Hidup Seperti Ozzy


 

Kendari, 23 Juli 2025

[It is with more sadness than more words can convey that we have to report that our beloved Ozzy Osbourne has passed away this morning. He was with his family and surrounded by love

~Sharon, Jack, Kelly, Aimee and Louis.]

Adalah sebuah kebohongan besar jika ku katakan diriku adalah penggemar fanatik Ozzy Osbourne. Dia bukan musisi yang menghiasi proses tumbuh kembang ku. Dia juga bukan tokoh yang menjadi referensi ku dalam hal apapun. Bahkan, tahu tentang Ozzy pun karena on the spot merilis ‘tujuh lagu yang dianggap bertema satanis’ yang disiarkan oleh trans7 sekitar tahun 2008/2009, ketika internet belum “segampang’ sekarang untuk di akses. Maju ke tahun 2011 hingga 2013, masa-masa SMA ku dihiasi dengan “praktik” metal dan musik-musik keras katakanlah Lamb of God, Arch Enemy, Trivium, Bullet For My Valentine, era awal Bring Me The Horizon, Suicide Silence era Mitch Lucker, dsb. Di masa itu (mungkin karena masih fase “young and dumb”) rasa penasaran untuk mengetahui fakta-fakta musik keras lainnya, ternyata menjadi kesenangan tersendiri untukku. Maksudku karena keterbatasan internet, informasi mengenai band-band metal untuk dibawa sebagai bahan cerita di tongkrongan memiliki sensasi tersendiri untukku. Singkat cerita, riset membawaku pada pertanyaan ‘siapa yang pertama kali mengusung konsep musik metal?’. Penelusuranku saat itu menemukan jika Black Sabbath adalah band yang memelopori musik metal pertama yang di implementasikan melalui lagunya yang juga berjudul Black Sabbath. Tidak sepopuler paranoid, warpigs, atau iron man, menurut internet pada saat itu, lagu ini (katanya) menjadi blue print musik metal di seluruh dunia lewat nada-nada rendah dan distorsi yang berat disertai lirik-lirik yang kelam. Dari situ, mulailah perkenalanku dengan Ozzy Osbourne, Tony Iommi, Geezer Butler, dan Bill Ward.

Kembali pada berita kematian Ozzy, menurutku Ozzy merupakan satu dari beberapa orang di dunia yang diberi semacam berkat untuk hidup sesuai kemauannya dari awal sampai akhir hayatnya oleh Tuhan. Coba kita runut: Dia anggota band legendaris Black Sabbath. Setelah keluar dari Black Sabbath, dia pun berhasil sebagai solois. Dia salah satu musisi yang lolos dari dekade 60an dan 70an, dimana Steven Tyler pun mengatakan bahwa lolos (tidak mati) dari dua dekade ini adalah sebuah keajaiban. Dia berhasil, secara sempurna, menghidupi keluarganya dan tetap mempertahankan kesenangannya pada alkohol dan obat-obatan lainnya. Dia juga berhasil sembuh dari pengaruh kesenangannya tersebut. Dia menikah dengan perempuan cantik yang setia menemani langkah-langkahnya hingga akhir hayatnya. Masa tuanya dipenuhi kehangatan keluarga yang jauh berbeda dari image metalnya. Anak-anaknya menghormatinya dengan kasih sayang (kecuali Aimee? – tidak ada infonya). Dia menjadi inspirasi banyak musisi. Dari legenda rock dan metal seperti Metallica, Motley Crue, Corey Taylor, Slash, dll hingga musisi yang paling muda dan baru beranjak, Yungblud. Bahkan Yungblud di sebut-sebut sebagai penerus Ozzy untuk generasi mendatang. Dan dia berhasil membuat konser perpisahan sebelum akhir hayatnya~

Ahh.. hidup seperti itu adalah hidup yang sempurna. Terlepas dari segala macam dogma yang mengatur, laki-laki mana yang tidak ingin jalan hidupnya seperti itu? Hidup melakukan apa yang ia cintai, hidup dengannya apa yang ia cintai, mati dengannya apa yang ia cintai, menjadi referensi utama terhadap apa yang ia cintai, di cintai oleh teman-temannya, menciptakan legenda-legenda untuk generasi selanjutnya, memiliki selera humor yang baik, last but not least, kehadirannya menjadi energi positif bagi orang-orang di sekelilingnya dan orang-orang yang ia temui. Kehidupan yang sempurna disetiap tikungannya. Dia juga berhasil mendeskripsikan kalo anak “metal” yang sesungguhnya harusnya adalah anak “metal” yang segila dia. Maksudku kita semua tahu jika the world’s most notorious band adalah Motley Crue. Motley Crue dengan segala kekacauan yang mereka buat ditiap konsernya ternyata tidak segila Ozzy Osbourne yang pernah menjilati air kencingnya sendiri dan semut-semut yang ada di sekelilingnya. Di waktu yang lain, dia juga pernah menggigit kepala kelelawar hidup hingga putus dan membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan dua puluh satu suntikan rabies. Dokternya pun menyebutnya sebagai orang dengan medically unexplainable karena OD berkali-kali dan tetap hidup. Istrinya sampai membual jika Ozzy jatuh dari pesawat, dia akan mendarat di kakimu dan meminta bir.

