Review Buku: Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat by Mark Manson (Judul asli: The Subtle Art of Not Giving a Fu*ck)
Kendari,
20 Juli 2019
[Biasanya, diriku tidak pernah
mengapresiasi segala bentuk ungkapan dan tulisan motivator, baik dari Mario
Teguh sampai Merry Riana. Karena untukku bahwa sesungguhnya motivator hanya
mengungkapkan hal-hal yang terlihat menyenangkan namun nyatanya sulit
dipraktikkan dalam dunia nyata. Motivator itu hanya sekedar merangkai kata-kata
yang sebenarnya memang sudah seperti itu seharusnya terjadi. Ia hanya pandai
beretorika terhadap kejadian-kejadian tabu sehingga terdengar berwibawa dan
menyenangkan perasaan. Dan bagiku itu tidak membawa efek jangka panjang yang
signifikan. Karena tetap saja omongan mereka diambil dari sudut pandang mereka
saja yang pasti tidak sama dengan paradigma yang anda bangun selama ini.
Kecuali anda cukup konyol untuk meleburkan idealisme anda kedalam nasehat orang
yang jelas jelas tidak tahu keadaan anda yang sebenarnya.
Tapi,
selalu ada pengecualian pada hal-hal yang istimewa. Dan keistimewaan buku ini
akan saya jabarkan lebih lanjut dalam tulisan ini. Btw, berhubung keuanganku
sedang tidak baik, buku ini sebenarnya belum sempat ku beli dan kebetulan
temanku, Andi Baco (Abas) yang tertampan di dunia dan di akhirat ini mau
berbaik hati meminjamkan buku ini, jadi ku ucapkan tengkyu co’, semoga jadi
pejabat yang amanah wkwkwk..]
Jangan berusaha..
Ku
rasa dua kata ini benar-benar mewakili pokok pikiran yang terkandung di buku
ini. Tentunya sangat bertentangan omong kosong para motivator diluar sana yang
sangat memaksakan kebaikan omongannya terkonsumsi oleh pendengarnya. Buku ini
mengisahkan tentang anti-tesis yang selama ini berjalan begitu-begitu saja
tentang perjuangan, rasa cinta dan air mata dari kehidupan seorang pecundang.
Charles Bukowski, bercita-cita menjadi penulis. Namun, karena tulisannya jelek,
hancur dan dianggap tidak bermoral hampir setiap majalah menolak tulisannya.
Dari kegagalannya itu, ia menjadi seorang yang depresi serta tenggelam dalam
semua keburukan dunia. Ia menjadi alcoholic,
suka main perempuan, penjudi dsb. Dan akhirnya, ia berubah menjadi lelaki
‘sejati’ yang bertekad kuad untuk berubah, meraih impian yang selama ini ia
pendam dan hidup bahagia selamanya bersama permaisuri pujaannya. Selesai,
tamat, fin, the end..
Tidak
tidak tidak.. Kisah ini tidak menceritakan keajaiban dan fiksi-fiksi yang
menyenangkan asa seperti itu. Kisah ini juga tidak memberi pesan moral yang
bisa dicontoh oleh anak-anak. Kisah ini mencoba mengatakan bahwa ‘Jangan pernah
menutup mata terhadap kebaikan-kebaikan yang dihasilkan oleh hal yang
kontroversi sekalipun’. Karena nyatanya masyarakat kita saat ini masih
terkekang oleh stigma ‘antipati’ terhadap hal-hal yang berbau negatif. Padahal
demi mencapai nilai serta tujuan hidup anda yang sesungguhnya, anda harus
mengetahui apa rasa dosa itu, kata Marx. Singkat cerita setelah bertahun-tahun
jatuh dalam pelukan dosa, suatu waktu Bukowski mendapat tawaran dari seorang
editor di sebuah penerbitan independen kecil yang kelak melambungkan namanya
sebagai penyair terkenal. Namun, perubahan keadaannya ternyata tidak membuat ia
berubah menjadi pribadi yang positif. Dia tetap menyukai dosa-dosa yang telah
ia lakukan sebelumnya. Dan seperti itu sampai akhir hayatnya.
Buku
ini tidak mengajak kita untuk melakukan hal yang sama dengan agar pengalaman
kita sejati mirip dengan apa yang dialami oleh Bukowski. Tetapi mencoba untuk
membuka paradigma baru untuk memahami ‘rasa sakit’ yang selama ini di alami
oleh Bukowski. Buku ini membuatku semakin yakin bahwa seri Pedagogi Dosa yang
ku tulis selama ini tidak salah. Karena memang menurut buku ini prestasi
manusia itu bukan ketika kita berbicara pencapaian apa yang sudah kita dapat,
melainkan rasa sakit apa yang telah kita lalui demi prioritas yang dipilah
melalui kedewasaan, arti dan tujuan hidup kita di dunia ini. Tentang apa yang
menjadi cinta dan kebijaksanaan paten pada diri setiap manusia. Tujuan Pedagogi
Dosa tercipta sebagai perbandingan pandangan lurus yang mengatakan bahwa ketika
anda berangkat ke kampus, anda dapat menggunakan sepeda motor atau mobil. Atau juga
anda dapat pergi melalui jalan belakang kampus atau jalan depan kampus. Dan
seperti itulah seharusnya manusia hidup berdampingan, menguatkan satu sama
lain.
Tulisan ini sebenarnya mengingatkan ku pada karakter Itachi Uchiha pada serial manga
Naruto. Dalam kisahnya, diperkenalkan bahwa
Itachi memiliki watak yang dingin ketika berhubungan dengan karakter
lainnya. Sikap yang diambil oleh itachi terbentuk dari pengalaman dan
pembelajarannya dalam melihat keadaan dunia shinobi pada saat itu yang mana
kegiatan bunuh membunuh adalah kegiatan mutlak dilakukan demi mencapai
kebahagiaan desa masing-masing. Dan pada akhirnya, ia membunuh semua anggota
klan-nya tak terkecuali ayah dan ibunya. Memang Itachi menyisakan adik nya,
tapi ia menyisakan tidak dengan tanpa tujuan. Di akhir serialnya, terkuak
penjelasan logis tentang tindakan-tindakannya di masa lalu dimana ia membunuh
semua anggota klan-nya untuk menghindari kudeta yang ingin dilakukan oleh klan
uchiha kepada desa yang diprediksi akan mengganggu stabilitas dan keamanan
seluruh klan lain yang tergabung dalam kesatuan desa. Sama seperti Bukowski, Itachi
juga bersikap untuk ‘bodo amat’ terhadap justifikasi penjahat kelas kakap yang
diberikan oleh masyarakat untuknya. Dan harus ditekankan, sikap ‘bodo amat’
disini bukan diartikan sebagai sikap acuh tak acuh, melainkan memilih berbeda
dan menikmati perbedaan itu sebagai langkah jitu untuk tidak pusing dengan
penilaian orang lain.
Kita seharusnya jangan berusaha untuk menjadi seperti apa yang orang orang harapkan. Kita seharusnya mempunyai keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri dan tidak pusing dengan hujatan orang-orang hari ini yang mengatakan kalo anda jelek, cupu, tidak bermutu, karena sesungguhnya rasa sakit itu membentuk kerangka pikir manusia berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah dan perasaan negatif untuk menjadi lebih positif di esok hari.
Komentar
Posting Komentar