Alexander Joseph Luthor: Definisi Kewarasan, Pengetahuan dan Rasa Sakit

Queensland, 5 April 2020

[Sedang menonton ulang series lama dari superhero klasik Superman; Smallville, yang terdiri dari 10 seasons. Dan percayalah, jika ada penjahat yang benar-benar lahir dari rasa sakit, ku rasa tidak akan ada yang dapat menyaingi Lex Luthor versi Michael Rosenbaum. Banyak orang memberi hormat kepada Joker sebagai sebagai The Great Villains Ever, dan bisa ku pastikan pepatah ‘Orang jahat lahir dari Orang baik yang tersakiti’ menempel erat dijidat mereka. Atau setidaknya simpati lahir dari propaganda pepatah tersebut. Tetapi semua itu (ternyata) tidak lebih ‘terhormat’ dari apa yang membentuk musuh besar dari Superman itu.]

Kau tau ketika kau memutar kembali film lama, selalu ada perspektif baru yang muncul disatu kejadian terhadap kejadian lainnya yang terjadi dalam film tersebut. Dan biasanya ketika menonton film, kita selalu menjagokan Protagonis sebagai tokoh yang akan menang diakhir film. Dan (lagi) tidak tahu mengapa, untuk pertama kalinya saya tidak menjagokan Clark Kent sebagai penutup yang manis di akhir cerita.

Beberapa orang tua atau setidaknya yang sempat merasakan sensasi menonton series ini banyak menyanjung Smallville sebagai sebenar-benarnya cerita hidup Superman. Series yang diproduksi dari tahun 2001 hingga 2011 itu dianggap cerita paling ideal dan paling realistis yang mana jika kita pindahkan dari cerita komiknya ke dunia nyata, ia akan tampak lebih masuk akal. Tapi kita tidak akan berbicara tentang Superman disini. Kita akan berbicara tentang sebab-akibat yang membawa Luthor layak ke tahta villains teratas.

Tatapan yang tajam, dingin penuh intrik tanpa mengindikasikan adanya mental disorder apapun yang membebaninya. Perpaduan kepala yang plontos dan postur yang kecil menggambarkan isinya yang penuh dengan strategi dan pikiran-pikiran brilian. Tidak seperti Light Yagami atau James Morriarty yang selalu bermain retorika klasik menunjukkan maksud-tujuannya untuk menyerang, Lex lebih tenang ketika menghadapi lawan bicaranya. Ia sangat piawai memberikan empati terselubungnya pada siapapun yang meminta pertolongannya. Nama Alexander diberikan Lionel Luthor (ayahnya) yang terinspirasi dari ‘The Great Alexander’, salah satu Raja terhebat di dunia pada masa penaklukan Yunani Kuno.

Sejak kecil, lex selalu diberi asupan pengetahuan tentang sejarah, filsafat, teknologi dan politik. Itu dibuktikan dengan tiap konflik yang terjadi antara ia dan ayahnya, Lionel Luthor. Ketika mereka berbicara, nuansa Yunani, sejarah dan hal-hal berbau politik selalu menjadi warna tersendiri untuk film ini. Dan perlu diketahui hubungan antara anak dan ayah ini tidak pernah baik, dan memburuk setelah Lionel membuat rekayasa kecelakaan pada pesawat yang digunakan Lex sehingga membuatnya terdampar dipulau tak berpenghuni selama 3 bulan dan itu cukup membuat kejiwaan Lex terganggu.

Bayangkan kau lahir di dalam keluarga yang super kaya? Kira-kira apa saja yang akan kau lakukan jika berada di posisi tersebut? Lex kecil tumbuh dan terbentuk oleh ambisi seorang ayah yang total mengajarkan hidup sebagai sebuah bisnis yang harus dipertahankan untuk terus menang. Didikan yang menurutku tidak bisa ku katakan jika itu salah dengan mempertimbangkan ‘Human being can’t be trusted’, kita memang harus waspada dengan apapun yang dapat terjadi dimasa mendatang.

Pernahkah saat kau ngobrol dengan ayah yang duduk disebelahmu, tertawa, bercanda, terbahak tetapi seluruh isi pembicaraanmu itu tentang ancam-mengancam tanpa terkecuali satu sama lain? Yaa.. Lex dewasa yang telah terbentuk sedemikian rupa oleh ambisi ayahnya hingga tak lagi mengenal moralitas kepada darah-dagingnya sendiri. Mungkin ia sadari jika apa yang membuat dirinya seperti itu akibat tidak adanya kasih sayang seorang ayah kepada anaknya sehingga kerinduannya akan orang tua yang ideal lari kepada Jonathan Kent yang dalam hal ini adalah ayah Clark.

