Pedagogi Dosa #7. Rhythm 0: Penyeragaman, Tentang Hasrat Terdalam, dan Segala Bukti yang Membantah Standar Moral Manusia Hari Ini.
Sebuah Penghormatan untuk Marina Abramovic dan semua karya-karya agungnya.
[Ini adalah tulisanku yang paling berat sejauh ini. Beberapa kali saya berhenti menulis untuk menghela nafas atau sekadar membakar rokok karena dipertengahan ketikan terbayang kembali tentang apa saja yang terjadi di dalam eksperimen yang dilakukan Marina Abramovic. Hal ini memberikanku kesimpulan baru tentang apa yang kita yakini sebagai moral. Bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya moral. Moral itu hanya diksi yang digunakan untuk mengontrol manusia agar tidak mendobrak batasannya dalam artian ada seseorang/golongan yang tidak ingin manusia-manusia ini lebih superior darinya. Seperti Yuval Noah Harari yang memberikan bukti bahwa tidak ada yang namanya Hak Asasi Manusia, saya mencoba untuk menghubungkan semiotik dari mitos-mitos yang berlaku di masyarakat dan mencoba memperlihatkan sebab-akibat lahirnya sarkas-sarkas vulgar pada demo 11 April kemarin.]
Kau tau? Ketika mengulas sesuatu, terkadang orang-orang berpikir tentang hal-hal terbaik versinya. Hal-hal yang bila dihadapkan dengannya ia akan memberikan jawaban dengan versi terbaiknya. Seperti Watch Mojo di youtube yang memberikan (setidaknya) 10 hal terbaik dalam suatu objek yang dikulasnya. Sebagai contoh jika orang bertanya padaku tentang kira-kira lagu apa yang pantas untuk dinobatkan sebagai lagu yang paling bagus di dunia, saya akan menjawab Stairway to Heaven oleh Led Zeppelin, atau Film apa yang menurutmu paling kau favoritkan, tentu saja akan ku jawab The Shawshank Redemption (1994). Nah, sekarang jika orang bertanya padaku pertunjukan seni apa yang kau tau paling hebat, akan ku jawab Rhythm 0 Project adalah pertunjukan seni terhebat yang pernah di ciptakan oleh manusia.]
Sekilas tentang Rhythm 0, Rhythm 0 adalah Art Performance yang di lakukan oleh seorang wanita bernama Marina Abramovic yang berdiri diam selama 6 jam dan MEMPERBOLEHKAN penontonnya MELAKUKAN APA SAJA dengan 72 benda yang di siapkannya termasuk bunga mawar, roti, anggur, GUNTING, PAKU, PISAU BEDAH, hingga PISTOL dengan 1 peluru di dalamnya, KEPADANYA dan TERHADAPNYA tanpa takut terkena sanksi apapun. Marina pula mengatakan bahwa ia bertanggung jawab penuh untuk semua hal yang terjadi dalam periode 6 jam tersebut.
Dan hasilnya benar-benar mengerikan. Pada jam-jam pertama penonton cenderung melakukan hal yang tidak berbahaya seperti memberinya kue, memberinya bunga mawar, memindahkan posisinya, atau menuliskan sesuatu dikulitnya. Keadaan mulai liar ketika mereka menyadari bahwa Marina benar-benar tidak akan membalas mereka atas apa yang mereka lakukan kepadanya. Salah satu dari mereka merobek baju Marina, menelanjanginya, dan melukai lehernya dengan silet serta meminum darahnya. Ada juga yang meraba dan menyentuhnya secara tidak sopan. Aksi tidak sopan ini tidak berlanjut ke tingkatan yang lebih parah karena penonton datang dengan istri-istri mereka.
