Bad boy dalam perspektif ruang publik

Kendari, 20 Oktober 2016

Akhir-akhir ini banyak opini dari beberapa karya seni yang untuk saya pribadi membuat saya dilema seperti ini. Saat ini kita menghadapi fenomena dimana segala sesuatu yang berhubungan dengan cinta, moral, paradigma dan sanksi sosial menjadi penyebab dari sebuah penyimpangan sosial. Mulai dari propaganda 'Bad boy' kemudian masuk ke lifestyle pemuda yang terkesan 'ikut-ikutan' hingga kalimat saat ini sedang menjadi trending topik: 'Jangan menilai seseorang dari luarnya'. Perlu di pahami bahwa tidak ada yang salah jika seseorang menilai orang lain dari penampilannya, kenapa? karena penampilan adalah bentuk visualisasi dari isi kepalamu. Cara berpakaian, style, moral, etika mempengaruhi seseorang untuk membuat hipotesa awal tentang dirimu. sederhananya kesan pertama. Jujur saja, untuk saya lebih baik terlihat baik didepan media dan memberikan efek yang baik pula bagi yang menyaksikan daripada terlalu jujur mengumbar keburukan diri sehingga yang melihatnya pun menjadi ikut ikutan idealis. iya idealis.. idealis dalam konteks yang sempit dan dangkal.

Niccolo Machiavelli dalam bukunya The Prince, mengatakan bahwa agama bisa dijadikan instrumen penguasa untuk menyatukan sebuah negara sehingga nasionalisme bisa ditingkatkan menjadi sejenis agama baru yang menyatukan 'agama baru' yang menyatukan keluarga keluarga, etnis etnis dan suku suku yang ada didalamnya. Jika kita menela'ah statement machiavelli ini, bisa disimpulkan bahwa sebenarnya penguasa penguas negeri itu bermain drama didepan media. Dimana media sebagai instrumen propagandanya. Terlihat baik tetapi berakibat baik pula bagi yang melihat. Orang orang pun meneladani penguasa tersebut sehingga menjadi kesatuan individu besar yang disebut negara.

Berdasarkan penjelasan itu, masih adakah yang ingin dipanggi bad boy?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pedagogi Dosa #9: Ceteris Paribus (Ludens Yang Mempecundangi Kejujuran)

Pedagogi Dosa #11 Moral Hazard Dalam Baju Nasionalisme

Pedagogi Dosa #12: Collateral Damage dan Ketidakbergunaan Perang