Litera Sandy (kaka Endy), pembicaraan kita dihadapkan pada realitas dimana seksualitas manusia (ternyata) berhubungan dengan tindakan-tindakan penciptaan karya, ekspresi ketertarikan, pembuktian jati diri sampai kemewahan yang dihasilkan dari tindakan-tindakan tersebut. Dan seperti judulnya yang ‘Tanpa Hukum’, tulisan ini tidak diperuntukkan untuk anda yang punya pemikiran konservatif demi menjaga mental dan kewarasan pikiranmu.]

Pertemuan kembali dengan kaka Endy kali ini tidak lagi berbicara tentang psikologi tulisan tangan atau janjian main billiar semata, tetapi juga sebagai tukar tambah pikiran yang akan menjadi pijakan awal merealisasikan mimpi-mimpi yang telah direncanakan. Kita berimaji ketika karya-karya kami sudah mampu membuat kami berdiri sendiri, maka disitulah puncak dari segala kepuasan duniawi gugur. Dan saya selalu percaya jika balas dendam terbaik adalah hedonisme, karena ketika hedonisme telah kau capai, kau telah menyeimbangkan semua sumber daya yang ada agar kebutuhan orientasi mu kepada hal-hal yang ingin kau lakukan agar bisa direalisasikan.

Berbicara tentang orientasi, pembicaraan kita mengarah pada orientasi seksual manusia. Kami sepakat bahwa, ternyata, onani (masturbasi) memiliki kesamaan dalam menciptakan sesuatu. Onani adalah tindakan (yang umumnya dilakukan oleh laki-laki) mengeluarkan cairan sperma dan memperoleh kepuasan seks tanpa melakukan senggama. Beberapa orang mengganggap tindakan ini sebagai ‘pelarian’ atas hasrat bersetubuh dengan orang lain yang tidak bisa dilakukan. Faktornya tentu saja ada banyak, seperti belum berjodoh, jomblo, belum cukup umur, menjaga harga kehormatan, dll.

Ketika berbicara onani, pikiran orang akan menjurus kepada tindakan asusila pada diri sendiri. Stigma orang yang telah terbentuk sekian lama dari tradisi-tradisi yang ada, melihat tindakan ini sebagai perbuatan hina dan melawan norma kemanusiaan. Karena wawasan kita yang dibangun sejak kecil terbentuk sedemikian rupa untuk merespon tindakan ini. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya justifikasi yang mencela perbuatan ini dengan alasan dosa, moralitas, kehormatan, dan cenderung memotong keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu yang ingin dilakukannya. Padahal di tahun 2020 ini, mengurusi moral orang lain seharusnya sudah menjadi hal tabu. Karena kita hidup dijaman dimana mencela, menghina, mendiskriminasi pada apapun yang berbeda menjadi tidak relevan dengan teori pasar persaingan sempurna. Alasannya? Cari sendirilah teori pasar persaingan sempurna. Akan panjang sekali kalo saya jelaskan lagi dari awal sampai terhubung dengan tesis tadiJ

Ketika beronani, anda akan berfantasi membayangkan objek (laki-laki biasanya perempuan) yang menjadi pemuas gairah akan senggama dengan tubuh orang lain. Fantasinya juga macam-macam, dari yang lumrah sampai yang paling tidak masuk akal. Dengan perempuan, laki-laki, benda-benda atau lain sebagainya. Ada kenikmatan yang dirasakan ketika proses pengeluaran sperma tersebut berlangsung. Dan ketika sperma mu keluar, disitu pula kepuasanmu terbayar. Seperti ketika menciptakan karya; Pada dasarnya prinsip pembuatan karya sebagai proses mencapai kenikmatan itu adalah sama. Karena ada fantasi dan imaji yang digunakan ketika menciptakannya.