Aksi mengerikan ini berhenti sejenak ketika ada salah satu penonton memeluk tubuh Marina. Beberapa dari mereka (mungkin) merasa iba dan mengobati luka-luka Marina yang di akibatkan tindakan-tindakan sebelumnya. Bangsatnya, ketika pihak yang mengobati luka ini sedang bekerja, beberapa orang lain mencoba melakukan aksi yang lebih parah dan ada juga beberapa orang yang ingin menikmati momen langka ini. Bagian ini pecah sih, kau bayangkan ada orang yang ingin MENIKMATI momen langka ini. Menikmati menyakiti sesorang yang tidak mempunyai perlindungan sedikitpun. Dengan kuasanya, dia bebas menentukan apa saja yang akan dilakukan pada sesorang sekalipun kematian menjadi konsekuensinya. Kejadian ini jelas membuktikan bahwa Hasrat Terdalam manusia bisa mendobrak moral yang selama ini kita agungkan dan memperlihatkan bahwa sejatinya moral itu tidak eksis.
Rhythm 0 karya Marina Abramovic ditampilkan untuk memperlihatkan sisi gelap manusia jika mereka diberi kuasa untuk melepasnya. Saya pribadi menilai sisi gelap itu sebagai hasrat terdalam manusia atas kebebasan yang diberikannya. Bahwa moral tidak eksis mempertanggung jawabkan serta mencerminkan tindakan-tindakan yang manusia lakukan. Bahwa hasrat terdalam manusia benar-benar jahat, ia adalah keegoisan yang menghancurkan.
Kesimpulan yang bisa di tarik dari Karya ini adalah adanya ‘Hati’ yang KUAT dari Marina Abramovic yang menyimbolkan bahwa kita tidak akan lepas dari kejatuhan-kejatuhan yang akan kita alami, dan saat itu terjadi, kita bisa belajar untuk berdiri kembali, serta ‘Hati’ yang TIDAK BAIK dari pihak penonton yang mewakili hal-hal yang tak terelakkan di dunia. Moral tidak akan menyelamatkanmu dari ancaman-ancaman yang akan datang dikemudian hari. Moral tidak akan membuat pacarmu mengurungkan hasrat terdalamnya untuk menidurimu suatu saat nanti. Dan moral tidak akan hadir dalam keadaan-keadaan susahmu. Hal ini dikuatkan oleh ungkapan yang biasa kita dengar; Orang akan melakukan apa saja dalam keadaan lapar. Jika moral benar-benar ada, prostitusi tidak akan menjadi profesi tertua didunia.
Berbicara tentang Hasrat Terdalam dan terkait Demonstrasi 11 April kemarin, sejauh ini yang saya pelajari tentang Demonstrasi, Demonstrasi itu pertunjukan yang di lakukan di ruang publik baik perseorangan maupun kolektif yang ditujukan untuk membuktikan eksistensi suatu pernyataan. Demonstrasi adalah menyalurkan hasrat terdalam mereka yang merasa tertindas. Hasrat-hasrat itu disampaikan melalui aspirasi yang dibawa kepada yang menyelenggarakan sistem, wadah, atau apapun yang berkepentingan. Dan diantara mereka yang menyampaikan hasrat-hasrat tersebut harus kita pahami dengan rendah hati bahwa tidak semua orang memiliki pemikiran yang seragam tentang cara atau metode untuk menyalurkan aspirasi yang akan mereka gunakan.
Maksudku begini, kita sudah menyepakati bahwa penyeragaman itu tidak baik, karena penyeragaman menutup alternatif pikiran yang akan muncul dikemudian hari. Dengan otak yang berbeda-beda akan tolol sekali jika kita menyeragamkan standar terbaik untuk melakukan sesuatu adalah standar kita sendiri. Kita tidak bisa selamanya berpura-pura bahwa standar perjuangan versi kita adalah yang paling baik. Perihal sarkasme atau sarkasme vulgar di ruang publik yang viral di media sosial termutakhir kita, Instagram, pasca demonstrasi tersebut dianggap sebagian (mungkin mayoritas) pelaku dan simpatisan demonstrasi sebagai sesuatu yang mencederai perjuangan.
