Tentang lagu dan Rasa yang di tawarkan olehnya


Soegi Bornean sedang di ‘goreng’ karena lirik lagunya yang di anggap tidak dapat dipahami. “Asmara telah terkalibrasi frekuensi yang sama” menjadi kalimat yang paling di lemahkan oleh pengguna twitter dalam beberapa hari terakhir. Saking ramenya, Vice sampe buat artikel tentang lirik dari lagu yang berjudul Asmaralibrasi ini. Bahkan ada user yang sampe buat thread untuk menjelaskan dan mengukur antara diksi ‘Asmara’ dan ‘Kalibrasi’ dengan disiplin ilmu pasti hahahaha.. Terus terang saja, thread itu spektakuler sih.. Ternyata orang bisa sampe sebegitunya dalam memberi komentar terhadap suatu ciptaan yang, pastinya, tidak sempurna. Namun setelah esai ini selesai, ku sadari ternyata diriku adalah salah satu dari user tersebut. 😊

Menurutku pengguna twitter sepertinya cukup naif dan congkak dalam memberikan komentar kepada lirik tersebut. Maksudku memberi penilaian yang tidak sejalan dengan ekspektasi penciptanya itu sah-sah saja, namun memberi penilaian yang berkonotasi membodoh-bodoh kan pengarang dan penyanyinya itu adalah kesalahan yang merugikan sih. Merugikan karena yang memberi komentar akan dibandingkan lagi isi otaknya dengan yang mereka yang membaca komentarnya. Dan perbandingan soal isi ‘kepala’ untuk ku adalah seburuk-buruknya hinaan. Terserah orang ingin menghaluskan seperti apapun kata ‘hinaan’ tersebut, intinya adalah pakai otak dan orang yang di hina tersebut akan di anggap tidak pakai otak dalam berkomentar atau mencipta.

Perdebatan pro-kontra ini mengingatkanku saat pertama kali di ‘tampar’ dengan celotehan ibuku yang mengatakan bahwa “Benar dan Kebenaran itu tidak ada, yang ada hanya Kesepakatan”, yang singkatnya adalah tidak perlu fanatik pada satu ‘Kebenaran’, ada banyak ‘Kebenaran-Kebenaran’ lain diluar sana. Kebenaran itu tidak mutlak dimiliki oleh satu golongan, kaum, dan ras tertentu. Karena untukku, kebenaran yang paling ideal adalah kebenaran yang universal. Karena dia universal maka dia bisa masuk di semua lini pikiran. Dengan demikian, mengapa harus paten pada rasionalitas yang kontradiktif? Padahal langit penuh bintang bercahaya. Lantas, kalo kebenaran agama? Ku rasa tidak perlu dibahas pada esai ini, keluar dari konteks nanti :D.

Kembali pada kajian-kajian awal filsafat dan filsafat ilmu, bagaimana kita menentukan atau menetapkan predikat pada suatu objek. Misalnya, mengapa kursi kakinya empat? Jawaban terbaik sekaligus paling konyol untuk pertanyaan ini saat itu adalah coba tanya ke siapa yang menciptakannya hahahaha... Bayangkan saja kita harus mencari tau siapa yang menciptakan kursi untuk tau kenapa dia memberi nama kursi untuk mendeskripsikan tempat duduk. Diriku pun bingung menjawabnya ketika ditanya soal ini. Tapi waktu itu, akhirnya ku jawab dengan menyontek jawaban dari Galileo Galilei ketika beliau ditanya soal “Apa yang membuat benda bergerak secara terus-menerus?”. Galileo menjawab, ini adalah pertanyaan yang salah. Seharusnya orang bertanya “Apa yang membuat benda berhenti bergerak?”. Galileo melanjutkan, suatu benda berhenti karena ada yang menghentikannya. Misal, sebuah bola yang dilempar akan berhenti karena kehabisan tenaga yang disalurkan dari orang yang melempar. Dari sini kita bisa membuktikan apa yang membuat benda berhenti bergerak.