Karya yang baik adalah karya yang diciptakan sesuai dengan orientasi penciptanya. Letak nilai dari karya seni itu sendiri tidak lepas dari fantasi kreatornya. Mari mengambil contoh dari lagu sebagai salah satu contoh karya seni yang gampang di interpretasikan; Jika anda pernah mendengarkan lagu-lagunya Sticky Fingers, salah satu lagunya yang berjudul Australia Street itu mendeskripsikan tentang kehidupan anak-anak muda Australia yang bisa menemukan kesenangan dimana saja, bahkan hanya di jalanan sekalipun. Mereka mengampanyekan bahwa di Australia, kebahagiaan dan kesenangan tidak melulu dihasilkan dari hal-hal ekslusif sarat akan unsur-unsur borjuasi. Mereka ingin mengatakan bahwa kau tidak perlu memakai brand-brand seperti Chanel, Gucci, Dolce Gabana atau nongkrong di mall-mall besar, restoran mahal, atau pula berbelanja hingga kartu kredit mu mencapai limitnya untuk terlihat keren seperti halnya prestise yang sering berseliweran dimedia sosial saat ini. Cukup keluar bersama teman-temanmu ke taman atau skate park bermodalkan beer atau minuman lainnya ditangan tanpa harus merasa segan dan takut bertemu orang-orang baru yang akan kau jumpai nanti. Kalo ada uang lebih mungkin kau bisa piknik dan barbekyu-an di taman, and after all.. man fuck, that was good time!

Hal ini sesuai dengan kehidupan para personilnya yang liar, drugs addict serta hobi pesta. Terlepas dengan baik buruknya persepsi orang terhadap gaya hidup semacam ini, fenomena ini memberikan intisari bahwa kehidupan seharusnya berjalan itu seperti itu; Anda bebas melakukan sesuatu yang ingin anda lakukan tanpa harus memaksakan standar kebaikan orang lain dalam diri anda. ‘Ejakulasi’ (kemewahan) lagu ini sampai kepada pendengarnya, pesan positifnya pun dapat sekali. Gabungan antara lirik, delay gitar yang syahdu, struktur komposisi nada dan materi lagu yang tidak berlebihan, hingga nada-nada yang rebel tapi ‘santun’ menjadi nilai tambah yang baik bagi Sticky Fingers. Dan semua itu terbukti, Australia Street masuk sebagai lagu Sticky Fingers ke-2 setelah ‘How to fly’ terbanyak didengarkan di dunia versi Spotify.

Kembali ke pembahasan onani dan karya tadi, ingin sekali ku katakan (walaupun ku sadari ini sangat subjektif) bahwa sebenarnya Indonesia itu kekurangan pemabuk alkohol kebanyakan pemabuk agama. Orang Indonesia kurang santai ketika menghadapi sesuatu. Apa-apa di hukum.. untuk berpendapat orang pun tidak santai menyikapinya (pake UU ITE, langsung pengadilan-penjara). Mengeritisi atau memberi komentar pada suatu hal juga ribetnya sama kayak ngurus persiapan keluar negeri.

Seperti temanku yang rupawan ini, sebut saja bunga (ga usah disebut namanya, nanti saya diteraktir kopi lagi, ehe) Ketika kita ngobrol di warkop di dua-tiga pertemuan terakhir, untuk menangkap jalan pikiran dari rencana-rencana yang akan ku lakukan ke depan pun doi harus menanyakan idealisme apa yang akan ku pakai untuk menjalankan itu semua. Semula ku pikir ketika doi menanyakan idealismeku, ia hanya ingin tau tentang seperti apa prinsipku ketika memulai itu semua, cek per cek, ternyata yang doi maksud adalah hal yang benar-benar sejenis ideologi seperti Liberalisme, Sosialisme, Kapitalisme dll.. Hahahahaha, anjing fuck lah.. ribet kali aku mau jelaskan itu semua. Padahal rencanaku hanya ingin buat rumah billiardL. Haruskah saya dan diriku melebur ke dalam ideologi-ideologi tai kucing semacam itu untuk membangun rumah billiard? Jadi saya harus bangun rumah billiard yang pancasilais, gitu?

Saya sepakat jika perencanaan itu harus terstuktur agar mengurangi risiko yang memicu kegagalan saat kedepan, tapi kalo strukturnya sudah ribet begitu, ya struktur toxic berarti. Makanya di awal tulisan ini saya buka dengan ‘ternyata buku bisa memenjarakan juga’. Artinya, tidak semua hal harus di terminologi kan. Bagi yang mau berpikiran seperti itu ya tidak apa-apa dan tidak jadi soal. Karena saya tidak akan peduli juga pada akhirnya. Saya tidak ingin fantasi dan imaji itu kabur karena struktur perencanaan yang berbelit-belit. Yang berpotensi mengurangi ejakulasi nya nanti :)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pedagogi Dosa #9: Ceteris Paribus (Ludens Yang Mempecundangi Kejujuran)

Pedagogi Dosa #11 Moral Hazard Dalam Baju Nasionalisme

Pedagogi Dosa #12: Collateral Damage dan Ketidakbergunaan Perang