Kematian Simbol di Era Gen-Z: Dari PDH Hingga Simulakra


Kendari, 18 Oktober 2025

[Setelah ku pikir-pikir, kegelisahanku yang satu ini tidak sekadar berbicara perbedaan “selera” dan “referensi”. Setelah ku timang-timang, kegelisahanku yang satu ini sudah masuk ke wilayah semiotik, simbol, dan nilai sosial. Dan terus terang saja, kegelisahan ku yang satu ini cukup mengganggu. Setelah kita melihat dan menyadari jika tidak semua idealisme bisa dipertahankan hingga mati, kita diperhadapkan dengan fenomena matinya simbol-simbol di ruang publik secara perlahan. Fenomena dimana bentuk dan makna tidak lagi menjadi hal yang penting untuk dipahami. Fenomena dimana simbol hanya digunakan sebagai bahan estetika humor. Demikian, segera kita akan memasuki puncak dari kekeliruan dalam membaca tanda di ruang publik yang bagi para pembaca karya-karya Ferdinand De Saussure, Roland Barthes, dan Jean Baudrillard melihat hal ini sebagai “Dekontektualisasi Tanda”. Karena untuk ku, kegagalan pertama dan paling dasar dalam berpikir adalah gagal memahami simbol, bentuk, dan makna yang tercermin di dalam kehidupan sehari-hari]

Beberapa waktu lalu, saya menanyakan ke salah satu mahasiswa di kelas yang menggunakan baju PDH (Pakaian Dinas Harian) untuk bertanya perihal program apa saja yang akan di jalan HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) dalam beberapa bulan ke depan. Doi menjawab jika ia tidak mengetahui apa-apa saja program yang akan di kerjakan HMJ. Karena ku lihat ia menggunakan PDH, spontan ku bertanya lagi: bukan anggota HMJ? Ia menjawab bukan pak. Lalu ku tanya kan lagi, baju yang ia pakai kan PDH, lantas itu PDH apa? Ia menjawab lagi jika PDH yang ia pakai adalah PDH angkatan. PDH angkatan? Maksud PDH angkatan itu apa? Kamu punya kegiatan dinas atas perintah angkatanmu begitu? Ia menjawab lagi, bukan pak, ini baju angkatan.

Dulu, baju PDH hanya digunakan oleh mereka yang menjadi bagian dari pemerintah. Seiring perjalanannya, baju ini menjadi identik dengan mereka yang menjadi bagian dari organisasi. Biasanya mereka memiliki tugas tertentu yang secara spesifik dilakukan agar tujuan organisasi dapat tercapai. Di sisi lain, ada juga istilah PDL (Pakaian Dinas Lapangan) yang merupakan pakaian lapangan dan digunakan jika organisasi tersebut melakukan kegiatan lapangan. Desain baju PDH dan PDL cenderung berbeda. Desain baju PDH biasanya di desain lebih rapi dan diperuntukkan untuk pertemuan-pertemuan yang formal seperti rapat umum atau acara-acara indoor lainnya. Sementara itu, PDL di desain lebih fleksibel dan lebih tahan sobekan sesuai peruntukkannya di lapangan.

Karena kegunaan dan fungsi spesifik dari masing-masing baju, keduanya memiliki bentuk (signifier) dan makna (signified) yang terkandung di dalamnya. Keduanya dilihat bukan sekadar kain dan jahitan, keduanya menandakan kedinasan, tanggung jawab, dan hirarki fungsional. Ketika kita melihat seseorang mengenakan PDH, kita secara otomatis membaca tanda itu: “Orang ini sedang dalam peran formalnya”. Maka dari itu, secara eksplisit PDH memiliki makna institusional.

Sayangnya di era Gen-Z ini, makna yang dulu formal dan fungsional itu dipindahkan ke ranah simbol persahabatan, nostalgia, atau sekadar gaya estetik. Mereka menggunakan baju ini dengan niat “bermain” dan memberikan konsukuensi yang mengaburkan batas antara fungsi dan estetika. Dan hal ini akan menjadi simulakra yang berbahaya. Maksudku, bayangkan saja suatu hal digunakan tidak pada tempatnya. Semua tindakan dilakukan tanpa estetika yang baik. Sebuah pencemaran visual yang sempurna. Di Bali, orang-orang sangat mungkin memakai bikini di pinggir jalan. Apa jadinya jika kita melihat orang hanya menggunakan bikini di jalan-jalan Kota Kendari? Mungkin sebagian orang akan menganggap orang tersebut sebagai orang gila, sebagian lainnya berpikir jika orang tersebut sedang mengalami sesuatu yang berat, mungkin lagi sebagian orang lainnya berpikir jika orang tersebut adalah pekerja seks komersial.