Hal ini diperkuat ketika Lex menemukan bukti bahwa Lionel pernah membunuh kedua orang tuanya hanya untuk mendapatkan uang asuransinya. Meskipun kejadian ini terjadi berpuluh tahun yang lalu, Lex yang tetap ingin menyingkirkan Lionel terus mengupayakan agar Lionel masuk penjara. Mengingat apa yang telah diperbuat Lionel sebelumnya pada Lex. Yang lebih greget lagi, Lionel pernah membayar seorang perempuan untuk masuk ke dalam kehidupan Lex, membuatnya jatuh cinta, hingga Lex menikahinya dan itu merupakan jebakan yang sempurna untuk manusia yang tidak sempurna seperti Lex;

Lionel menghadiahkan pesawat pribadinya sebagai transportasi Lex berbulan madu dengan istri barunya. Tak pernah ia bayangkan jika itu adalah awal jebakan gila dari ayahnya sendiri. Di atas pesawat, gelas champange yang digunakan Lex diberi obat tidur, lalu istrinya beserta crew pesawat meninggalkan pesawat dengan cara terjun payung tanpa menyisakan satu parasut pun. Saat Lex terbagun, ia menyadari hanya ia yang tersisa di pesawat itu. Ia mencoba mengecek kokpit namun yang ia temukan hanyalah navigasi pesawat yang telah dirusak paksa. Ia terjebak. Pesawatnya jatuh dan ia mengambang berhari-hari dilautan lepas hingga terdampar di sebuah pulau yang tidak berpenghuni sama sekali.

That is totally fucked up. You would never ever imagined it if you are in the same situation like that. Bayangkan ayahmu, darah dagingmu sendiri yang ingin membunuhmu hanya karena ini adalah ‘Bisnis’. Dari sini bisa kita simpulkan betapa rusaknya moral dan hati anak manusia yang bernama Alexander Joseph Luthor itu. Satu-satunya keluarga yang ia miliki menjadi satu-satunya ancaman terbesar yang pernah ia miliki. Kita terbiasa melihat orang-orang menjadi gila karena penipuan dalam bisnis. Tetapi itu hanya dari teman dan partner kerja yang  notabane-nya tidak memiliki hubungan darah sama sekali.

Sebenarnya, Lex adalah orang baik. Jika kita cermati kembali apa saja yang telah membentuknya seperti itu tidak lain karena kegilaan Lionel yang sangat ingin berkuasa atas apapun dan Lex selalu terkena dampak dari ambisi tersebut. Sebagai seorang industrialis, Lex memiliki sifat altruisme dan filantropis yang kuat. Ia menolong banyak orang yang kesusahan, membantu pertanian dan peternakan yang hampir bangkrut serta menyelamatkan 1500 karyawan ayahnya yang di PHK. Banyak yang bisa diteladani dari sikapnya kepada masyarakat, diluar kehidupan hedonisnya sebagai Aristokrat.

Kisah Lex Luthor sangat unik dari kebanyakan cerita villains yang pernah ada. Ia lahir dari ketidakwarasan, yang sangat tidak waras untuk diaplikasikan ke dalam dunia nyata. Ia benar-benar sejati dan tidak ada rasa hukum yang mampu membendung akibat yang akan terjadi dari kejadian semacam ini. Ia sangat berbeda dari Tom Riddle a.k.a. Lord Voldemort, Pain Akatsuki atau Thanos yang memang sesungguhnya, perbuatan mereka harus dipertanggung-jawabkan sebagaimana semestinya. Ia lebih sakit dari apapun yang pernah membentuk villains sekelasnya. Dan Michael Rosenbaum memainkan Lex Luthor dengan sangat fantastis!

After all, sudah selayaknya ia mendapatkan tahta teratas dari penjahat-penjahat manapun yang telah tercipta di dunia ini..

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pedagogi Dosa #9: Ceteris Paribus (Ludens Yang Mempecundangi Kejujuran)

Pedagogi Dosa #11 Moral Hazard Dalam Baju Nasionalisme

Pedagogi Dosa #12: Collateral Damage dan Ketidakbergunaan Perang