Dulu, persepsiku terhadap rockstar adalah orang yang slenge’an, arogan, sombong, problematik, dan hobi berkelahi seperti Liam Gallagher, Axl Rose, dan Kurt Cobain. Namun, Ozzy memberiku gambaran rockstar yang jauh berbeda. Ia tetap mampu mempertahankan julukan Pangeran Kegelapan -nya dengan tetap bersikap baik kepada orang-orang. Dia tetap menerima semua hadiah pemberian orang lain dengan senang hati. Dia juga memotivasi musisi-musisi muda dengan menawarkan bantuan apa yang ia bisa lakukan untuk mereka. Selain itu, konser terakhirnya ia mendonasikan seluruh pendapatan dari konser tersebut untuk membiayai penelitian penyakit parkinson. What a rockstar!

Sejujurnya, diriku mulai mengikuti update tentang Ozzy Osbourne di tahun 2020 ketika dunia sedang dilanda pandemi Covid-19. Karena banyak waktu luang saat itu, ku putuskan untuk mengeksplor internet lebih dalam lagi. Dan algoritma instagramku memunculkan banyak clipper-clipper Ozzy yang menghibur seperti saat dia terjengkang dari kursinya, atau saat ia tahu Sharon (istrinya) menggunakan gelembung sebagai properti panggungnya. Sekali lagi, tidak semua orang diberi kesempatan untuk hidup dan mati dengan apa yang dicintai. Ada orang yang terpaksa melakukan hal yang dibencinya untuk sepiring nasi. Ada orang yang terpaksa melakukan hal yang dibencinya agar ia dicintai. Dan ada orang yang berhasil hidup dengan apa yang dicintainya namun tidak menemukan apa-apa di dalamnya. Maksudku bagaimana kau tidak bisa iri dengan hal ini? Dia berhasil membuat perpisahan kepada fansnya dan dua atau tiga minggu kemudian ia meninggal. Membuatku merinding untuk mengingatnya. Portofolio hidupnya lengkap. And at the end, He was with his family and surrounded by love.

Ada satu nasihat yang Ozzy berikan kepada Yungblud yang membuatku semakin menghormati orang ini. Dia bilang: “Never apologise for anything. They will understand you later. Time always tells”. Membuatku mengingat salah satu scene dalam Game of Thrones saat Jaime Lannister disudutkan oleh Sansa Stark dan Daenerys Targaryen karena dia menghancurkan keluarga Stark dan keluarga Targaryen. Jaime bertahan dengan mengatakan: “Do you want me to apologize? I won’t. We were at war! Everything I did, I did for my house and my family, I’d do it all again!”. Menggambarkan apa telah yang kita lakukan, entah itu baik atau buruk, adalah apa yang kita upayakan untuk mencapai kebenaran yang kita yakini. Walaupun dalam proses pengambilan sikap itu akan ada yang dirugikan, tapi itulah yang membuat bagian-bagian perjalanan hidup menjadi dinamis dan penuh makna. Dan orang-orang akan memahami itu seiring berjalannya waktu. Akan selalu ada plot twist yang muncul di akhir, membuatmu menepuk jidat, dan membuat mu mengerti secara perlahan akan hal itu.

Akhir kata, semua adalah tentang #pedagogidosa. Kita tidak bisa menutup mata pada kebaikan-kebaikan yang dihasilkan oleh hal-hal yang kontroversi sekalipun. Begitupun dengan Ozzy Osbourne dan kisah-kisah lucunya. Orang-orang mengatakan dia adalah legenda. Dan itu benar. Majalah Hai mengatakan tidak akan ada lagi sosok seperti dia yang mampu memadukan kegilaan, kejujuran, kebodohan, ketakutan, dan kehangatan dalam satu tubuh. Mencuri TV tetapi kejatuhan TV -nya sendiri hingga masuk penjara gara-gara merampok toko baju. Menuduh seseorang mencuri bir-nya dan ternyata bir-nya habis oleh dirinya sendiri. Kehabisan alkohol dan narkoba sehingga ia harus memintanya pada penonton ditengah-tengah konser. Di wawancarai namun tidak mendengar pertanyaan karena terlalu mabuk. Dan masih banyak lagi.

Sekali lagi terimakasih Ozzy atas pelajaran-pelajarannya. Long live Prince of Darkness..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pedagogi Dosa #9: Ceteris Paribus (Ludens Yang Mempecundangi Kejujuran)

Pedagogi Dosa #11 Moral Hazard Dalam Baju Nasionalisme

Pedagogi Dosa #12: Collateral Damage dan Ketidakbergunaan Perang