Pedagogi Dosa #10: Keberpihakan? Untuk Apa?
[Di saat tulisan ini di buat, tak sengaja ku lihat postingan @denapery di beranda instagram ku. Di salah satu foto yang doi upload terdapat tangkapan layar yang memperlihatkan kolom bagian “tambahkan musik” saat kau ingin mengunggah foto di instagram bertuliskan: Spectrum oleh Zedd feat Matthew Coma. Membuatku kembali membuka spotify untuk mendengarkan salah satu lagu yang mengiringi masa-masa “Muda Beda dan Berbahaya” anak-anak di jaman itu. Singkat cerita paragraf pertama lagu ini berbunyi: “Breathing you in when I want you out, Finding our truth in a hope of doubt, Lying inside our quiet drama” yang kalo di artikan kurang lebih seperti ini: “Kau menghirup ketika aku mau kau menghembuskan, Temukan kebenaran dalam harapan yang meragukan, Bersemayam dalam drama senyap kita”. Sulit di maknai ke dalam Bahasa Indonesia namun ku rasa bagi mereka yang paham Bahasa Inggris akan mengerti maksud dari lirik tersebut. Menjadikannya sebagai gap yang pas untuk menggambarkan keberpihakan fana yang terus mengkhianati seiring berjalannya waktu dan terus memberiku bukti tentang antipati ku pada kehidupan]
Beberapa hari lalu kita digemparkan oleh yang dipertuan Bapak/Ibu DPR yang mendadak membahas Revisi UU Pilkada setelah Mahkamah Konstitusi mengeluarkan putusan terkait Pencalonan Kepala Daerah. Dan seperti biasa semua pihak yang merasa dirugikan mengutuk keputusan ini. Demonstrasi besar-besaran dilakukan di beberapa kota besar, mahasiswa turun ke jalan begitu pula dengan beberapa masyarakat yang merasa terpanggil untuk melakukan aksi ini. Dan harus ku akui demonstrasi kali ini memberikan hasil yang lebih baik dari demonstrasi-demonstrasi yang terjadi sebelum-sebelumnya. DPR resmi membatalkan Revisi UU Pilkada meskipun berita ini harus tetap dikawal mengingat kejadian-kejadian yang telah terjadi sebelum-sebelumnya. Sayangnya penjabaran di atas bukan poin inti mengapa tulisan ini hadir, melainkan tentang keberpihakan mereka (termasuk saya sendiri) yang sudah terlalu skeptis dan nyaris tanpa harapan pada pergerakan-pergerakan sejenis ini.
Adhewans bertanya tentang pendapatku via instagram mengenai analog horor yang berisi peringatan darurat yang viral dimana-mana setelah kabar Revisi tersebut mencuat ke publik. Dan jawaban pertamaku adalah: “Wkwk, Berkuasa barang siapa yang mampu”. Aneh, karena jika ku pikir lagi jawabanku tidak akan seperti ini jika masalah tersebut muncul 5 atau 6 tahun yang lalu. Alasanku jelas, dalam kasus seperti ini keberpihakan antara yang pro dan yang kontra adalah sama dengan 0. Jika yang pro menang mereka akan melanjutkan apa yang sudah mereka mulai baik itu buruk, jelek, benar ataupun salah, dan jika yang kontra menang juga akan ditunggangi oleh orang-orang buruk lainnya dengan asumsi kesamaan tujuan. Dan hal ini terus berlanjut dari dulu hingga detik ini. Polanya akan selalu sama. Mereka yang murni berjuang perlahan terkhianati oleh perjuangannya sendiri. Mereka yang murni menginginkan perubahan yang baik atas negeri ini perlahan menyadari bahwa mereka hanyalah boneka dari orang-orang buruk yang juga ingin menjadi penguasa di Republik ini.
