Pedagogi Dosa #2 "Banyak Ber-Hijrah, Banyak ber-Judi"
Kendari, 13
Juli 2019
[Sebenarnya
diriku tidak menemukan judul yang pas untuk tulisan kali ini, dan setelah ku
pikir berulang kali, ku rasa judul ini cukup mewakili jalan pikiran ‘unek-unek’
ini]
2-3
tahun terakhir tren berhijrah banyak dilakoni pemuda masa kini. Tirto.id dalam
artikelnya https://tirto.id/tren-hijrah-anak-muda-menjadi-muslim-saja-tidak-cukup-ds9k
menjelaskan bahwa hijrah menjadi suatu fenomena yang berkembang di Indonesia
dimana strategi dakwah masa kini dikemas menjadi suatu hal yang mudah diterima
oleh anak muda, seperti Ust. Hannan Attaki dengan berbaur melalui pakaian
kemeja flanel dan topi kupluk atau Ust. Felix Siauw yang mengemas kisah
Al-Fatih dengan Manga sehingga pembaca tertarik untuk lebih mendalami tentang
agama Islam.
So far,
untuk ku tidak ada yang salah dengan metode-metode diatas. Bagiku ini merupakan
semacam revolusi dakwah yang baik demi memperbaiki wawasan ke-agamaan masa kini
yang sudah terlalu ‘heterogen’ dengan dunia plastik ini. Namun, sekali lagi
yang namanya tindakan atau sebab, pasti ada akibat atau konsekuensinya. Dan akibat
yang ditimbulkan dari dakwah seperti ini akan saya jelaskan lebih lanjut.
Banyak
ber-Hijrah, Banyak Berjudi..
Teman-teman
(tidak semua) yang saya kenal sering mendengarkan ceramah-ceramah di youtube
atau yang ‘mengaku’ ikut kajian di Masjid-Masjid mulai memperlihatkan hasil
ikut ceramah nya di lingkungannya masing-masing. Akhirnya pada momen-momen yang
terjadi, diriku pun di ajak diskusi, sharing, berbagi pikiran tentang hal-hal
yang berbau dogma, kehidupan dsb. Dari pertemuan diskusi dengan mereka yang
sudah-sudah, justru yang dapat saya simpulkan adalah rasa KECEWA. Mengapa kecewa?
Bukannya malah lebih tertarik untuk berdiskusi? Kecewa karena ternyata hasil diskusi-diskusi
itu hanya melahirkan kalimat:
‘Jika
Kamu Beriman Kepada Tuhan, tidak Perlu Lagi Kamu Tanyakan Mengapa’.
WTF!?
Rasanya ingin ku buatkan anti-tesis nya yang mungkin kalimatnya kurang lebih
seperti ini:
‘Jika
Kamu ingin Beriman Kepada Tuhan, Caranya adalah Kamu tidak Perlu Berpikir Lagi.
Dengan begitu tiket masuk Surga sudah kau genggam’.
Dari
kejadian-kejadian itu, diriku membuat sebuah hipotesis bahwa ternyata metode
Dakwah seperti ini tidak membuat teman-temanku berpikir atau setidaknya mencari
referensi perbandingan hasil dari ceramah yang mereka ikuti. Hal ini dibuktikan
dengan berbagai pertanyaan seperti ‘Mengapa Tuhan tidak bisa dipelajari?’ atau ‘Apakah
Surga itu sempurna?’ atau lagi ‘Jika ada orang yang selama hidupnya tidak
menemukan jodohnya apakah dia berdosa karena tidak menjalankan perintah Tuhan
untuk menikah?’ dan masih banyak lagi, (tentunya pertanyaan-pertanyaan tersebut
sesuai dengan konteks diskusinya).
Melihat
fenomena ini, diriku teringat dengan tesis seniorku yang mengatakan ‘Segala
sesuatu yang sifatnya tidak Universal, artinya dia tidak sempurna’. Iya,
seniorku ini seluruh tindakannya memang agak kontras dengan paradigma
orang-orang. Hobinya main bass, kajiannya filsafat politik tapi kuliahnya di
Kedokteran. Sungguh, Tuhan itu kadang suka bercanda ya.. ehe.. ndak usah ditag
orangnya, nanti saya ditraktir makan lagi, ndak enak saya.. ehe..:) nah,
seperti senior saya ini, kalo kita ngobrol, penggunaan kata Nabi, Imam Besar,
Habib itu menjadi imajinasi yang sifatnya berkembang dalam artian yang tidak kaku
dan tidak lari dari definisi yang sebenarnya. Contohnya seperti pembicaraan
dengan kak Jo MEC yang meminta arahan dari Imam besar kaum yang termarjinalkan
dimalam minggu, dimana konotasi jokes
ini adalah singgungan bagi kita yang tidak memiliki pasangan untuk bermalam mingguan,
ehe...
Dari
obrolan lelucon seperti ini pun unsur pertanggung jawaban itu tetap ada. Pertanggung
jawaban kalimat kepada definisi per-kata yang disatu padukan menjadi kalimat
utuh. Dan pertanggung jawabannya bukan mengklaim orang tidak beriman karena
bertanya. Dari pencarian kebenaran yang punya tanggung jawab itulah yang
membuat mata kuliah metodologi penelitian itu bersifat wajib sebagai syarat
ujian sidang tercipta.
Sampai
detik ini pun diriku cenderung menghindari tawaran diskusi dengan teman-teman
tersebut, karena bagiku kesimpulan-kesimpulan seperti itu sangat bersifat
politis guna menghilangkan jejak dari pertanggung jawaban yang menunggu diakhir
diskusi. Jujur saja, sifat burukku sering kambuh ketika menghadapi masalah
seperti ini dimana diriku cenderung meremehkan hijrah-hijrah dadakan yang
bermunculan dimana-mana. Hijrah-hijrah yang memakai paham ‘asal ikut saja’. Kadang
muncul juga dalam pikiranku bahwa ‘sampai kapan dia mampu bertahan dengar
dengar ceramah saja tanpa filsafat?’ Serta konklusi yang bisa disimpulkan dari
tulisan ini adalah, berhijrah yang baik adalah hijrah yang belajar filsafat,
karena untukku dari filsafat segala disiplin berawal.
Komentar
Posting Komentar