Kembali ke pertanyaan soal kursi tadi, akhirnya ku jawab pertanyaan itu salah. Seharusnya kita bertanya untuk apa kursi diciptakan? Kursi diciptakan karena manusia butuh tempat untuk duduk makanya kakinya ada empat untuk menyeimbangkan beban orang yang mendudukinya. Ini konyol sih, mengingat jawaban ini ku ambil dari studi kasus yang berbeda. Sejak saat itu diriku pun masih memikirkan apa jawaban dari pertanyaan tersebut. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan hingga tiba saatnya idul fitri. Dan seperti kebanyakan keluarga pada umumnya, saat idul fitri adalah momen kumpul keluarga di kampung halaman masing-masing. Masih teringat jelas dikepalaku perjalanan menuju kampung halaman ayahku, diriku ditugaskan jadi supir, ayah duduk di kursi depan, ibu dan adik-adikku dibalakang. Isenglah ku bertanya pada ayah soal mengapa kursi kakinya empat. Dan jawaban ayahku cukup spektakuler untukku saat itu. Ayah menjawab, itu pertanyaan untuk menguji sejauh mana kau bisa menarik kesimpulan pada suatu objek. Kebetulan objek yang ditanyakan adalah kursi. Beliau menambahkan bahwa tidak penting kursi kakinya empat atau berapapun jumlahnya, karena faktanya ada juga kursi yang kakinya tiga, dua, dan satu. Pertanyaan itu sebenarnya mau memberitahu kalo selain kursi yang kakinya empat, ada juga kursi yang kakinya tiga atau dua atau satu. Dan semua berfungsi sebagai tempat duduk. Pertanyaan itu sebenarnya mau berkata kalo belajar itu jangan hanya dari satu sumber, banyak sumber lain yang bisa digunakan agar penilaian kita lebih objektif dan dapat dipertanggung jawabkan secara akademik.

Sejalan dengan jawaban ayahku, bagaimana bisa pengguna twitter yang antipati terhadap lirik dari lagu tersebut berkomentar dan memberi predikat seakan-akan kita semua lahir dengan pendewasaan dan lingkungan yang sama. Seakan-akan asupan pengetahuan yang Soegi Bornean cs dan yang mereka dapatkan itu sama. Jika anda berpikir saya, kamu, dia, dan mereka terbentuk dengan wawasan yang sama maka ada yang salah dengan persepsi anda dalam memahami dinamika kehidupan. Padahal waktu SD, guru bahasa Indonesia sudah mengajarkan tentang bagaimana kita harus bertenggang rasa sebagai makhluk sosial.

Permasalahan yang ingin ku utarakan selanjutnya adalah dari user yang pro terhadap lagu tersebut. Setelah membahas user yang antipati, ku rasa akan lebih berimbang jika ku bahas tentang komentar user yang pro juga. Begini, membandingkan lagu yang berbahasa Indonesia dengan lagu yang berbahasa Inggris adalah kekeliruan. Kenapa? Karena sastra Indonesia dan sastra Inggris itu berbeda. Maksudku tidak apple-to-apple jika kita membandingkan karya berbahasa Indonesia dan karya berbahasa Inggris. Penggunaan bahasa dalam bahasa Inggris merujuk pada konteks yang dituju, contoh: kata ‘When’ memiliki dua arti dalam bahasa Indonesia, yaitu ‘Kapan’ dan ‘Ketika’.

Di sisi lain dalam bahasa Indonesia ‘Kapan’ dan ‘Ketika’ itu penggunaannya juga berbeda. ‘Kapan’ mendeskripsikan latar belakang waktu suatu objek yang sudah atau belum terjadi, misalnya “Kapan kau berangkat ke Makassar? Kapan kejadiannya?”. Sementara itu ‘Ketika’ mendeskripsikan latar belakang waktu suatu objek yang sementara terjadi atau sedang berjalan, misalnya “Ketika lampu rumah menyala berarti ibu sudah pulang dari kantor”. Contoh lainnya seperti “She’s living next door”. Kalo di artikan ke dalam Bahasa Indonesia maka artinya adalah “Dia tinggal setelah pintu”, yang mana arti ini akan sangat membingungkan. Padahal, dalam bahasa Inggris konteks kalimat tersebut adalah “Dia tinggal di rumah sebelah”. Berdasarkan asumsi ini, ku rasa akan sangat keliru jika kita membandingkan lagu-lagu berbahasa Indonesia dengan lagu-lagu berbahasa Inggris.