Dalam kasus yang lain, pergeseran makna yang serupa juga terjadi dalam beberapa budaya populer. Katakan lah fashion di dunia musik. Dulu penggemar musik rock & roll, metal, punk, dan sejenisnya identik dengan pakaian yang “gelap”. Penggemar musik rock & roll akan berpakaian ala Elvis Presley dengan rambut klimis, cambang yang panjang, dan celana cutbray/bell-bottoms. Penggemar musik metal akan memanjangkan rambut dan menggunakan celana jeans dengan kaos hitam. Penggemar musik punk akan mencukur rambutnya bergaya punk skinhead dan menggunakan jaket/rompi lusuh yang penuh dengan patch pemberontakan. Namun hari ini, siapa pun dapat menggunakan dan berpakaian sesuai selera tanpa tahu makna dan asal usul mengapa gaya-gaya populer tersebut bisa lahir. Lantas apakah untuk berpakaian saja kita harus belajar sejarah dari pakaian itu sendiri? Apakah untuk berpakaian saja kita harus membaca makna fashion yang panjang-panjang itu? Jawabannya tentu saja tidak. Sangat tidak mungkin kita menghabiskan waktu untuk mempelajari asal-usul suatu budaya pop hanya untuk berpakaian. Namun terdapat konsekuensi semiotik yang cacat akibat ketidaktahuan dan ketidakmautahuan kita terhadap apa yang kita kenakan dan yang kita lakukan.

Di Amerika, ketika kamu mengatakan dirimu “kiri” maka kamu akan dianggap sebagai sosialis, pendukung perubahan sosial, pendukung kesetaraan sosial, pejuang reformasi, pejuang keadilan sosial, dsb. Keren, jelas keren sekali. Artinya kamu menyadari ada yang kurang (bahkan salah) dalam sistem perpolitikan kita sehingga kamu merasa sistem-sistem ini harus diperbaiki. Namun, di saat yang sama kamu juga akan dianggap pro LGBT, pro legal aborsi, pro kesetaraan gender, pro seorang anak boleh melawan orang tuanya karena hak, pro pada anak SMA yang ditampar gurunya karena merokok dan mendukung guru tersebut di non-aktifkan, dsb yang mana hal ini tidak akan cocok di Indonesia yang masih kuat memegang tradisi ketimuran yang konservatif. Di sisi lain, pergeseran budaya ini memperkuat ketakutan ku terhadap fenomena spontanitas yang super cepat. Orang-orang hanya ingin menggunakan suatu produk tanpa tahu jika produk-produk itu dapat merusak dirinya sendiri. Sialnya, ketidakmautahuan memperparah keadaan ini. Dan konsekuensi nyata dari ketidakmautahuan adalah simulakra (hiperrealitas) yang akan menggeser posisi realitas dengan tiruan realitas itu sendiri.

Seorang anak yang dibesarkan oleh perempuan yang bukan ibu kandungnya akan menganggap perempuan yang membesarkannya adalah ibu kandungnya. Hal ini terjadi karena posisi ibu kandung (realitas) digeser oleh perempuan yang membesarkan (tiruan realitas) anak tersebut. Mirip dengan kasus-kasus di atas yang pergeseran maknanya akan menggeser posisi utama dari tujuan pakaian-pakaian itu diciptakan. Sementara itu, kasus ini sejalan dengan pepatah yang mengatakan jika kebohongan yang dikatakan terus-menerus akan menjadi kebenaran. Dan fenomena ini telah menyentuh permukaan dimana mahasiswa yang seharusnya meluruskan persoalan ini malah ikut berpartisipasi dalam kekeliruan masal ini.

Adik ku yang kedua dan (terutama) yang ketiga selalu antipati pada ku ketika saya mencoba membahas ini. Yang kedua lahir di tahun 2000 dan yang ketiga lahir di tahun 2007. Puncaknya adalah ketika ku katakan pada mereka bahwa: Gen-Z kalian merusak segalanya. Dari fashion, gaya hidup, musik, etika, estetika, moral, dan lain sebagainya. Tetapi motif utama dari pernyataan ini bukan sebagai pernyataan penghinaan apalagi kebencian. Karena bagaimana pun mereka tetap adik-adik ku. Saya pun tidak akan bisa mengubah tahun kelahiran mereka. Darah lebih kental daripada air bukan? Semua murni karena ketakutanku pada perubahan bentuk dan makna yang terjadi di ruang publik belakangan ini. Mungkin karena perubahan ini sehingga sekarang orang bisa mengklaim dirinya sebagai kucing, kamera, perempuan tapi ingin disebut laki-laki, laki-laki tapi ingin disebut sebagai perempuan, atau bahkan tanpa bentuk identitas sama sekali. Mungkin saja..

Inilah mengapa ketika kita memutuskan untuk mengikuti budaya populer yang berkembang, kita harus mengerti mengapa budaya-budaya tersebut lahir. Mengapa baju PDH tidak bisa digunakan sebagai bahan keren-kerenan pertemanan semata. Mengapa kaos hitam hanya menjadi privilege bagi penikmat musik metal atau sebagian anak Teknik. Mengapa cukuran punk skinhead hanya menjadi privilege anak-anak punk. Dan ketidaktahuan dan ketidakmautahuan adalah melapetaka bagi semua manusia. Karena setiap perubahan bentuk dan makna yang diperlihatkan di ruang publik memliki dampak yang besar tentang bagaimana seseorang akan melihat kehidupan di masa mendatang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pedagogi Dosa #9: Ceteris Paribus (Ludens Yang Mempecundangi Kejujuran)

Pedagogi Dosa #11 Moral Hazard Dalam Baju Nasionalisme

Pedagogi Dosa #12: Collateral Damage dan Ketidakbergunaan Perang