Broken Jaw: Tentang Apa yang Bisa dan Tidak Bisa Kita Miliki

 Kendari, 20 April 2022

[Sifat alami dari sebuah lagu adalah ia bisa kau nikmati di saat terburuk dan terbaik mu. Keindahan karya seni yang di ciptakan oleh beberapa orang yang disebut grup/band tersebut seakan mampu memahami segala emosi dan perasaan bagi mereka yang mendengarnya. Ia juga mampu membuatmu mengevaluasi apa yang telah kau lakukan, apa yang telah kau lalui, dan apa yang telah membentuk keadaanmu dewasa ini. Di antara yang patah dan yang gugur, ku gantungkan impian untuk memiliki mu di balik pintu kamar ku.. hingga tiba waktu ku.. karam menangisi kegagalanku meraih apa yang sangat ku inginkan lebih dari apapun.]

Ia terbang setinggi langit bersama bintang-bintang yang menyertainya. Menembus gelapnya ruang angkasa hingga hampir tak bisa ku jangkau. Lebih 7 tahun ku selami filsafat ilmu, berusaha menagih janji darinya. Ku korbankan segalanya untuknya, untuk apa yang ia katakan sebagai ‘mendekati kesempurnaan’, hingga akhirnya ku dobrak batasku.. ku seberangi garis aman ku.. dan mendapati diri ku tidak lebih dari seonggok daging hidup yang tak mampu menggapai mimpi-mimpinya. Seonggok daging yang terlalu arogan untuk menerima kebaikan-kebaikan yang di hasilkan dari hal yang kontroversi sekalipun. Seonggok daging yang menyadari pada akhirnya ia tak mampu memiliki mu.

Di usia yang memasuki tahun ke 27 ini, ku sadari bahwa untuk membeli rokok saja saat ini diri ku tak mampu. Jika bukan karena gaji toko yang di ‘ringankan’ oleh ibu, mungkin tidak ada usia ke 26 untuk ku. Mungkin Tuhan sedang menghukumku atas arogansi ku di masa lalu. Mungkin Tuhan sedang tidak tersenyum padaku atas penilaian yang sudah ku lakukan pada orang lain. Justifkasi-justifikasi ego atas nama filsafat dan ilmu pengetahuan yang ku berikan pada orang lain menggunakan kemampuan yang Tuhan berikan padaku. Seperti memberikan senjata pada orang yang salah. Dan tak bisa ku percaya semua itu telah ku lakukan.

Jika mengingatmu, selalu ku buat sejenis rekonstruksi keadaan; seandainya begini, seharusnya begitu, dan biasanya ada kambing hitam yang harus di salahkan. Namun sekarang ku sadari, semua itu bukan salah siapa-siapa. Semua murni karena kesalahanku. Diri ku sendiri yang mengatur dan mengambil setiap keputusan buruk selama ini. Dan seperti kata pepatah, apa yang kau tanam itu yang kau tuai. Mungkin keadaan seperti ini yang sedang ku tuai. Keadaan dimana diriku tak mampu menggapai mu. Terima kasih pada kultur bangsa(t) Indonesia yang mendorong setiap anak-anak mereka untuk cepat menikah, berkatnya peluang ku untuk memiliki mu semakin kecil.

Rasanya ingin ada sebotol whiskey dengan es batu di meja ini, ehh.. vodka-redbull juga tidak apa-apa. Tapi ini bulan Ramadhan, Adoohh!

Apa yang usang namun tetap berdiri menantang? Jawabannya adalah pohon palem. Dari dulu pohon palem selalu menjadi simbol untuk mendeskripsikan hal-hal yang menyenangkan. Contoh, pulau, liburan, hiburan, pantai, daerah tropis, dsb. Sejak menyadari makna ini beberapa tahun lalu, rasanya ingin ku hidup sepertinya. Berumur panjang, melawan angin, suhu, udara, dan tetap berdiri menantang. Jauh sebelum orang mengenal kata ‘healing’, pohon palem sudah mengajarkan pada kita kalo hidup ini hanya panggung hiburan yang tak lebih dari pertemuan antara beberapa semiotika kehidupan. Yang tidak bermakna dan tidak signifikan. Namun ia tetap berdiri meski terpaan hujan, panas, dan dingin menyerang.

Baru saja ku selesaikan 2 season pertama series Netflix Narcos. Dan ku tandai hal yang menjadi garis besar series pengejaran Pablo Escobar itu adalah tentang benar dan salah yang bersifat relatif. Bagaimana perjuangan agen DEA Javier Pena yang mempertaruhkan segala-galanya di dalam hidupnya untuk menundukkan seorang Pablo Escobar. Segala-galanya dalam arti segala-galanya; dunianya, kehidupan pribadinya, keluarganya, cintanya, korban-korban perjuangannya, demi melayani sebuah negara bernama United States of America. Dan menerima kenyataan pahit namanya tidak pernah di akui sebagai orang yang paling berjasa menuntun semua elemen pemerintah Colombia dan Amerika pada Escobar. Ia dikhianati oleh instansi dan sekutunya sendiri di menit-menit terakhir.

Seperti halnya Narcos, mungkin benar-salahnya diriku tidak mampu mendapatkanmu adalah hal yang relatif. Dulu ku pikir apa yang telah ku lakukan ku anggap sebagai sebuah usaha untuk ‘melayakkan’ diri ku menghadapi dunia seperti mu. Namun sekali lagi, hitunganku salah. Satu-satunya hal yang bisa menyelamatkanku sekarang adalah waktu. Ini akan menjadi 5 tahun yang krusial dalam hidupku, di mulai dari sekarang. Jika tiba waktunya dan kau masih ada dalam jangkauanku, akan ku pastikan sendiri aku lah tujuanmu. Bumi dan segala isinya takkan mampu membendungku, Samudra takkan mampu menenggelamkanku, hutan takkan mampu menyesatkanku, dan langit.. langit takkan mampu menelanku ku kekasih.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pedagogi Dosa #9: Ceteris Paribus (Ludens Yang Mempecundangi Kejujuran)

Pedagogi Dosa #11 Moral Hazard Dalam Baju Nasionalisme

Pedagogi Dosa #12: Collateral Damage dan Ketidakbergunaan Perang