Puitis,

Beberapa komentar di twitter juga memberikan penilaian kalo lagu-lagunya Soegi Bornean sangat puitis. Mari kita berbicara tentang puisi dan puitis..

Sejujurnya diriku menyukai puisi namun tidak ahli dibidangnya. Pengetahuanku tentang puisi pun kurasa berada pada kisaran kurang hingga menengah-kurang. Untungnya, asiknya puisi bisa dinikmati meskipun kau bukan lulusan fakultas Ilmu Budaya. Diriku selalu mengartikan lagu sebagai puisi yang ditambahkan nada sehingga orang lebih tertarik untuk menikmatinya ketimbang puisi murni. Karena keunikannya lah yang akhirnya membuatku memiliki standar tersendiri untuk menilai suatu lagu itu bagus untukku atau tidak. Kalo kata pamanku lagu yang bagus itu yang chordnya lebih dari empat. Tapi ku rasa itu akan sulit sekali untuk menentukannya karena fakta yang terjadi membuktikan kalo ada juga lagu yang bagus meski chordnya hanya empat, bahkan ada lagu yang bagus walaupun hanya menggunakan dua chord seperti Something in The Way dari Nirvana. Untukku pribadi setidaknya ada tiga hal yang ku perhatikan pada suatu lagu: lirik yang bagus (kalo puitis jadi lebih bagus), nada yang bagus, dan bagaimana lagu tersebut mempengaruhi rasa yang dimiliki pendengarnya.

Berbicara lagu dengan lirik yang bagus + puitis akan sangat berdosa diriku jika tidak menyebut nama Superman Is Dead (SID). Trio brandal sektor Punk Rock asal pulau Dewata itu adalah ‘pihak’ pertama yang membuka mataku kepada hal-hal yang paling tidak pernah dibicarakan oleh orang-orang di sekelilingku. Penyeragaman, perbedaan, diskriminasi, dsb. Bagaimana kita hidup dan berkompromi terhadap perbedaan yang timbul antara satu manusia dan manusia lainnya, bagaimana seharusnya kita menyikapi mereka yang tidak sepaham, sejalan, seagama, dan sejati dengan kita, serta bagaimana jika kita sebagai pihak yang di ‘paksa’ kalah karena minoritas berjuang untuk tetap hidup ditengah mereka yang seragam. Dan harus ku akui isu-isu tersebut berhasil mengantarkanku pada transisi pendewasaan dalam hidupku. Di titik ini lah karya-karya SID menyentuh ‘rasa’ ku dan hal ini ku akui cukup mempengaruhi perspektif yang ku anut.

Kembali pada lirik yang bagus-puitis, jika anda adalah pendengar setia karya-karya SID, anda tidak akan asing dengan:

“Dadu terbakar

Setan kau kan ku sambut

Merah berkilau

Mengotori jantungku”

Penggalan lirik di atas adalah lirik dari salah satu karya SID yang ku favoritkan, Menginjak Neraka. Yang kalo boleh, ku interpretasikan sebagai manifestasi dari keputusasaan. “Dadu terbakar” menyiratkan peluang yang hilang, “Setan kau kan ku sambut” menggambarkan pengorbanan manusia yang putus asa menunggu pertolongan Tuhan. Dalam beberapa referensi, Setan selalu diperlihatkan dengan warna merah dan betapa silaunya manusia hingga gampang terbujuk rayuannya. “Mengotori Jantungku” mendeskripsikan pengaruh yang ditimbulkan dari bujuk-rayu tersebut dari ujung kaki ke ujung kepala. Dan lagu yang keren adalah lagu yang isi nya berhasil mewakili judulnya, Menginjak Neraka.

