Terima Kasih Rajah Langit..
Kendari, 8 Februari 2023
Akhirnya..
Setelah empat tahun menggunakan Rajah Langit sebagai deskripsi wadah tulisan-tulisan yang ku pakai secara sungguh-sungguh, ku rasa tiba saatnya untuk berhenti menggunakan istilah ini pada setiap ‘wadah-wadah’ yang akan ku ciptakan di waktu-waktu sekarang dan yang akan datang. Cukup mempengaruhi rasa untukku saat membuat keputusan ini mengingat banyaknya tulisan ku lahir di bawah nama ini. Masa-masa belajar menulis, belajar menyalurkan opini yang tidak sempat keluar, dan keluhan-keluhanku pada semesta yang sepertinya, karena hal itu, tetap membuatku waras hingga detik ini.
Rajah Langit secara resmi ku publikasikan sekitaran tahun 2018 dengan essay perdana: Bad boy dalam perspekif ruang publik untuk menggantikan #Coraks (Catatan Opini Raks) yang biasa ku posting di Instagram. Alasannya, setelah beberapa lama ku pandangi dan ku renungkan (iya direnungkan, waktu itu masih takjub sendiri kalo diriku bisa menulis seperti itu:D) ternyata kepanjangan #Coraks terlalu ‘narsis’ untuk ku. Maksudku, Catatan Opini Raks, membuat ku bertanya-tanya: Saya siapa? Apa korelasi masalah orang-orang dengan tulisanku? Dan siapa juga yang mau menghabiskan beberapa menit untuk membaca opiniku? yang (sudah pasti) tidak bisa menjadi patokan solusi untuk orang banyak, pungkasku hahaha.
Seperti yang telah ku katakan, secara resmi penggunaan nama/istilah Rajah Langit ku gunakan dimulai pada tahun 2018, secara teknis nama/istilah ini ku temukan lebih lama dari itu. Sekitaran tahun 2003-2004 sebelum pindah dan mantap menetap di Kendari, ibuku membelikan ku majalah Angkasa (majalah penerbangan dan militer udara) karena ibuku tahu sejak kecil mataku selalu berbinar-binar kalo melihat pasawat terbang. Di majalah itu ada artikel yang berjudul “Ancaman Rajah Langit”, berisi tentang (kalo tidak salah ingat) kritik chemtrails/contrails pada pesawat terbang. Chemtrails/contrails adalah fenomena jejak asap putih di udara sebagai akibat dari emisi mesin pesawat terbang. Sejak baca artikel tersebut, diriku selalu terngiang dengan istilah Rajah Langit hingga bertahun-tahun kemudian dan akhirnya ku gunakan untuk memggambarkan medium semua keluhanku yang tidak pernah tersampaikan di ruang publik.
Dan sekarang.. setelah lima tahun ku rasa sudah waktunya untukku menggunakan nama/istilah yang ku buat sendiri mengingat Rajah Langit adalah potongan judul sebuah artikel yang tidak pernah ku tulis. Lumayan banyak tulisanku terbit di bawah nama/istilah ini dan cukup berkesan dengan beberapa tanggapan teman-temanku tentang Rajah Langit ini. Nama/istilah yang menjadi trigger pertamaku bahwa kita harus terus ‘membaca’ apapun yang terlihat, yang terasa, dan yang tersimpulkan, karena istilah semacam ini tentu tidak akan kau dapatkan dibuku pelajaran sekolah saja, gumamku waktu kecil.
Selamat Datang Lema Antagonis
Lema Antagonis atau secara etimologi ku artikan sebagai “Pemaknaan Alternatif Kata Antagonis” adalah istilah yang ku buat berdasarkan opiniku yang berpendapat: “tidak ada tokoh atau karakter protagonis/hero di dunia nyata” terhadap konsep Dramaturgi-nya Erving Goffman (1959) dan dicontohkan secara fiksional oleh novel-novel karangan George R. R. Martin serta divisualisasikan melalui series Game of Thrones (2011) dan House of The Dragon (2022). Istilah ini ku ambil dari Bahasa Inggris; Anti-Villain (dengan beberapa penyesuaian) tentang pembagian penokohan karakter dalam pertunjukan teater. Terinspirasi dari sosok Daemon Targaryen (The Rogue Prince) dengan tangan penuh ‘darah’ berusaha membuka mata kakaknya Raja Viserys Targaryen tentang parasit-parasit yang menjangkiti kerajaan.
Bagi yang membaca artikel terakhirku sebelum tulisan ini rilis, ku rasa sedikit/lebih akan mengerti mengapa diriku menggunakan istilah Lema Antagonis. Pokok pikirannya adalah manusia hidup di dunia ini untuk menyandang predikat Antagonis dan turunannya dengan asumsi tidak ada tangan yang bersih untuk mencapai suatu tujuan. Akan selalu ada yang dikorbankan untuk itu. Dan jangan pernah berharap untuk dipandang sebagai pahlawan untuk mereka yang kau korbankan.
Di sisi lain diriku melihat diksi Antagonis sebagai sesuatu yang menggambarkan wajah dunia yang sebenarnya di tengah-tengah cerita prestise heroik, kehormatan, dan kebenaran satu arah yang umum kita jumpai di masyarakat. Pernah ku ceritakan di twitter tentang kilas balik ku menyadari bahwa tidak selamanya manusia mampu menjaga orang-orang terkasihnya dari hal-hal yang bersifat negatif. Saat itu ku lihat ada seorang temanku yang merokok pas disamping balita. Ku katakan padanya untuk mematikan rokoknya karena ada anak kecil disini. Dan dia menjawab: ‘Tell them that this is the real world motherfucker. You can’t protect your kids every second, every minutes, every hours, and every day. They have to deal with it and fixed it by themself’. Sejujurnya, percakapan itu mempengaruhi rasa yang ku dapat. Bukan sesuatu yang baik untuk di contoh tetapi seperti itulah dunia nyata.
Dan tidak tahu mengapa, di umur yang menginjak tahun ke 27 ini diriku cenderung mengejek jika mendengar/membaca konten, status, atau narasi yang berbau persatuan, nasionalisme, moral, etika, kritik yang ditulis tidak berdasarkan disiplin ilmu, kritik yang diucapkan tidak berdasarkan kepakaran/keahlian pada objek yang dikritik tersebut, dan opini-opini yang menyalahgunakan istilah ‘By data’. Sampai detik ini, kriteria kritik yang baik dan yang masih ku pakai hingga saat ini adalah kritik yang memiliki unsur etimologi dari #pedagogidosa: “Tidak menutup mata pada kebaikan-kebaikan yang dihasilkan dari hal yang bersifat kontroversi sekalipun”. Karena opini, esai, tulisan yang dipublikasikan (terutama tulisan dari teman-teman ku yang ‘katanya’ aktivis), yang pernah ku baca benar-benar mengesampingkan faktor X, seperti: Keadaan, Situasi, dan Kondisi dimana faktor X tersebut, suka-tidak suka tidak dapat disalahkan.
Lema Antagonis hadir untuk mewadahi tulisan-tulisan sejenis #pedagogidosa yang tidak ingin dibaca orang tetapi berusaha untuk tidak menutup mata pada kebaikan-kebaikan yang dihasilkan dari hal-hal yang kontroversi sekalipun. Dan kebaikan-kebaikan itu ku salurkan melalui tulisan yang tentunya tetap bersifat subjektif. Sehingga kita tidak perlu fanatik untuk berobsesi pada kebaikan yang bersifat adiluhung.

Komentar
Posting Komentar