Pedagogi Dosa #4: Lucifer Morningstar dan Lelucon Untuk Para Fanatis
Queensland, 19 April 2020
[Pagi ini Aldhyon tampan nan-rupawan dunia akhirat mengirimkan video youtube melalui whatsapp yang kontennya kurang lebih berisi pertanyaan-pertanyaan mendasar seputar agama-agama dunia untuk orang-orang beriman diluar sana. Mengingatkan ku dengan TV Series Lucifer yang isinya ‘mengolok-olok’ definisi Jahat dan Kejahatan yang bagi orang-orang, semua itu terjadi dimuka bumi karena nya (Iblis, Setan, Lucifer, etc). Well, ini bukan kali pertama pembahasan tentang sesuatu yang untuk saya tidak boleh dibicarakan di ruang publik kita diskursuskan. Walau pada akhirnya kesimpulan selalu tidak pernah memihak, entah mengapa topik ini selalu muncul dan selalu ada yang menantikan pembahasannya]
Video tersebut mengajukan pertanyaan-pertanyaan filsafat tentang eksistensi Tuhan dan kebenaran mana yang paling benar diantara banyaknya agama di dunia. Saya menangkap sisi positif yang terkandung didalamnya, yaitu mencoba ‘mendamaikan’ konflik-konflik yang biasa terjadi atas nama agama. Dijaman modern ini, Konflik yang meng-atasnamakan agama apapun yang di muka bumi tidak pernah berakhir dengan baik. Dan perdebatan pun akan di akhiri dengan kesimpulan yang tidak tegas dan abu-abu. Seakan-akan agama-agama ini ingin mengatakan (mungkin) hidup ini cuman sebentar, jangan habiskan untuk mempermasalahkan masalah yang sudah-sudah.
Mari kita buka kembali Filsafat Manusia karangan Prof. Kasmiran Wuryo Sanadji. Disitu dijelaskan tentang asal muasal titik balik manusia sebagai pemegang kendali semesta. Dimana dalam buku itu, Prof. Kasmiran menggambarkan manusia sebagai mikro kosmos atau dunia kecil. Di katakan mikro kosmos karena segala sesuatu yang keluar dari otak manusia akan menghasilkan sesuatu yang signifikan. Hal itu terbukti dengan banyaknya peradaban yang tercipta sebagai manifestasi dari pikiran manusia. Teknologi yang kita gunakan saat ini adalah perkawinan dari beberapa pemikiran terdahulu hingga membentuk kesatuan ide yang terus berkembang.
Dibuku itu juga dijelaskan bagaimana ke-‘aku’-an (tidak bisa ku definisikan) yang ada didalam diri setiap mikro kosmos, menuntun manusia untuk mampu membedakan yang baik dan tidak baik. Seperti contohnya yang mengontrol kesadaranmu untuk menentukan sesuatu sehingga atas dasar ini, seharusnya kita tidak perlu menjadi fanatis terhadap sesuatu yang tidak mampu kita pertanggung-jawabkan benar dan kebenarannya. Seharusnya fanatism hanya digunakan pada sesuatu yang bersifat ringan seperti musik, film, buku (diluar kitab suci). Karena jika digunakan pada sesuatu yang berat seperti agama, tokoh, organisasi dan yang sebagainya, hanya akan menghasilkan sesuatu yang untukku patut untuk kita tertawakan. Sebagai contoh fanatism yang lucu adalah ketika kau dapat berita bahwa di masa penyebaran Covid-19 ini, masih banyak orang yang keras kepala untuk Sholat Tarwih di Masjid, atau mereka yang mati-matian mendukung calon yang menjadi kandidat Presiden tahun lalu, lucunya itu karena pada akhirnya toh mereka tepuk jidat juga ketika melihat dua calon ini bergandengan tangan, merasa tertipu atau tidak itu urusan masing-masing orang, tapi tetap saja semua itu menjadi komedi yang layak untuk ditertawakan.
Dalam Series Lucifer, digambarkan Iblis yang dihukum keluar dari Surga oleh Tuhan telah lama sekali melaksanakan Tugas sebagai penguasa Neraka. Namun akhirnya dia bosan dan memutuskan liburan ke Bumi. Coba anda bayangkan betapa ngawurnya cerita ini. Mungkin bagi fanatisme, ini adalah bentuk penghinaan tentang apa yang telah ditulis oleh kitab suci sebagai lelucon. Tetapi sekali lagi, lelucon ini tidak menghilangkan kesempurnaan-Nya sebagai pencipta dari segala pencipta. Maksudku, cobalah gunakan perspektif yang ‘sedikit’ radikal untuk mencernanya. Karena pada akhirnya, kita sendiri tidak mampu menjamin 100 persen kebenaran tersebut. Justifikasi terhadap hal-hal seperti ini tidak bisa dilakukan oleh kita yang bukan pencipta dari segala pencipta.
Dan to be honest, series ini juga membuatku kagum, betapa hebatnya barat mendeskripsikan sesuatu yang dikemas secara menarik dan menyenangkan. Membuatku menyadari bahwa seharusnya tidak ada yang harus kita obsesikan secara berlebihan. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, kecuali jokes persekutan duniawi J

Komentar
Posting Komentar