Benci ku katakan ini namun Tuhan sepertinya menaruh benar dan kebenaran di tempat yang abu-abu. Di wilayah manusia tidak bisa memilih apakah dia harus putih atau hitam. Di tempat manusia akan menilai kebenaran menjadi tidak sejati. Di sisi lain, sentimen akan orang-orang yang skeptis ini cenderung di marjinalisasi dengan hujatan-hujatan “Tolol”, “Tidak Paham Demokrasi”, “Buzzer Pemerintah”, dsb. Yang mana menurutku menjadi tidak adil bagi mereka yang memilih untuk tidak bertindak apa-apa. Bayangkan kau turun ke jalan melakukan aksi karena “katanya” demokrasi sedang tidak baik-baik saja, di jalan kau bertemu dengan musuh pihak yang kau demo, sepakat dengan mereka bahwa pihak yang kau demo saat ini meluluh lantakkan demokrasi, perjuanganmu berhasil, dan kau tetap berekspektasi jika kepemimpinan selanjutnya akan tetap membawa nilai-nilai perjuangan yang kau anut? Cuihhh... Naif sekali.. padahal Naif sendiri tau dimana dia berada.
Jika kau belajar Statistik dan Ekonometrika kau akan tahu jika salah satu sejarah utama dari penelitian adalah bagaimana kita bisa melihat satu variabel mempengaruhi satu variabel lainnya. Dalam pendekatan kuantitatif metode ini disebut OLS (Ordinary Least Square) yang berfungsi untuk memberikan penduga koefisien dalam model regresi. Model regresi itu sendiri memiliki persamaan yang dinyatakan sebagai (Penjelasannya sila cari di internet karena panjang sekali jika di ketik). Asumsikan Y adalah pihak yang pro karena Y adalah variabel yang dipengaruhi dan X adalah pihak kontra atau pihak yang mempengaruhi, lantas pihak yang skeptis? Dalam statistik tidak ada data yang benar seratus persen. Dan ini sejalan dengan filosofi manusia yang mengatakan tidak ada manusia yang sempurna. Maka pihak yang skeptis dapat dinyatakan sebagai data error atau e. Melihat aksi kemarin DPR akhirnya memutuskan untuk membatalkan Revisi UU Pilkada. Dengan ini dapat ku katakan bahwa pengaruh yang diberikan oleh pihak yang kontra (X) berhubungan positif terhadap pihak yang pro (Y).
Namun disinilah lucunya negara kita, karena statistik pun ternyata salah membaca perilaku manusia-manusia kita. Meskipun X memiliki pengaruh terhadap Y namun e-nya (pihak yang skeptis) tetap bertambah. Hal ini di buktikan dengan penurunan jumlah pergerakan kemarin jika dibandingkan dengan jumlah pergerakan di aksi UU Cipta kerja atau aksi UU KPK yang mana hal ini menunjukkan jika semakin banyak variabel pengganggu maka akan membantu peningatan pengaruh terhadap Y padahal hal ini bertentangan dengan kaidah statistik yang baik dan benar.
Dulu Jrx pernah berkata Ketika kau melihat gajah menginjak ekor tikus dan kau mengatakan jika dirimu netral maka tikus tidak akan menghargai netralitasmu. Namun sekarang, sekalipun faktanya kau telah berpihak pada tikus dan tikus memberimu penyakit yang diakibatkan olehnya, lalu di kemudian hari terjadi peristiwa yang sama, kau memilih netral dan tikus masih tidak menghargai netralitasmu maka dengan lantang akan ku katakan say adios to your huevos..
Yaah.. berpihak dan keberpihakkan nyatanya tidak memberimu dampak yang signifikan untuk perubahan yang selama ini telah dicita-citakan. Dia tidak akan memperbaiki masalah-masalah utama yang dihadapi oleh negeri ini. Karena sejatinya manusia juga tidak luput dari nafsu untuk berkuasa dan menguasai. Dan pengkhianatan akan terus terjadi kepada mereka yang tidak sewarna dengan yang berkuasa. Dan harus ku garis bawahi tulisan ini bersifat opini yang bisa saja salah dan bisa saja benar. Karena pada akhirnya diriku pribadi tidak peduli dengan apapun hasil yang ditawarkan serta keberpihakan ku yang jelas ku berikan pada orang-orang ku pedulikan.

Komentar
Posting Komentar