Yang Tak Pernah Terbit


Putri (Malu)

Panas, debu, dan udara.

Menyerang sekumpulan bunga.

Ia tidak cantik namun indah tuk dinikmati.

Menyadarkan bulan jika cahayanya hadir berkat matahari.

Maret 2017

 

Pejuang Senyum

Pantai dan Senja.

Di antaranya bersemi paras-paras aristokrat.

Yang tercermin dalam heningnya lautan.

Hari ini dunia belajar tentang senyum dan luka.

Bagaimana kita bertindak..

Dan bagaimana kita menyikapinya.

Dan langkah ini kan tetap tegak.

Menerjang duri dan krikil di jalanan.

Tumpahan darah bersimbah di tanah usang.

Suburkan emas dan perak yang terbentang.

Kesenjangan hadir sebagai hakim moral.

Bercerita tentang dogma yang termentahkan.

Lakon ini tidak sesempurna cerita Cinderella.

Yang berakhir indah dengan sepatu kacanya.

Dan air mata itu mahal.

Tidak boleh kau jatuhkan sembarangan.

Menjadikannya sebagai satu-satunya alasan untuk kita..

Berjuang demi senyuman..

April 2017

 

Terdogma Rupawan

Pasir pantai mendominasi.

Sinar senja yang menyelimuti.

Karang hanyut menerka apati.

Menyatakan dirinya vandalis sejati.

Lucunya, mereka terdogma rupawan.

Dan penonton mulai bertepuk tangan.

Seakan setuju dengan pembodohan masal ini.

Dan hujan mulai menyelimuti bumi.

Air mata yang menyambut wajah republik ini.

Apa yang telah kita lakukan hari ini?

Lakon drama semesta dengan jerit-tangis yang mewarna.

Mei 2017

 

Hujan di Musim Kemarau

Selaras dengan sinar mentari

Ia jatuh bersama jutaan kabar yang tak bisa ku akhiri

Membawa tangis dan perih

Dalam hari-hari yang penuh emosi

Tragedi itu bukan akhir dari segalanya

Berkatnya, akal kembali menyegar

Sesegar rumput yang basah karena hujan di musim kemarau

Mengembalikan madu dan manisnya pada tiap tetesannya

Juni 2017

 

Senja Dari Dalam Burung Besi Raksasa

Senja dari dalam burung besi raksasa.

Fenomena yang menandai akhir dari drama kehidupan hari ini.

Simbol yang menandakan ketidaksempurnaan dunia ini.

Akhir dari manusia dengan segala kekurangannya.

Yang menghujam gerak waktu.

Oktober 2017

 

Sorot Kedengkian

Di antara bayang-bayang Lenin.

Ia tak bergeming.

Menghadapi paradigma yang terbelah.

Dalam gelap.

Ia memperlihatkan jari tengahnya.

Pada hegemoni yang bertahta.

Oktober 2017

 

Obituari

Cahaya itu meredup meremang tenang..

Iringi langkah-langkah para pendosa.

Menyusuri lorong sempit tak bertuan.

Tenggelam perlahan dalam sepinya gelap.

Benar dan kebenaran itu tidak ada.

Yang ada hanya kesepakatan.

Layaknya fatamorgana, raga ini meniscayakan ada dan nyata.

Namun kenyataan itu agak mengesalkan.

Sebab kenyataan menyatakan sebab-akibat.

Dan ekspektasi menyatakan akibat-sebab.

Perlukah perdebatan dipertontonkan?

Perlukan demarkasi dipertegas?

Perlukah air mata memperlihatkan wujudnya?

Atau harus menyalahkan Ibu?

Yang menurunkan berkat pada keturunan.

Desember 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pedagogi Dosa #9: Ceteris Paribus (Ludens Yang Mempecundangi Kejujuran)

Pedagogi Dosa #11 Moral Hazard Dalam Baju Nasionalisme

Pedagogi Dosa #12: Collateral Damage dan Ketidakbergunaan Perang