Maksud dan tujuanku mengambil contoh dari SID adalah seharusnya ketika seorang musisi menulis lirik yang bersifat puitis, ia harus bisa membedakan “Kalimat yang puitis” dan “Kata yang puitis”. Untuk saya, lagu dengan “Kata yang puitis” cenderung susah untuk dinikmati. Berbeda sama lagu dengan “Kalimat yang puitis”, contoh lagu Menginjak Neraka di atas. Lagu tersebut menggunakan “Kalimat yang puitis” sehingga pendengarnya bisa memahami apa yang SID ingin sampaikan. Tidak ada diksi-diksi berat seperti elegi, ode, gulana, dll. Semua murni bahasa Indonesia yang digunakan sehari-hari. Tetap indah didengar dan diucapkan karena perpindahan satu kalimat berbeda ke kalimat lain yang berbeda pula menyiratkan metafora yang sama: keputusasaan. Sementara lagu dengan “Kata yang puitis” untukku akan membuat interpretasi cenderung kabur dari esensi lagu itu sendiri.

Pastinya masih banyak musisi-musisi lain yang karya seninya menggunakan “Kalimat yang puitis” dalam menulis lagu dari skena independen macam Melancholic Bitch/Majelis Lidah Berduri, Fourtwnty, Efek Rumah Kaca, hingga band-band raksasa macam Dewa 19, Noah, Padi, dll. Tapi akan sangat panjang tulisan ini jika ku bahas lagu-lagu mereka satu persatu. Alih-alih mengadopsi “Kata yang puitis”, kenapa tidak teman-teman musisi sekalian menulis lirik dengan “Kalimat yang puitis”? Jangkauan pendengarnya pun pastinya lebih luas dari musisi yang menggunakan “Kata yang puitis” pada lagu-lagunya. Jika bosan dengan dengan “Kalimat yang puitis”, tulis saja dengan “Kalimat yang lugas” seperti lagu-lagunya Shaggy Dog, Endank Soekamti, Rocket Rockers, Tipe-X dll. Dengan lagu yang tidak puitis pun mereka tetap besar, fans-fansnya fanatik, dan yang terpenting mereka tetap keren tanpa embel-embel sastra. Banyak jalan menuju Roma.

Tentu saja diluar semua itu ada yang namanya idealisme, kita tidak bisa menafikkan itu. Dan pastinya semua musisi lebih paham ukuran idealnya mereka masing-masing. Namun apa asiknya kalo yang bisa menikmati lagu-lagu tersebut hanya segelintir orang saja? Jrx pernah berbicara di salah satu wawancara SID yang saya lupa kapan terjadinya (mungkin sekitaran tahun 2007-2008), doi bilang “Seidealis-idealisnya musisi pasti ingin lagu-lagunya didengarkan orang juga”. Terlepas dari apapun metode penulisan lagunya, ku rasa dunia harus tetap berputar.

Jadi intinya ada hal-hal yang perlu dikompromikan seperti bagaimana suatu karya seni dapat diterima oleh orang-orang, bagaimana sisi ke-aku-an musisi yang terkadang harus tarik-ulur antara idealisme dan permintaan pendengar dan ada hal yang tidak bisa diberi kompromi seperti komentar-komentar yang menyerang isi kepala seseorang apapun bentuk dan tujuannya.

So far, semua kembali ke pribadi masing-masing. Karena seperti apapun bentuk tulisan ini tidak akan signifikan mempengaruhi teman-teman musisi dalam mencipta. Tulisan ini tidak di desain untuk menjustifikasi semua pihak disebutkan sebagai penyaluran opini yang salah. Tulisan ini hanya mencoba berbagi perspektif penulis yang lelah melihat, membaca, dan mendengar perdebatan tidak bermutu tentang ciptaan-ciptaan tidak sempurna yang diciptakan oleh manusia yang tidak sempurna pula.

Cheeeeerrrrsss!!🍻

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pedagogi Dosa #9: Ceteris Paribus (Ludens Yang Mempecundangi Kejujuran)

Pedagogi Dosa #11 Moral Hazard Dalam Baju Nasionalisme

Pedagogi Dosa #12: Collateral Damage dan Ketidakbergunaan Perang