Semua jawaban yang antipati berbicara perkara moral yang ditunjukkan mahasiswa dan almamaternya. Sekali lagi saya katakan, moral itu tidak ada. Sekalipun kau tetap kekeuh harus kau sadari bahwa moral itu bukan sesuatu yang bisa di DIKTE. Bagi orang muslim, perempuan yang tidak menutup aurat itu tidak bermoral karena ia memperlihatkan bagian tubuhnya yang tidak boleh dilihat oleh laki-laki. Namun faktanya, banyak juga muslim perempuan yang tetap berpegang teguh dengan agamanya meski tidak menutup aurat. Contoh selanjutnya, di Indonesia standar berpakaian yang sopan dan bermoral adalah menggunakan kemeja, celana panjang, dan memakai sepatu. Mungkin lengkap dengan Jas dan dasi bila hadir di acara penting. Kalo perempuan biasanya pake kebaya, yang notabane nya menutupi sebagian besar kulit. Tapi di negara lain standar itu berbeda dengan standar formal kita. Bahkan baju kurang bahan pun bisa menjadi pakaian formal-bermoral untuk orang disana. Dan kurasa sudah cukup kita berbicara moral dengan penjelasan moral yang telah saya jabarkan diatas.
Ada lagi yang bilang kalo sarkas-sarkas vulgar tersebut mencederai perjuangan teman-teman yang berjuang untuk mengesahkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Awwahh! Kau tidak pikir perjuanganmu tentang RUU PKS itu awalnya dari situ? Dari kejadian/peristiwa seperti itu? Dari mitos-mitos yang timbul dimasyarakat sehingga berkembang menjadi semiotika yang menciptakan humor, guyonan, sarkasme, analogi, dan cocoklogi dari peristiwa mengerikan tersebut dan harusnya itu sejalan dengan perjuangan yang kau, dia, dan mereka lakukan.
Ada juga yang antipati karena pelaku sarkasme vulgar seperti itu dianggap hanya sekedar pansos (Panjat Sosial). Secara etimologi panjat sosial diambil dari kata dalam bahasa Inggris; Social Climber. Dan kalo saya tidak salah ingat kata ini mulai merebak ketika ada salah satu anggota grup sosialita di Amerika atau Inggris atau negara-negara sejenisnya (saya lupa) selalu memperlihatkan dirinya sebagai sosialita yang kaya raya di media sosial namun ternyata dibalik postingan-postingan mewah tersebut dia berhutang banyak untuk membuatnya, mirip dengan kasusnya Anna Delvey. Tapi sekarang sepertinya kata Pansos sudah berkembang maknanya untuk mendeskripsikan seseorang yang selalu ingin terlihat superior namun ekspektasinya tidak sejalan dengan kenyataan. Untuk kasus ini saya mencoba sebisa mungkin memberikan opini yang objektif karena saya pun tidak menyukai orang yang panjat sosial.
Apakah senior dan kanda-kanda yang memaksa mahasiswa baru ikut berdemonstrasi tidak bisa dikatakan pansos? Kan poin dari pansos adalah terlihat superior. Kalo kita sepakat menjustifikasi kalo mereka yang membawa slogan sarkas vulgar itu pansos seharusnya kita fair juga untuk menganggap mereka yang berorasi digaris depan adalah bentuk dari sebuah tindakan yang dinamakan Panjat Sosial. Karena dari berorasi dan berdiri paling tinggi diantaranya menciptakan konsekuensi superioritas. Lantas kalo iya, untuk apa lagi kita memusuhi diksi yang bernama Panjat Sosial? Toh semua orang melakukannya.
Sekarang pertanyaannya adalah, Bagaimana bisa sarkas-sarkas vulgar tersebut bisa dikatakan mencederai perjuangan? Kalo saya, sampai tulisan ini diposting, tetap tidak menemukan letak kesalahan yang mereka lakukan. Dan perlu digaris bawahi sebagai disclaimer, tulisan ini tidak bertujuan untuk MENYETUJUI slogan-slogan tersebut beredar, tetapi untuk membuka ruang bagi teman-teman yang berjuang dengan metode yang berbeda-beda.

Komentar
Posting Komentar